logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 SEMARANG
Line

''Jenenge Slamet, Kok Ora Slamet''

''WIS dijenengke Slamet, kok ya ora slamet,'' keluh Slamet (50), warga RT 1 RW 7 Depoksari Kelurahan Tandang, Tembalang, yang menjadi satu dari ratusan korban angin lisus di kecamatan itu.

Keluhan itu spontan muncul dari mulutnya saat Wali Kota Sukawi Sutarip mengunjungi korban angin lisus di kampung itu. Mendengar penuturan itu, Wali Kota tertegun sejenak lalu berusaha menenangkan warganya tersebut.

Dia menceritakan, rumahnya yang beratap asbes dan sebagian genteng hancur berantakan disapu lisus Sabtu (18/12) sore. Begitu atap lepas, sontak air hujan mengucur ke dalam rumah yang tak begitu luas itu. Segala perabot rumah, termasuk kasur basah oleh air.

Dia berusaha menyelamatkan barang-barang di dalam rumah. Juga berusaha meminta bantuan tetangga sebelah. Namun tetangga kanan-kirinya juga bernasib serupa dengannya.

Meski rumahnya rusak parah akibat bencana, dia tetap bersyukur karena bencana itu tidak menelan korban jiwa. Dirinya dan puluhan warga lain masih dilindungi Tuhan. Sebanyak 28 rumah, yang berada dalam satu gang bernasib serupa. Atap rumah beterbangan dibawa lisus ''nakal'' tersebut.

Korban lain, Ny Teguh (38) menuturkan, saat kejadian harus melindungi dua anaknya yang masih balita, berumur 18 bulan dan 2,5 tahun. Padahal atap rumah yang ditempatinya sudah disikat lisus dan air hujan mengguyur bagian dalam rumah. Sedang suaminya dalam kejadian itu berusaha menahan pintu depan rumah yang mobat-mabit oleh tiupan angin, agar tidak jebol. ''Kami basah kuyup sementara bantuan tidak ada,'' tutur dia.

Ke-28 kepala keluarga itu kini mengungsi. Musala setempat yang aman dari terjangan angin muser -demikian warga setempat menamainya- dijadikan tempat mengungsi. ''Sebagian warga lain mengungsi ke rumah tetangga yang aman dari musibah,'' kata Kastari, Ketua RW 7, Minggu kemarin.

Menurut keterangan sejumlah warga, bencana angin lisus seperti Sabtu lalu sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1998. ''Waktu itu bencana tidak menimpa kami, tapi rumah warga lain,'' tandas Slamet.

Sehari setelah bencana terjadi, aktivitas warga korban bencana dipusatkan pada perbaikan rumah. Di samping itu, mereka menjemur kasur, pakaian dan perabot rumah tangga lain yang basah diguyur hujan.

Selain di Kelurahan Tandang, aktivitas warga Perumahan Sendangasri Kelurahan Sendangguwo tidak jauh berbeda. Petugas PLN juga mulai memperbaiki jaringan listrik yang terputus di wilayah itu.(Jamal Al Ashari-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA