| Senin, 20 Desember 2004 | INTERNASIONAL |
Putra Kim Jong-il Lolos dari MautSEOUL - Salah seorang putra pemimpin Korut, Kim Jong-il, lolos dari upaya pembunuhan selama kunjungan ke Eropa bulan November lalu. Pasalnya, pasukan keamanan Austria berhasil menggagalkan upaya tersebut, kata kantor berita Yonhap, Minggu kemarin. Laporan tentang persekongkolan terhadap Kim Jong-nam itu tersiar di tengah rumor tentang perseteruan politik internal di negara komunis itu dan dalam keluarga nomor satu negara tersebut. Yonhap, yang mengutip sumber yang tahu banyak tentang masalah Korut, melaporkan persekongkolan yang gagal itu direncanakan oleh orang-orang Korut yang mendukung putra Kim Jong-il lainnya sebagi pengganti ayahnya. ''Kim menghadapi upaya pembunuhan selama kunjungannya ke Eropa pada pertengahan November lalu, namun dinas intelijen Austria menerima informasi tentang upaya itu dan melindunginya,'' kata sumber itu seperti dikutip Yonhap. ''Upaya tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok anti-Kim.'' Lama dianggap sebagai calon pengganti ayahnya, bintang Kim Jong-nam diduga memudar setelah dia ketahuan berusaha menyusup ke Jepang dengan paspor palsu pada 2001. Meski selubung tebal menyelimuti kejadian-kejadian di dinasti yang berkuasa di Korut itu, Kim Jong-il diyakini memiliki beberapa anak dengan paling tidak tiga istri. Kim Jong-il menggantikan ayahnya yang juga bapak pendiri negara, Kim Il-sung, pada 1994. Soal Sanksi Ekonomi Sementara itu, Menlu Jepang Nobutaka Machimura mengatakan Korut sebaiknya menyadari bahwa saatnya telah habis sebelum Jepang dan masyarakat internasional mulai membahas pemberlakuan sanksi-sanksi ekonomi terhadap negara itu. Komentar itu dikeluarkan beberapa hari setelah Pyongyang memperingatkan Jepang bahwa penerapan sanki merupakan deklarasi perang. ''Saya kira Korut harus mengakui negara itu tidak punya banyak waktu lagi,'' kata Machimura pada televisi NHK. Dukungan bagi sanksi ekonomi meningkat di Jepang sejak Tokyo menyatakan pemeriksaan terhadap kerangka manusia yang diserahkan Pyongyang sebagai warga Jepang yang diculiknya beberapa dasa warsa lalu, membuktikan milik orang lain. Setelah beberapa pertemuan di mana Pyongyang tidak bisa memuaskan Jepang dalam memberikan informasi tentang warga Jepang yang diculik, Machimura mengatakan kebijakan-kebijakan lebih keras mungkin harus diterapkan. Menurutnya, Pyongyang sebaiknya diberi satu kesempatan lagi untuk memberikan informasi akurat tentang warga Jepang yang diculik. Korut menyerahkan kerangka manusia pada pertemuan di Pyongyang pada November lalu, dengan menyatakan mereka adalah Megumi Yokota dan Kaoru Matsuki, dua dari 13 warga Jepang yang menurut Pyongyang diculik pada 1970-an dan 1980-an.(rtr-niek-46) |