logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 SEMARANG
Line

21 Tahun Kota Ungaran (2-Habis)

Menjadi Alternatif Tempat Hunian

KOTA Ungaran yang berada di ketinggian rata-rata 350 di atas permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 24,25 derajat celcius dan curah hujan 2.699 mm/tahun ini terus berdandan. Pembangunan perumahan, fasilitas kota dan industri terus meningkat jumlahnya. Wajar saja bila jumlah penduduknya bertambah dengan cepat. Jika pada akhir 2002 lalu jumlah penghuninya mencapai, 102.745 jiwa, maka menurut data BPS pada akhir tahun 2003 tercatat 115.406 jiwa.

Sebagai alternatif tempat hunian, kota di lembah Gunung Ungaran ini masih menjadi pilihan warga di sekitarnya. Pembukaan dan pengembangan lokasi perumahan baru membantu pemekaran kota terutama di Gedanganak, Leyangan, Kalongan dan Susukan. Namun, perkembangan itu berdampak pada peningkatan kepadatan lalu lintas dalam kota. Tak disangkal, jalur utama transportasi di pusat kota masih sangat linier.

Misalnya saja jalan protokol sepanjang Jl Gatot Subroto - Diponegoro hingga Karangjati sudah sangat padat pada jam-jam sibuk. Pilihan pembangunan jalan lingkar (ring road) dan jalan tol antar kota yang telah direncanakan menjadi kebutuhan mendesak demi kenyamanan lalu lintas kota.

Perlu disadari bahwa kedudukan Kota Ungaran adalah daerah penyangga (hinterland) Kota Semarang. Dengan fungsi ini, Kota Ungaran harus berupaya menjadi kota satelit yang memiliki daya dukung luwes.

"Kota Ungaran harus siap menjadi penyangga utama Kota Semarang, sehingga dalam waktu mendatang untuk memudahkan investor yang akan masuk, sistim Kantor Pelayanan Satu Atap (KPSA) yang saat ini kurang berfungsi akan dimaksimalkan," tegas Kepala Bagian Humas Supardjo SH.

Kemacetan masih menjadi hantu bagi daerah sejuk itu. Misalnya saja di Jalur Ungaran - Babadan -Karangjati - Bawen - Ambarawa. Selain padatnya pengguna jalan, keberadaan pasar tumpah di beberapa titik di jalur itu menjadi salah satu penyebabnya.

Data Dinas Perhubungan pernah mencatat sedikitnya 96 kendaraan melintas di jalur protokol itu dalam semenit. Karenanya, ruas jalan Ungaran - Ambarawa menjadi salah satu jalur terpadat di Jateng.

Jalan Lingkar

Pemkab Semarang cukup serius menangani masalah ini. Namun karena kompleksnya permasalahan, hingga kini belum terlihat maksimal. Jalan lingkar merupakan salah satu alternatif pemecahan kemacetan di Kota Ungaran. Tahun 1983, pernah ada wacana pembangunan jalan lingkar sayap kanan mulai Taman Unyil-Sisemut-Mapagan-Blanten-Nyatnyono-Gebugan-Langensari.

Tak kalah menariknya, proyeksi Kota Ungaran sebagai kota berbasis pertanian (agropolitan) merupakan pilihan tepat. Potensi alamnya dengan sumber air yang berlimpah dan tanah yang relatif subur merupakan keunggulan yang tak terbantah. Dukungan sektor industri dan pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga cukup signifikan. (Rony Yuwono-73)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA