| Senin, 20 Desember 2004 | SEMARANG |
Memanjat Imajinasi di Pohon NatalKEVIN tak mengacuhkan peserta lain. Konsentrasi murid SD Cor Jesu Semarang dan dua temannya, Ferdy dan Deny, terpusat pada pohon natal setinggi kurang lebih satu meter. Pada detik-detik terakhir, kelompok Emil (SDK Gergaji) dan kelompok Tatia (SD Karangturi) menyematkan bintang pada puncak pohon natal karya mereka. Seakan tak mau kalah, Kevin dan pun bergegas menempelkan boneka bersayap pada puncak pohon kelompoknya. ''Biar saja yang lain pakai bintang. Mereka masih harus bikin hujan salju. Masih mending kami. Tak susah-susah bikin hujan salju, kan ada Dewa Salju,'' ujarnya sambil menunjuk boneka itu sebagai Dewa Salju. Kenapa ada dua dewa? Ferdy mengatakan, yang satu diletakkan di bawah pohon karena itu adalah Dewi Salju. Ada Dewi Salju yang menguasai wilayah bawah dan menemani sang Dewa menjaga bumi. Itulah kira-kira imaji bocah kelas V SD itu. Simbol Penerang Beda lagi pohon natal buatan Emil, Titin, dan Lulu. Bagi siswa kelas VI SDK Gergaji Semarang itu, bintang di puncak pohon merupakan simbol penerang bagi semua umat manusia. ''Bintang sebagai pertanda ada cahaya dari timur. Cahaya itu akan menerangi manusia yang hendak ke Betlehem saat Natal tiba,'' ungkap Emil seraya menyebut, tak lengkap merayakan hari istimewa itu tanpa pohon natal dan bintang penerang di puncaknya. Tangan Emil yang lincah seolah menari-nari, memasang pernik-pernik pohon natal agar tampak menarik. Di salah satu dahan, orang tua yang selalu dinantikan kehadirannya oleh anak-anak tampak menggelantung. Dialah Sinterklas. Di bawah pohon itu tersebar kado-kado mungil yang akan diberikan Sinterklas kepada anak yang baik. Waktu 30 menit yang disediakan panitia tidaklah membuat mereka gugup. Orang tua masing-masing yang menyoraki dari pinggir arena. Peserta yang rata-rata masih kelas IV-VI itu SD tampak asyik mengerahkan segala imajinasi mereka tentang Natal, hujan salju, bintang, Tuhan Jesus, dan tentu saja Sinterklas yang baik budi. ''Sengaja kami mengadakan lomba semacam itu agar imajinasi anak terasah. Selain itu, mental berkompetisi akan terasah lewat lomba-lomba yang diperkenalkan sejak usia dini,'' ujar Siti Farida, salah satu panitia lomba itu. (Widodo Prasetyo-89) |