| Senin, 20 Desember 2004 | SEMARANG |
Saatnya Penjual Terompet Mrema
MENJELANG Natal dan Tahun Baru merupakan berkah tersendiri bagi para pembuat dan pedagang terompet di sejumlah kota termasuk di Salatiga. Jangan kaget, jika pedagang terompet bermunculan di beberapa sudut kota. Saatnya mrema tahunan itu juga dilakukan oleh Tamin (43) asal Desa Krandekan, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Meskipun kadang keuntungan yang diperolehnya tidak sebanding dengan jerih payahnya meninggalkan kampung halaman, bahkan sering tombok, namun tidak membuatnya kapok berjualan terompet. Tamin mengaku sejak remaja sudah berdagang terompet saat menjelang Natal dan Tahun Baru dan itu dilakukannya setiap tahun. Sehari-hari bapak tiga putra tersebut adalah seorang petani di desanya. Namun jika pada akhir tahun, kegiatan taninya tidak bisa ditinggalkan, dia tidak akan berdagang terompet. Dua tahun terakhir, termasuk akhir tahun ini dia menfokuskan berjualan di Kota Salatiga. ''Saya tak tahu, kok senang aja berjualan di Kota Salatiga. Sebelumnya saya juga sudah berjualan di beberapa daerah lain,'' ujarnya saat ditemui Suara Merdeka. Sebelumnya Tamin pernah berjualan di Kota Semarang, Ungaran, dan beberapa daerah lainnya. Bahkan, saat berdagang di Kota Semarang beberapa tahun lalu dia dan beberapa pedagang lainnya pernah digaruk petugas Satpol PP, karena berjualan di trotoar. Biasanya Tamin datang bersama kelompoknya yang terdiri dari 5 orang atau lebih. Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu menentukan daerah mana tempat yang paling cocok berjualan terompet. Setelah dipastikanm, baru mereka datang ke kota tujuan dan kemudian mencari rumah kos sementara. Modal yang dibutuhkan Tamin untuk berdagang trompet yang dibuatnya sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Adapun bahan baku utama alat bunyi yang terbuat dari bambu sudah dibuat di kampungnya dibantu oleh anak dan istrinya. Setelah tiba di Kota Salatiga dia langsung membeli bahan baku lainnya seperti karton dan kertas hias berwarna-warni yang disebutnya rambe. Dari bahan baku tersebut dia dapat menghasilkan puluhan jenis terompet berbagai bentuk dan ukuran. Dalam sehari, Tamin mampu membuat 20-50 terompet sekitar tergantung jenisnya. Kalau sulit untuk dibuat, bisa lebih sedikit jumlah yang dihasilkannya. Adapun harganya mulai Rp 1.500 hingga Rp 7.000 per biji. Kalau pembelian dalam jumlah banyak kadang diberi diskon khusus oleh Tamin. Selama berdagang di Kota Salatiga, lokasi dan tempat mangkalnya tidak menentu bisa di sekitar pertokoan atau di pasar. Kadang harus mengelilingi beberapa lokasi perumahan penduduk dan perkampung untuk mengadu nasib. Seusai Tahun Baru, atau tepatnya tanggal 2, Tamin dan kelompoknya kembali ke kampung halamannya. Keuntungan yang diperolehnya pun tidak menentu. ''Wah, susah untuk menghitung untungnya, karena dikurangi biaya hidup di kota tempat berdagang. Meskipun pernah rugi, tapi biasanya saya bisa bawa pulang uang tambahan untuk keluarga,'' jelas Tamin. (Surya Yuli P-73) |