| Senin, 20 Desember 2004 | NASIONAL |
Akbar Mengaku Dikeroyok
NUSA DUA-Usai penghitungan suara, Akbar Tandjung tampak sangat lelah. Hanya suara pelan yang keluar ketika sejumlah wartawan menemui di penginapan The Westin Resort Nusa Dua, Bali. Tentang kekalahannya berebut kursi Ketua Umum Partai Golkar dengan Jusuf Kalla, dia mengaku heran melihat seterunya dari berbagai pihak ''mengeroyoknya''. ''Saya seperti dikeroyok melihat mereka turun semua untuk melawan saya,'' kata Akbar Minggu kemarin, mengomentari kekalahannya. Sebelum pemilih an ketua umum, Akbar dan Jusuf Kalla menyampaikan visi dan misi. Akbar lebih dulu menyampaikan pidatonya dalam acara yang dipimpin oleh Abdul Ghafur. Akan tetapi ketika Jusuf Kalla sudah menyampaikan visi dan misinya, Abdul Ghafur mengatakan Kalla masih memiliki waktu lima menit. Saat itu Kalla naik ke podium lagi. Dengan atraktif, dia unjuk kekuatan. Satu per satu dia menyebut nama-nama pendukungnya yang duduk di deretan depan. Nama yang disebut berdiri dan mendapat sambutan peserta munas. Mereka adalah Surya Paloh, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Agung Laksono, Muladi, Aburizal Bakrie, Prabowo Subiyanto, serta Ginandjar Kartasasmita. Tampak pula Wiranto yang menjadi sekutu Akbar dalam perebutan kursi ketua umum kali ini. Istri Akbar, Nina Maharani, yang mendampingi Akbar dalam pertemuan dengan wartawan tak kuasa menahan air mata. Dia telah menduga suaminya tidak akan menang. ''Lawannya sangat besar. Tetapi saya tidak mengatakan kepadanya karena saya ingin terus membesarkan jiwanya,'' kata dia sambil mengusap air mata yang meleleh di pipi. Munas Ke-7 Partai Golkar di Nusa Dua Bali yang mengukuhkan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2004-2009 itu berlangsung lancar. Kalla menang telak dengan memperoleh 323 suara, sedangkan Akbar Tandjung hanya mendapat 156 suara dari 482 suara. Dua suara tidak menggunakan hak pilihnya, yaitu DPP dan Kota Manado, serta suara yang tidak sah ada tiga. Para pendukung Kalla bersorak gembira ketika perhitungan telah meraih 242 suara atau lebih dari 50%. Sementara itu, Marwah Daud terpaksa ''diekstradisi'' karena hanya mendapat 13 suara atau kurang dari 30%. Pada penjaringan calon ketua umum, Kalla mendapat 269 suara, sedangkan Akbar 191 suara. Dua calon yang memperoleh lebih dari 30% suara berebut kembali untuk mendapatkan suara terbanyak. Dan, Kalla memenanginya dengan suara mutlak. Suara tidak sah pada penjaringan terdapat tujuh suara, sedangkan abstain 2 suara. Persaingan suara kedua calon berbeda jauh pada penjaringan dan pemilihan. Bila pada penjaringan Kalla dan Akbar perolehan suara relatif ketat, pada pemilihan Kalla melejit jauh meninggalkan Akbar. Pada sepuluh perhitungan pertama, Akbar hanya mendapat dua suara. Kalla terus berkibar hingga hitungan ke-100. Saat itu pendukungnya menyemangati dengan teriakan ''JK terus, JK terus, terus....'' Perolehan suara Kalla yang akrab dipanggil pendukungnya dengan JK (singkatan Jusuf Kalla) terus bertambah, sedangkan Akbar terdengar satu sampai tiga suara. Perhitungan suara terus dilanjutkan ditimpali dengan kegembiraan pendukung Kalla. Di sisi lain, Akbar Tandjung hanya bisa tertunduk di kursinya. Kedua belah tangannya dikatupkan di hidungnya. Istrinya, Nina Maharani, yang setia duduk di samping Akbar