| Senin, 20 Desember 2004 | EKONOMI |
Kenaikan Harga Elpiji Disambut DinginSEMARANG-Kenaikan harga elpiji kali kedua tahun ini disambut dingin oleh masyarakat konsumennya. Harga yang semula Rp 3.000/kg mulai kemarin oleh Pertamina dinaikkan 41,6% menjadi Rp 4.250/kg. Sepanjang hari kemarin sejumlah agen dan pengecer yang ditemui menyatakan sejak kenaikan harga permintaan tetap stabil. Beberapa pengguna elpiji mengatakan sekalipun tidak setuju terhadap kenaikan harga, sikap itu tidak akan mengubah keputusan yang sudah ditetapkan. "Kalau tidak setuju, memangnya kenaikan harga batal? Jadi sekarang lebih baik berpikir bagaimana supaya kenaikan itu tidak membuat harga martabak saya naik," ujar Tatang, pedagang martabak di kawasan Jalan Gajahmada Semarang. Turmudzi, salah seorang pemilik usaha industri kecil di Jalan Madukoro Semarang yang menggunakan elpiji merasakan dampak kenaikan harga itu. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh usahanya terbilang kecil. "Memang memberatkan, tetapi mau bagaimana lagi ...." tuturnya pasrah. Para pengecer memperkirakan dampak kenaikan itu terjadi dalam satu pekan hingga satu bulan setelah pengumuman. ''Memang beberapa konsumen yang ke sini terkejut ada kenaikan harga, tetapi mereka tetap membeli meski sedikit nggerundel,'' ujar Tjarsono, pengecer elpiji yang juga pemilik Toko Murah di Jalan Tlogosari Raya Semarang. Pantuan di beberapa pengecer Semarang menunjukkan rata-rata penjualan elpiji masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Harganya sedikit bervariasi tetapi hampir sama, yakni Rp 51.500 untuk tabung isi 12 kg. Namun ada beberapa pengecer yang menjual Rp 53.500 hingga Rp 55.000. ''Kalau berdasarkan harga patokan memang Rp 51.500, tetapi biasanya ada harga tambahan untuk biaya antar bagi pelanggan yang lokasinya jauh. Pelanggan juga tidak keberatan atas tambahan itu,'' kata Maryono, pengecer elpiji di Jalan Majapahit Semarang. Dalam menjual, lanjut dia, para pengecer kini berpatokan pada harga yang ditetapkan oleh Pertamina. Ia tak bersedia berkomentar mengenai stok lama dan menjual berpatokan pada harga baru. ''Pokoknya patokan harga dari Pertamina,'' tegasnya. Muryati, pemilik Toko Enggal Jalan Majapahit Semarang mengatakan tidak ada penurunan permintaan setelah ada kenaikan harga. Bahkan, meski beberapa pembeli baru mengetahui ada kenaikan harga ketika datang di tokonya, mereka tidak terpengaruh. ''Sebagian besar pengguna elpiji dari kalangan menengah dan menengah ke atas. Kelihatannya mereka tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga,'' ujarnya. Menengah ke Atas Humas Pertamina Unit Pemasaran IV I Gusti Bagus Wisnu mengemukakan kestabilan permintaan tersebut disebabkan sebagian besar konsumennya adalah kalangan menengah ke atas. ''Masyarakat menengah ke bawah biasa menggunakan minyak tanah dan harganya hingga saat ini belum naik,'' tambahnya. Ia mengatakan kemungkinan terjadi penimbunan elpiji sangat kecil karena agen yang melakukan distribusi justru akan rugi jika melakukan spekulasi itu karena insentif yang mereka terima berdasarkan pada tingkat penjualan yang dicapai. Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Jateng Drs Harsono mengatakan jika harga di pengecer lebih tinggi dari yang ditetapkan, maka mungkin karena pengecer harus mengeluarkan biaya angkut dari agen. "Misalnya kalau mengirim pesanan pembeli lebih dari 20 km tentu kompensasinya ke harga eceran. Jika mereka menjual lebih mahal, maka saya kira konsumen tidak akan membeli,'' ujarnya. (G2-53) |