| Senin, 20 Desember 2004 | SEMARANG |
Otonomi Kampus Justru Lahirkan ''Auto-money''SEMARANG- Otonomi kampus yang semula ditujukan untuk membuat kampus lebih mampu mengembangkan kurikulum akademisnya, bergeser ke nuansa yang lebih ekonomis. Hal tersebut terlihat pada dominasi penggunaan analisis dan alasan-alasan ekonomi dalam pembuatan kebijakan pendidikan. Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Gadjah Mada Romi Ardiansyah mengungkapkan hal itu dalam seminar ''Meninjau Kembali Konsep dan Pelaksanaan Otonomi Kampus'' yang digelar BEM Undip di Gedung Prof Ir Soenardi Pleburan, Minggu (19/12). ''Yang diterapkan sekarang bukan cuma otonomi, melainkan juga 'auto-money'. Jadi ada semacam pergeseran nilai dari orientasi menghasilkan kualitas lulusan, menuju orientasi pasar,'' papar Romi. Saat ide otonomi kampus dimunculkan pemerintah, kata dia, sivitas akademika menyambut baik. Namun praktiknya, penerapan PP No 60 dan 61 Tahun 1999 tentang Otonomi Kampus semakin jauh dari harapan sivitas akademika, terutama mahasiswa. Aturan-aturan yang berada dalam PP makin memperjelas arah otonomi yang dimaksud oleh pemerintah, yakni kemandirian dalam segala hal, termasuk finansial. Penetapan UGM sebagai BHMN membawa dampak ikutan munculnya variabel-variabel biaya yang bermacam-macam dan membebani masyarakat. ''Perguruan tinggi yang berbadan hukum tidak ubahnya perseroan terbatas. Sebab, restrukturisasi yang terjadi memungkinkan terjadi swastanisasi dan komersialisasi pendidikan.'' Mengawal Terkait dengan penerapan UGM sebagai BHMN, Romi menegaskan, pihaknya terus-menerus mengkritik penerapan otonomi di kampusnya. Sudah empat tahun, terhitung dari Desember 2000, mahasiswa melakukan kajian-kajian ilmiah, diskusi, menulis lewat media, demostrasi, dan sebagainya terkait dengan pelaksanaan otonomi kampus itu. Terkait dengan pelaksanaan otonomi kampus, Prof Dr Mungin Eddy Wibowo MPd menyatakan, PT-BHMN dimungkinkan untuk mencari sendiri sumber pembiayaan pendidikannya. Namun dia mengingatkan PT agar mengupayakannya melalui bidang-bidang yang terkait dengan pendidikan. ''Dalam otonomi kampus, PT harus kreatif menjual. Misalnya, dengan menjual penelitian, hibah kompetitif, dan semacamnya,'' kata Mungin. Pendapat senada disampaikan Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc. Menurut dia, perguruan tinggi harus kreatif mencari sumber dana untuk operasional PT tanpa membebani mahasiswa. ''Satu hal yang harus dipegang, otonomi kampus tak boleh makin memberatkan mahasiswa.''(amp-89) |