logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 EKONOMI
Line

Dinilai Memberatkan Masyarakat

WONOGIRI-Kenaikan harga elpiji sekitar 40% sejak kemarin dikeluhkan oleh kalangan ibu rumah tangga. Kenaikan itu dinilai sebagai kebijakan yang mencerminkan tidak ada keberpihakan kepada rakyat dan berdampak memberatkan anggaran belanja.

''Bagaimana tidak mengeluh? Gaji suami tak naik, tetapi harga gas (elpiji-Red) sudah mendahului naik,'' ujar Ny Siti yang ditemui di Pasar Wonogiri Kota, kemarin.

Dia biasa membeli elpiji tabung isi 12 kg seharga Rp 39 ribu. Kalau dinaikkan sekitar 40% maka sekarang harganya menjadi Rp 54 ribu sampai Rp 55 ribu/tabung.

Padahal, lanjut dia, pemerintah juga berencana menaikkan harga bahan bakar minyak tahun depan. Hal itu telah berdampak pada sejumlah harga kebutuhan sehari-hari yang melambung.

Bukan hanya ibu rumah tangga, para pedagang pun mengeluhkan kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok yang telah terjadi saat ini.

''Harga seikat sawi yang semula hanya seribu rupiah, sekarang menjadi dua ribu rupiah,'' keluh Satimin, penjual bakso keliling.

Keluhan senada diungkapkan oleh Katimin penjual bubur ayam. Ia mencontohkan harga bawang merah naik dari semula Rp 6 ribu menjadi Rp 8 ribu/kg.

Ny Ratmi, seorang ibu rumah tangga menyebutkan kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah besar dari Rp 5 ribu menjadi Rp 6 ribu/kg serta telur ayam ras semula Rp 6.800 kini Rp 7.400/kg.

''Bahkan kalau beli eceran di warung harga telur ayam ras sudah mencapai Rp 8 ribu/kg,'' ujarnya.

Harga gula pun ikut-ikutan melonjak setelah sejak Ramadan sampai Lebaran cukup stabil. Di toko swalayan semula Rp 4.400 kini Rp 4.800/kg dan di warung-warung kelontong Rp 5 ribu/kg.

Bukan hanya kebutuhan pokok, kasur busa yang semula hanya Rp 170 ribu kini melambung menjadi Rp 230 ribu.

Drs Poerwanto MM, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Penanaman Modal menyebutkan di kelompok perikanan dan peternakan terjadi kenaikan harga pada telur ayam ras sebesar 12%, yakni dari Rp 6.600 menjadi Rp 7.400/kg.

Di kelompok barang industri konsumsi terjadi kenaikan 2% pada gula. Kemudian di kelompok barang industri logam kenaikan mencolok terjadi pada seng pelat dan seng gelombang berkisar 9% sampai 18%. Seng gelombang seri BJLS 020 dari Rp 25 ribu menjadi Rp 29.500/lembar dan seng pelat BJLS 025 semula Rp 32 ribu kini Rp 35 ribu/lembar.

Di Solo

Sementara itu warga Solo langsung merasakan dampak kenaikan harga elpiji yang diberlakukan mulai Minggu pukul 00.00. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Kalau semula satu tabung elpiji isi 12 kg harganya Rp 36.000 sudah termasuk ongkos kirim, maka kemarin harus membayar Rp 51.000-Rp 52.000.

''Naiknya kok tiba-tiba sekali,'' kata Ny Anik, warga Keprabon.

Elpiji memang sudah merakyat. Rumah tangga biasa sampai kaya banyak yang menggunakan untuk keperluan sehari-hari. Di samping lebih cepat, dianggap lebih bersih karena tidak menimbulkan asap dan merusak alat rumah tangga.

Kemudahan memperoleh juga menjadi penyebab mereka memilih bahan bakar itu untuk memasak. Agen dan pengecer elpiji sudah menyebar sampai kampung-kampung. Warga tinggal menelepon beberapa menit kemudian elpiji diantar ke rumah.

Bukan hanya konsumen yang kaget atas kenaikan itu, beberapa dealer dan pengecer juga tidak menyangka secepat itu. Diperkirakan kenaikan baru akan diumumkan awal tahun depan. Akibatnya banyak dealer yang tidak menstok barang.

''Pokoknya semalam (Sabtu malam-Red) keluar terus. Selama ada barang kalau ada yang butuh ya kita kasih,'' kata Joko, dealer elpiji di Jaten, Palur.

Begitu memperoleh informasi dari suratkabar pagi kemarin, dia hanya tertegun. Harga baru langsung dipasang, Rp 52.000/tabung ukuran 12 kg.

''Tahu akan naik kan bisa stok dulu. Tapi ya sudah, sama saja. Kasihan tetangga yang membutuhkan,'' ujarnya.

Ny Ponco, distributor elpiji Prabu Dian Kencana di kawasan Kota Barat Solo juga menilai kenaikannya tiba-tiba sehingga tidak menstok barang. Sampai Sabtu malam ia masih menjual dengan harga lama, tetapi Minggu pagi harga langsung berubah menjadi Rp 51.000/tabung 12 kg.

''Tapi sampai siang tidak ada yang order. Mungkin masih bertanya-tanya, apa benar naik. Biasanya pagi sudah banyak yang minta dikirim,'' ujarnya.

Kalau elpiji masih mudah diperoleh, maka Pertamax yang juga naik dari Rp 2.450 menjadi Rp 4.250/liter kemaring menjadi barang langka. Sejak pengumuman kenaikan Sabtu malam beberapa SPBU langsung menutup pelayanan. Di tempat pelayanan dipasangi tulisan ''Pertamax Habis''.

SPBU Jalan Slamet Riyadi, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Raya Palur, dan beberapa lainnya sama. Semua menyatakan persediaan Pertamax habis.

''Sejak semalam (Sabtu malam-Red) tidak ada pasokan, jadi memang benar-benar habis,'' kilah salah seorang petugas. (P27,an-53,17)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA