| Senin, 20 Desember 2004 | SEMARANG |
TKW Asal Kendal Tewas di Malaysia
KENDAL- Wahyuni (18), seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal RT 2 RW 5 Dukuh Dodogan, Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, Kendal dilaporkan meninggal di Malaysia. Wahyuni dilaporkan tewas akibat mobil yang ditumpangi bersama majikannya di Malaysia mengalami kecelakaan. Namun, hal itu tampaknya belum membuat puas orangtuanya. "Kami akan meminta pihak terkait untuk melakukan autopsi jenazah Wahyuni di RSUP Kariadi, Semarang supaya penyebab meninggalnya putri sulung kami dapat diketahui secara pasti," kata Sumejo (46) ayah korban saat ditemui di rumahnya Dukuh Dodogan, Purwokerto, kemarin. Ditambahkan, informasi meninggalnya putri sulung dari tiga bersaudara tersebut diterima dari seorang utusan perusahaan pengerah tenaga kerja (PJTKI) "SP" yang beralamat di Medan, dan disebut-sebut bernama Har. "Jum'at (17/12) pukul 21.30, Pak Har bersama Kades Purwokerto Sukadi datang ke rumah kami. Mereka memberitahukan bahwa Wahyuni meninggal di sebuah rumah sakit di Malaysia pada Jum'at siang." Utusan PJTKI itu menjelaskan, Wahyuni meninggal setelah dirawat di rumah sakit tersebut sejak 26 November lalu. "Pak Har mengatakan, Wahyuni dirawat di rumah sakit karena menderita luka-luka, akibat mobil yang ditumpangi bersama majikan perempuan dan anaknya bertabrakan. Majikan dan anaknya me ninggal seketika dalam kecelakaan itu. Guna mengetahui kebenaran informasi itu kami akan meminta pihak terkait agar mengautopsi jenazah Wahyuni." Sumejo yang cukup tabah mendengar kabar duka anaknya itu, mengaku menyesalkan pihak PJTKI "SP" yang baru menginformasikan musibah setelah anaknya meninggal dunia. "Mestinya PJTKI memberitahukan kami setelah Wahyuni mengalami kecelakaan lalu lintas dan dirawat di rumah sakit. Hingga kini, kami belum mengetahui secara pasti di daerah mana Wahyuni bekerja di Malaysia, dan siapa majikannya. Kami juga tidak tahu rumah sakit tempat Wahyuni dirawat." Misteri Surat Wahyuni Lebih lanjut dijelaskan, Wahyuni berangkat menjadi TKW karena diajak oleh Siatun, yang juga tetangganya di Kampung Dodogan, Dia kemudian memberangkatkan Wahyuni, bersama seorang wanita di Kampung Dodogan ke Malaysia pada April silam melalui PJTKI SP Medan. "Menurut Pak Har, jenazah Wahyuni hari ini sudah diberangkatkan dari Malaysia. Diperkirakan jenazah akan tiba di rumah besok siang (Selasa, 20/12). Selama lebih kurang merantau delapan bulan menjadi TKW, Wahyuni belum pernah mengirim uang. Selama merantau di Malaysia itu pula Wahyuni hanya sekali berkirim surat kepada kami," kata Sumejo yang sehari-hari bekerja sebagai buruh proyek itu didampingi istrinya Ny Sumiyem (40). Ibu tiga anak itu tampak shock, dan lebih banyak berdiam diri. Sementara itu surat yang dikatakan Sumejo merupakan satu-satunya surat yang dikirim anaknya selama delapan bulan merantau tampak mengandung "misteri". Surat tertanggal 19 September 2004 itu tidak tertera nama kota, tanda-tangan dan nama Wahyuni di dalamnya. Isi selembar surat yang ditulis tangan dengan pena warna biru, oleh alumnus SMP PGRI Kendal tersebut awalnya memberitahukan keadaannya di perantauan baik- baik saja. Meski memberitahu nomor telepon rumah majikannya di Malaysia yaitu "769.1084" (tanpa kode negara atau wilayah-Red), namun dalam tulisan surat nya Wahyuni berulang-ulang melarang orangtuanya untuk menghubungi telepon itu pada malam hari. Wahyuni meminta, agar orangtuanya menelepon pada siang hari. Jika orangtuanya memaksa menelepon pada malam hari, maka Wahyuni mengancam tidak mau menerima. Selain itu, Wahyuni juga berpesan pada orangtuanya agar menelepon setelah tahun 2004. Dalam isi surat tersebut juga mengatakan, agar orangtuanya tidak terlalu sering menelepon atau berkirim surat. Alasanya, biaya untuk menelepon atau ber kirim surat dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih penting. Misal, membayar listrik. "Kami sebenarnya belum merasa yakin kalau surat itu ditulis Wahyuni. Namun, adik Wahyuni, Sutami (14) yang ikut membaca surat itu merasa yakin kalau surat tersebut adalah tulisan kakaknya," kata Sumejo. (G15-73) |