logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 EKONOMI
Line

Perlu Preventive Action

TIGA hari pada pekan lalu, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 Desember bursa ''sakit'' tatkala indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di posisi 936, 922, dan 939. Hari berikutnya sembuh dengan indikator IHSG pada posisi 957 dan 973.

Bersamaan dengan itu, bahkan hari-hari sebelumnya penulis juga menderita sakit cukup lumayan. Sobat lama yang baik hati, Dr Shofa Chasani, ahli penyakit dalam mengungkapkan saya perlu melakukan tiga langkah preventif, yakni mengatur pola makan, olahraga teratur, dan menjauhi stres.

Menurut dia, langkah antisipasi sangat penting dan menjadikan kesehatan lebih optimal. Dalam hal investasi, para ahli ekonomi terdahulu secara filosofis telah merumuskan perlu langkah antisipasi dalam berinvestasi.

Mereka merumuskan pendapatan sama dengan konsumsi dan investasi atau Y=C+1. Pengembangan dari itu pendapatan sama dengan konsumsi dan investasi dan saving atau Y=C+1+S. Jadi dalam pengembangan perlu ada pemisahan antara saving dan investasi.

Hal tersebut mengisyaratkan pula janganlah seluruh pendapatan hanya digunakan untuk konsumsi atau untuk investasi, tetapi ada sebagian yang dialokasikan sebagai tabungan.

Berinvestasi pada pasar modal sangat dinamis dan tak hanya berhadapan dengan faktor yang terkendali atau dapat diperhitungkan (controllable), tetapi juga dengan faktor yang berada di luar batas kendali (uncontrollable) sehingga langkah antisipatif sangat diperlukan.

Mengacu pada filosofi persamaan di atas supaya berinvestasi secara sehat, pertama dana yang digunakan untuk investasi di pasar modal seyogianya merupakan dana sendiri yang berasal dari pendapatan hasil kerja, bukan pinjaman.

Kedua, jumlah dana yang diinvestasikan di pasar modal bukan seluruh dana yang dimiliki, melainkan hanya sebagian dari yang dimiliki, misalnya dalam kisaran 50% sampai 70%.

Ketiga, dana yang diinvestasikan merupakan dana khusus atau bukan merupakan dana yang segera akan digunakan untuk kepentingan lain. Jika dana yang diinvestasikan dalam jangka pendek merupakan dana yang akan digunakan untuk keperluan lain maka akan membatasi masa memegang saham.

Saham Gorengan

Keempat, jenis saham yang dimiliki bersifat selektif atau tidak memilih jenis saham gorengan. Saham gorengan merupakan jenis saham yang fluktuasi naik dan turunnya sangat tajam.

Saham gorengan dengan peluang keuntungan tinggi dan risiko tinggi dapat membuat stres. Pernah berkembang informasi di kalangan investor bahwa ada yang mati gara-gara stres karena saham gorengan.

Kelima, apabila pada ilmu kedokteran menyatakan pola makan harus diatur supaya sehat, maka pada berinvestasi pola pemilihan saham juga harus diatur supaya investor selalu sehat. Investor sehat analisisnya dan sehat pula daya pikir serta fisiknya.

Seorang investor dapat tenang dengan jenis saham yang dimiliki bisa berasal dari beberapa sebab. Ada seorang investor yang tenang hatinya memiliki suatu jenis saham tertentu. Harga sahamnya sekarang Rp 2.000, sedangkan nilai bukunya Rp 3.000.

Seorang investor tenang memegang saham karena laporan keuangan perusahaannya menunjukkan keuntungannya cukup tinggi dikaitkan dengan harga sahamnya.

Keenam, jika pada ilmu kedokteran agar sehat olahraga perlu dilakukan secara teratur maka investor pun perlu memperhatikan hal tersebut. Apa yang sebenarnya dicari, jika badan sudah sakit maka keuntungan yang didapat hanya terbatas dapat digunakan untuk biaya memulihkan kesehatan.

Perusahaan sekuritas juga perlu menyisihkan sebagian kecil keuntungannya untuk program kesehatan bersama investornya. Alangkah baik kalau ada olahraga bersama karyawan dan investor sebelum aktivitas bursa dimulai. Segelas kacang hijau dan sebutir telur ayam kampung rebus menyehatkan bagi semua.

Hal demikian sekaligus menerapkan bentuk komunikasi relasional dan bukan semata-mata komunikasi transaksional. Komunikasi relasional berarti menganut falsafah komunikasi yang berorientasi terus-menerus dan berkesinambungan dalam jangka panjang, sedangkan komunikasi transaksional berorientasi give and take untuk suatu saat.

Ketujuh, perlu secara teratur mengamati perkembangan ekonomi berupa kurs rupiah, tingkat suku bunga, serta inflasi. Demikian pula perkembangan bursa regional, misalnya Nikkei, Hang Seng, Singapura, dan Dow Jones.

Jika faktor tersebut dalam keadaan membaik atau dalam keadaan tenang maka akan membuat ketenangan para pemegang saham.

Pada saat ini mendekati posisi akhir Desember dan perusahaan-perusahaan mempersiapkan tutup buku. Umumnya perusahaan-perusahaan menginginkan laporan keuangan atau rapornya terlihat cantik-cantik nilainya.

Dengan demikian segala upaya akan dilakukan, salah satunya menaikkan harga sahamnya melalui proses pembelian di bursa efek. Hal tersebut akan mendorong terjadi window dressing yang mempercantik laporan keuangan.

Semoga para investor selalu dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani.(Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan pada Program Magister Manajemen Undip-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA