| Senin, 20 Desember 2004 | NASIONAL |
62 Tewas DibomKARBALA - Pelaku bom mobil menyerang dua kota suci utama Syiah di Irak, Karbala dan Najaf, menewaskan sedikitnya 62 orang dan melukai sejumlah lainnya Minggu kemarin, enam pekan menjelang pemilihan bersejarah di negara Teluk itu. Kedua bom tersebut, yang diledakkan selang dua jam, meledak di dekat terminal bus yang ramai, dalam satu upaya yang tampaknya dikoordinasi untuk menimbulkan pertumpahan darah lebih lanjut di antara kaum Syiah. Ledakan-ledakan itu terjadi tidak jauh dari masjid utama - masjid Imam Ali di Najaf dan Imam Hussein di Karbala. Serangan tersebut tampaknya dirancang untuk memprovokasi konflik sektarian dengan minoritas Suni yang lama mendominasi kekuasaan Saddam Hussein. Para pejabat melihat motif serupa di balik serangan-serangan sebelumnya di kota-kota itu. Di Karbala, rumah sakit utama menyatakan, 14 orang tewas dan paling tidak 34 lainnya terluka, namun seorang pejabat menekankan bahwa jumlah itu baru sementara dan bisa bertambah. Di Najaf, pelaku bom jibaku meledakkan kendaraannya sekitar 300 meter dari masjid Imam Ali, dekat kerumuan orang yang antre menunggu bus dan taksi, dan tidak jauh dari kantor-kantor yang ramai. Seorang petugas rumah sakit mengatakan paling tidak 11 orang tewas dan 18 lainnya terluka di Najaf. Yang Kedua Serangan di Karbala merupakan yang kedua dalam lima hari di Karbala, lokasi dua masjid utama Syiah. Serangan tersebut menjadikan kota itu pusat kekhawatiran bahwa militan Suni akan mengeksplotasi perselisihan sektarian untuk menimbulkan kekacauan menjelang pemilihan di Irak 30 Januari mendatang. Rabu lalu, sebuah bom yang tampaknya ditujukan pada ulama Syiah Abdul Mehdi al-Kerbalai, meledak saat dia pulang dari kantornya seusai shalat azar di masjid Imam Hussein. Bom kemarin itu meledak hanya beberapa ratus meter dari masjid tersebut. Sepuluh orang, termasuk empat pengawal Kerbalai, tewas dan lebih dari 30 lainnya terluka dalam serangan Rabu lalu. Korban luka termasuk ulama itu, yang dianggap dekat dengan otoritas Syiah tertinggi di Irak, Ayatollah Ali al-Sistani. Insiden itu merupakan serangan besar pertama di kota itu sejak Maret lalu, ketika bom-bom jibaku terkoordinasi selama festival agama tahunan menewaskan lebih dari 90 orang. Aksi tersebut diduga dilakukan oleh militan Suni, Abu Musab al-Zarqawi, warga Yordania yang bersekutu dengan Al Qaedah. Petugas Pemilihan Dibunuh Di Bagdad, para gerilyawan menarik tiga petugas Komisi Pemilihan Irak dari sebuah mobil dan menembak mereka hingga tewas, serangan terbaru yang dimaksudkan untuk mengacaukan pemilihan. Juru bicara Komisi Pemilihan menjelaskan, tiga petugas yunior dibunuh dalam serangan itu, namun belum jelas apakah merekalah sasarannya karena mereka bekerja dengan komisi tersebut, yang bertugas melaksanakan pemilu bulan depan. ''Kami tidak tahu apakah mereka menjadi sasaran utama,'' jelas juru bicara tadi yang juga anggota dewan Komisi, Farid Ayar. Saksi mata menuturkan, para gerilyawan melepaskan tembakan ke arah mobil itu sebelum menarik tiga orang keluar dari kendaraan itu dan menembaknya. Mobil tersebut dibakar dan ketiga mayat dibiarkan tergeletak di dekat kerangka mobil tersebut. Gerilyawan yang bersenjatakan senapan serbu AK-47 dan pistol kemudian membentuk perintang jalan, mencegat dan memeriksa setiap mobil yang lewat, dengan mengarahkan senapan mereka lewat jendela mobil. Bagian Strategi Menurut saksi mata, bentrok senjata sengit terjadi saat polisi berusaha mendatangi tempat terjadinya serangan. Helikopter-helikopter militer AS terbang rendah memeriksa daerah itu, yang disertai tembakan senjata dan ledakan kecil, kata penduduk setempat. Jalan Haifa, di tepi barat sungai Tigris, merupakan lokasi sejumlah kompleks apartemen yang dibangun Saddam Hussein bagi orang-orang yang disukainya. Mantan loyalis rezim itu diyakini telah membangun kubu di daerah itu selama 18 bulan terakhir. Sejumlah pejabat AS dan Irak memperingatkan bahwa serangan-serangan akan meningkat menjelang pemilihan, pemilu demokrasi pertama Irak dalam sekitar setengah abad. Kekhawatiran meningkat bahwa upaya-upaya akan dilakukan untuk menimbulkan perselisihan sektarian. Bom-bom di Karbala dan Najaf dianggap sebagai bagian dari strategi itu, namun sejumlah politikus Syiah mengatakan mereka tidak akan terprovokasi. Sejumlah petugas pemilihan menyatakan 14 dari 18 provinsi di Irak cukup aman untuk mengadakan pemilihan yang bebas dan adil, namun kerusuhan di daerah lainnya - sebagian besar dihuni Arab Suni - menyebabkan organisasi-organisasi Suni menyerukan penundaan pemilihan. Mereka khawatir kelompok Suni, yang didukung selama kekuasaan Saddam - tidak terwakili secara penuh dalam pemilu. Pemilihan itu diperkirakan akan membawa partai-partai dari 60 persen mayoritas Syiah di Irak ke tampuk kekuasaan. Kelompok Syiah ditindas selama beberapa dasa warsa oleh bekas rezim Saddam. Sementara itu, rekaman video yang disiarkan saluran televisi berbahasa Arab, kemarin, menunjukkan militan Irak mengancam membunuh 10 orang Irak yang mereka sandera kecuali jika perusahaan AS tempat mereka bekerja meninggalkan negara Teluk itu. Rekaman tersebut, yang disiarkan televisi Al-Arabiya dan Al-Jazeera, dikaitkan dengan tiga kelompok gerilyawan Irak dan memperlihatkan sandera yang matanya ditutup duduk menghadap tembok. Saluran televisi itu melaporkan orang-orang yang disandera itu bekerja untuk perusahaan keamanan AS, namun tidak menyebutkan namanya.(rtr-niek-46) |