| Senin, 20 Desember 2004 | EKONOMI |
Bulog Akan Beli Gabah Sesuai Harga PemerintahJAKARTA-Perum Bulog akan membeli gabah petani sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang akan ditetapkan dalam Inpres tentang Perberasan, asal kualitasnya memenuhi standar. Demikian penegasan Direktur Utama Widjanarko Puspoyo, Sabtu lalu. Sebelumnya, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan pemerintah akan menaikkan HPP gabah kering panen (GKP) Rp 100/kg dari Rp 1.230 menjadi Rp 1.330/kg, sedangkan gabah kering giling (GKG) kemungkinan tetap Rp 1.725/kg. Menurut Widjanarko Puspoyo, pihaknya memang harus membeli gabah petani sesuai dengan HPP karena jika tidak maka kebijakan menaikkan harga gabah hanya menjadi harapan kosong. Namun dalam melakukan pembelian Bulog tetap berpegang pada standar kualitas yang telah ditetapkan. ''Ketentuan kualitas itu terpaksa diperketat agar kerjadian tahun ini tidak terulang tahun depan. Pengadaan tahun ini gabah yang kualitasnya jelek lebih besar dari yang memenuhi syarat,'' jelasnya. Akibatnya, target pengadaan gabah berkualitas baik tidak tercapai. Dari target 3 juta ton yang berkualitas baik hanya 1 juta ton. Sisanya sebanyak 2 juta ton jelek. ''Bulog harus menerima kenyataan itu karena masalah kualitas gabah menyangkut wilayah kerja pihak lain,'' paparnya. Dalam masalah kualitas, tambahnya, Bulog hanya ikut berperan pada pascapanen. Bulog baru berperan dengan membeli gabah dari petani untuk stok. Padahal masalah kualitas harus disiapkan sejak tanam termasuk pengadaan benihnya harus baik. Untuk memperoleh gabah berkualitas baik tahun 2005 selain bekerja sama dengan lembaga yang memproduksi benih padi, yakni Sang Hyang Seri, akan memaksa mitra kerjanya memperbaiki kualitas. Para mitra kerja diminta mengajak petani di wilayahnya menjadi binaan mereka. Setiap petani binaan, kata dia, diwajibkan membeli benih, obat-obatan, dan pupuk dari mitra kerja. *Sebaliknya, mitra kerja wajib membeli seluruh produksi petani tersebut. Jadi, mitra kerja Bulog harus benar-benar melakukan pembinaan dan kalau perlu memaksa petani mengubah kualitas gabah menjadi baik. Namun dia mengakui tidak semua mitra kerja Bulog mampu melaksanakan pembinaan terhadap petani. Setiap mitra kerja mempunyai area binaan karena sesuai dengan kontrak harus memasok beras ke Bulog 2.000 ton atau 7.000 ton gabah. ''Tapi ada mitra kerja yang hanya mampu memasok 500 ton dan 1.000 ton gabah/tahun, sedangkan mitra kerja yang baik mampu memasok gabah 7.200 ton,'' jelasnya. Sementara itu Kepala Divisi Regional Bulog Jateng, Sutono, mengatakan untuk meningkatkan kualitas gabah dan beras pihaknya menindaklanjuti Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara Perum Bulog dan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA). Upaya itu ditempuh melalui berbagai pertemuan dengan pihak-pihak terkait, termasuk mengundang mitra kerja. ''Dalam pertemuan itu saya sampaikan sindiran-sindiran yang cukup tajam, khususnya bagi mitra kerja yang belum mampu memproduksi beras berkualitas baik,'' ujarnya. Untuk meningkatkan kualitas, ia bertekad akan bekerja ekstra keras lewat berbagai cara. Hal itu dilakukan karena jika gabah dan beras produksi Jateng berkualitas baik maka tugas mengamankan harga dasar menjadi lebih ringan. Selain itu, melalui kualitas beras yang baik dan dimobilisasi oleh swasta beras Jateng akan jalan sendiri kemana-mana. Semua pihak diuntungkan dan ujung-ujungnya baik petani, pedagang, maupun konsumennya merasa enak karena tidak ada lagi tawar-menawar soal kualitas. ''Mudah-mudahan misi saya mewujudkan gabah dan beras di Jateng dengan kualitas baik bisa terealisasi. Meski hasilnya belum tahu, paling tidak niat dan semangat sudah ada.'' (tri-53) |