sejak awal hingga selesainya perhitungan suara, beberapa kali mengajaknya berbicara. Besar perolehan suara Kalla sudah mulai terasakan saat kedua calon menyampaikan visi dan misinya. Akbar lebih menekankan Golkar harus dipimpin oleh kader yang memiliki waktu dan perhatian besar terhadap Golkar. Saat menyampaikan hal itu sejumlah pendukungnya memberikan applaus. Berbalik Dukungan Giliran Kalla naik ke podium, tapuk tangan terdengar jauh lebih banyak. Kalla menegaskan dirinya akan memberikan perhatian besar kepada Golkar, meskipun sekarang duduk sebagai Wakil Presiden RI. Dia menekankan, Golkar harus dipimpin oleh seseorang yang memiliki integritas, jujur, dan bersih. Applaus kembali bergema di ruang pemilihan dengan teriakan ''JK, JK, JK....'' Persaingan Kalla dan Akbar menuju kursi puncak partai berlambang pohon beringin itu terus berkembang dalam arena munas. Akbar diprediksikan unggul menyusul ada perubahan tata tertib, yaitu DPD II memiliki hak suara. Dengan demikian, dalam munas itu diperebutkan 484 suara terdiri atas DPP satu suara, DPD I sebanyak 33 suara, unsur organisasi sayap (AMPG dan KPPG) dua suara, unsur ormas pendiri (SOKSI, Kosgoro 1957, MKGR) tiga suara, dan ormas yang didirikan (AMPI, MDI, HWK, Al Hidayah, dan Satkar Ulama) lima suara, serta DPD II 440 suara. Dukungan mulai berbalik arah setelah dalam pembahasan AD/ART menyetujui ada perubahan dalam Bab V Pasal 6. Perubahan itu menyangkut disetujui ada wakil ketua umum dan pengurus harian. Persetujuan peserta munas itu terlihat untuk mengakomodasi kepentingan Kalla yang telah membentuk paket Kalla (ketua umum), Agung Laksono (wakil ketua, dan Surya Paloh (ketua dewan penasihat). Seusai perhitungan suara, Kalla dan Akbar saling berangkulan. Pemilihan lancar, meski sempat diwarnai isu politik uang. Seusai memenangi pemilihan, Kalla langsung membentuk tim formatur untuk menyusun kepengurusan Partai Golkar 2004-2009. (Tim SM-83t) Pengurus DPP Golkar 2004-2009 Ketua Dewan Penasihat: Surya Paloh Anggota: 1. Aburizal Bakrie 2. Sri Sultan HB X 3. Fahmi Idris 4. Prabowo Subianto 5. Abdul Ghafur 6. Siswono Yudho Husodo 7. Tanri Abeng 8. Nana Sutrisna 9. Djafar Assegaf 10. Yan Darmadi 11. Tuti Aditama 12. Eki Syachrudin 13. Saleh Sahbudi 14. Sarosa 15. Cicip Subarjo 16. Ismail Suni 17. Hatta Mustafa Ketua Umum: Jusuf Kalla Wakil Ketua : Agung Laksono Sekjen: Soemarsono Wakil : Prijo Budi Santosa Nur supit TM Nuril Katomi Ashari TB morin Bendahara : A Dara Tadile Wakil : Paska Suseta Bobi SH Suhardiman Erlangga Hartarto Atut Ratu Khosiah Edward Suryadi Suryajaya Suhaeli Kalla Umpida Hidayatullah Ketua Bidang Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi : Syamsul Muarif Kerua Bidang Hukum, HAM, dan Otda : Muladi Ketua Bidang Hubungan dan Kominfo : Theo L Sambuaga Ketua Bidang PU dan Perumahan Rakyat : Burhanuddin Napitupulu Ketua Bidang Ekonomi dan UKM : Tadjuddin Nursaid Ketua Bidang SDM : Endriasto Lukito Ketua Bidang Peranan Perempuan : Yuniwati M Sofwan Ketua Bidang Keagamaan : Yahya Zaini Ketua Bidang Diknas dan Ristek : Yamin Tawari Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri : Agung Gumilang Ketua Bidang Tani, Hutan, Laut dan LH : GPH Joyokusumo Ketua Bidang Pemenangan Pemilu : Andi Matalata Ketua Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Aliwongso (Tim SM-83) |