logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 KEDU & DIY
Line

Dieng ibarat si Gundul Pacul

BANJIR bandang pada pertengahan Januari 2000 yang menghancurkan puluhan hektare lahan pertanian tanaman kentang dan sejumlah jembatan di dataran tinggi Dieng Wonosobo, tidak mudah dilupakan oleh para petani kawasan dataran tinggi Dieng dan sekitarnya.

Bencana tak terduga yang menimbulkan kerugian miliaran rupiah itu, menyentak kesadaran petani setempat. Mereka yang sebagian besar membudidayakan tanaman semusim berupa sayuran, kentang, maupun tembakau, sama sekali tidak menyangka bahwa daerah pegunungan yang berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, bisa diterjang banjir bandang.

Tokoh masyarakat di dataran tinggi Dieng mengatakan, musibah yang menghantui petani tersebut, disebabkan oleh hutan lindung dan puncak Gunung Perahu serta bukit-bukit di kawasan setempat telah gundul. Alam tidak lagi mampu berfungsi sebagai resapan air. Akibatnya, ketika hujan lebat terjadi banjir lumpur.

Mereka menduga, gundulnya hutan lindung yang merambah sampai puncak gunung disebabkan oleh ulah manusia. Hutan lindung yang sudah dibuka itu, ditanami dengan tanaman semusim yang relatif kurang mendukung konservasi lahan. Kondisi seperti itu mirip dengan syair lagu dolanan anak-anak, "Gundul-gundul pacul". Sindiran terhadap hutan dan gunung gundul karena dipacul (dicangkul), seakan sulit terbantahkan.

Berdasarkan data yang dihimpun Suara Merdeka dari Perum Perhutani KPH Kedu Utara menyebutkan, hutan di dataran tinggi Dieng yang diolah masyarakat mencapai 1.903,5 hektare.

Yang menjadi permasalahan, hutan yang telah gundul itu ditanami dengan jenis tanaman semusim. Meskipun relatif kurang mendukung usaha konservasi lahan, tanaman ini justru menjadi primadona Para petani. Sebab, tanaman jenis ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Usaha budi daya tanaman semusim itu cukup dilematis. Di satu sisi memberi nilai ekonomis yang tinggi bagi para petani, namun di bagian lain justru menimbulkan kerusakan lahan.

Kerusakan lahan di dataran tinggi Dieng yang cukup parah, acapkali dituding sebagai penyebab tingginya sedimentasi di proyek vital, waduk Panglima Besar Sudirman di Mrica Banjarnegara. Lumpur akibat erosi di Dieng, terbawa hingga waduk tersebut melalui Sungai Serayu. Diperkirakan, lumpur yang masuk ke waduk tersebut mencapai jutaan meter kubik/tahun.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Wonosobo Ir Triatmi Agustini MM yang ditemui pada Rabu (8/12) mengatakan, untuk merehabilitasi lahan yang rusak di dataran tinggi Dieng, pihaknya bersama instansi lainnya melaksanakan program penghijauan tiap tahun.

Menyadarkan Petani

Menurut Triatmi, yang perlu dilakukan adalah usaha terus menerus untuk menyadarkan para petani tentang perlunya kelestarian lingkungan. Peran serta masyarakat melestarikan lingkungan, akan sangat bermanfaat.

Untuk mengamankan hutan lindung dari kerusakan, kata Triatmi, saat ini Bupati telah mengeluarkan surat edaran bahwa kawasan hutan lindung tidak boleh ditanami dengan tanaman semusim.

Disinggung tentang kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, Triatmi menilai, kepedulian mereka saat ini mulai tumbuh. Sedikit demi sedikit, petani menyadari bahwa kerusakan lingkungan akan merugikan mereka sendiri. Kodisi ini mendorong mereka untuk terlibat dalam upaya penyelamatan lingkungan. Misalnya, hutan lindung di sekitar Telaga Warna dan Telaga Pengilon Dieng Wonosobo yang beberapa tahun lalu sudah gundul, kini mulai ditanami pohon puspa dan tanaman keras lainnya.

Ikhsan (20), pemuda Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar mengatakan, banjir bandang telah menyadarkan petani setempat, tentang perlunya kelestarian lingkungan. Mereka pun dengan senang hati beramai-ramai melakukan reboisasi di kawasan itu.

Petani kentang Muchadir (40) juga mengakui, kerusakan lahan di kawasan tersebut mengakibatkan merosotnya kesuburan tanah pertanian. Akibatnya, hasil produksi pertanian menurun.

Saat ini, satu hektare lahan hanya menghasilkan 15 ton kentang, sebelumnya 20 ton/hektare. (Sudarman-76m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA