logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 NASIONAL
Line

Pak Ud: Islah Gus Dur-Hasyim lewat Munas Ulama

SURABAYA-Tokoh senior NU KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) mengusulkan perlunya ada musyawarah nasional (munas) alim ulama untuk membahas islah (perdamaian) atas konflik antara kubu cucu pendiri NU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kubu Ketua Umum PBNU KH Drs A Hasyim Muzadi.

"Untuk mengatasi konflik, saya kira perlu ada islah, karena itu perlu ada munas alim ulama yang diikuti seluruh ulama dari kedua kubu untuk membahas hal itu," katanya di Surabaya, Minggu, saat menanggapi konflik berkepanjangan pasca-Muktamar Ke-31 NU di Dobohudan Boyolali.

Menurut satu-satunya putra pendiri NU KH Hasyim Asy'ari yang masih hidup itu, konsep islah yang memungkinkan antara lain dengan menempatkan Gus Dur dan Hasyim Muzadi di struktur NU dalam posisi yang tak memiliki kewenangan, misalnya mustasyar (penasihat).

"Yang jelas, islah itu tak mungkin dilakukan Gus Dur dan Hasyim, karena itu perlu ada munas alim ulama untuk membahas sejumlah konsep islah yang paling memungkinkan dan nanti dapat ditawarkan kepada Gus Dur dan Hasyim," katanya.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, itu mengatakan, munas alim ulama untuk mengupayakan islah antara Gus Dur dan Hasyim Muzadi itu dapat diprakarsai Rois Aam PBNU KHMA Sahal Mahfudh dengan mengundang ulama NU se-Indonesia dan kiai sepuh (ulama senior) yang selama ini mendukung Gus Dur.

Rugikan NU

Secara terpisah, Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar menyatakan, pembagian NU atas kelompok jam'iyyah dan jama'ah atau struktural dan kultural merupakan dikotomi yang merugikan NU, karena yang benar adalah organisasi NU dan anggota NU.

"Kalau perkembangan pasca-Muktamar Ke-31 NU dikembangkan dengan perpecahan struktural dan kultural juga sangat merugikan NU, karena itu perbedaan pendapat pascamuktamar harus dilihat secara norma, karena muktamar memang tak mungkin memuaskan semua orang, apalagi semua orang harus mempunyai satu pendapat," katanya.

Pengasuh Pesantren Miftakhus Sunnah Surabaya itu menambahkan, perbedaan pendapat di NU memang harus dipelihara, tapi perbedaan pendapat itu harus dengan menjunjung tinggi aturan main organisasi, karena supremasi ulama juga telah diwakilkan dalam AD/ART NU.

Berdasarkan catatan, sejumlah ulama pendukung Gus Dur antara lain KH Abdullah Faqih (Tuban) sepakat dengan mufarraqoh (memisahkan diri) dari PBNU dan tak menginginkan PBNU tandingan, KH Chotib Umar (Jember) memilih keluar dari kepengurusan PWNU Jatim dan PCNU Jember, dan Gus Solahuddin Wahid (adik Gus Dur) dan Pak Ud memilih untuk terlibat dalam proses islah.(ant-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA