logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 SEMARANG
Line

Batu Pertama Pak Kawi untuk Masjid di Jalan Kawi

ASMAUL Husna yang dilantunkan ibu-ibu anggota Jamaah Pengajian Walisongo serasa mengalirkan atmosfer religius ke Jl Kawi 12, Sabtu (18/12). Lantunan 99 nama Allah itu sekaligus merupakan tengara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Aljauhari oleh Wali Kota H Sukawi Sutarip SH SE.

''Klop betul. Masjid di Jl Kawi batu pertamanya diletakkan oleh Pak Kawi. Saya tidak bisa membayangkan kalau Pak Kawi tidak datang,'' kata Prof Dr H Abdul Djamil MA saat memberikan tausiyah.

Tentu saja, hadirin terpingkal mendengar komentar Rektor IAIN Walisongo itu. Yang disebut-sebut cuma senyum-senyum di samping istrinya, Ny Sinto Adi Prasetyorini.

Menurut Djamil, keserbakebetulan korelatif semacam nama Sukawi dan Jl Kawi itu merupakan berkah. Selain nama Wali Kota, Djamil mengungkapkan adanya kesamaan lain terkait dengan masjid tersebut. Kebetulan dirinya adalah rektor sebuah perguruan tinggi agama Islam yang bernama Walisongo. Sementara, jamaah pengajian yang mengundangnya menyandang nama Walisongo.

''Karena itu, saat ditelepon Bu Achmad (Hj Maryam Ahmad, Ketua Yayasan Walisongo--Red) langsung saya bilang sanggup. Pokoke, nek padha-pada Walisongo, anane mung siap,'' tandas Djamil.

Lagi-lagi hadirin tertawa. Termasuk mantan Wagub Jateng H Achmad, Wakil Ketua DPRD Jateng Moch Hasbi, pengusaha H Hasan Thoha Putra MBA, dan para undangan lain.

Djamil mengatakan, masjid tersebut bisa berdiri kukuh atas empat pilar. Ilmu para ulama, keadilan penguasa, kedermawanan pengusaha, dan doa orang miskin. ''Rasanya, dari yang hadir pada hari ini, semua pilar itu ada. Karena itu, menurut saya, hal itu merupakan tengara bahwa Masjid Aljauhari sudah rampung sebelum pembangunannya dimulai.''

Wakaf

Sekilas ada kesamaan visual antara gambar rancangan Ir Asngari Mursito itu dan Masjid Agung Jateng. Cuma bedanya, Masjid Agung Jateng memiliki empat minaret, Masjid Aljauhari dirancang dengan dua minaret yang tinggi menjulang pada bagian depannya.

Kebetulan, H Achmad yang menjadi penasihat pembangunan masjid tersebut adalah Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jateng. ''Jadi ya kebangeten kalau nanti Masjid Aljauhari ini tidak ngadeg-ngadeg, sampai batu pertamanya hilang. Wong penasihate Ketua Badan Pengelola Masjid Agung,'' canda Abdul Djamil.

Masjid itu berdiri di atas tanah seluas 1.115 m2, yang terletak tak jauh dari RS Elizabeth. Tanah tersebut merupakan wakaf almarhumah Hj Soehari Djuriadi, salah seorang anggota Jamaah Pengajian Walisongo. Selain tanah, dia juga menjariyahkan Rp 100 juta untuk mengawali pembuatan masjid tersebut. ''Betapa menyejukkan mendengarkan kumandang azan dan suara anak-anak kecil belajar membaca Alquran,'' kata sang wakif (pemberi wakaf, seperti tertuang dalam wasiat wakaf yang dibacakan Hj Wing Winoto Poespojoedo.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Drs KH Mustaghfiri Asror menyatakan keyakinannya bahwa masjid tersebut akan bisa terselesaikan pada waktunya. Ia berjanji pada Ramadan tahun depan, Masjid Aljauhari sudah bisa digunakan untuk syiar keislaman. Bahkan, jika umat memberikan dukungan, pembangunan masjid yang menghabiskan anggaran Rp 667 juta lebih itu akan bisa selesai lebih cepat dari yang direncanakan.

Dia menjelaskan, anggaran yang diperlukan untuk pembangunan masjid sebagian besar sudah tersedia. Selain itu, ada seorang pengusaha yang memberikan wakaf berupa sumur artesis sehingga pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan pembangunan bisa berjalan dengan baik.''Alhamdulillah, sebagian dana sudah bisa terpenuhi. Sebagian lainnya masih tersimpan di bank. Menunggu tanda tangan Bapak dan Ibu sekalian,'' ujar Mustaghfiri Asror, yang kembali disambut tawa jamaah.(Achiar M Permana-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA