| Senin, 20 Desember 2004 | BUDAYA |
Konser Akhir Tahun AMGIBerhenti atau Naik ke Puncak Gunung''JOY to the World'' sebagai repertoir terakhir usai dimainkan, dan sekitar 150 penonton yang menyaksikan ''Konser Akhir Tahun'' Ansamble Musik Gesek Intermezzo (AMGI) di Gedung Balai Kota Semarang, Sabtu (19/12) malam pun memberikan standing ovation cukup panjang. Pembawa acara mengingatkan konser telah berakhir dan menyilakan penonton meninggalkan ruang pertunjukan. Namun mereka tetap bergeming. Para penonton itu masih berharap AMGI memainkan beberapa repertoir tambahan. Demi memenuhi keinginan tersebut, Achmad Koersani selaku conductor segera mengangkat tongkat dan memberikan aba-aba. Maka mengalunlah ''Naik-naik ke Puncak Gunung'' dari gesekan biola, viola, cello, dan piano yang dimainkan sekitar 40 personel AMGI. Berbeda dengan versi pertama yang dimainkan secara instrumentalia, ''Naik-naik ke Puncak Gunung'' versi kedua dibawakan dengan tambahan vokal anak-anak dari Paduan Suara SD Kanisius Telogosari. Tak hanya itu saja, Koersani juga mengajak penonton bernyanyi dan bertepuk tangan bersama. Akibatnya, ruang pertunjukkan yang tak terlampau luas itu berubah gegap-gempita. ''Naik-naik ke Puncak Gunung'' benar-benar menjadi penanda akhir konser AMGI malam itu. Bukan kebetulan jika lagu citaan Ibu Sud tersebut dipilih. Ada nuansa pengharapan yang tercuat dari sana. Tahun mendatang AMGI ingin sampai pada pencapaian yang lebih tinggi. Mungkinkah itu dapat diwujudkan? Pertanyaan yang tak cukup dijawab, tapi juga dibuktikan. Konser dibuka dengan sebuah repertoir karya Wolfgang Amadeus Mozart ''Tweenkle-tweenkle Litle Star''. Repertoir tersebut dimainkan dalam aransemen gubahan DR Suzuki yang menjadi metode pembelajaran biola di seluruh dunia. Usai ''Song of the Wind'', tiga buah lagu wajib, yakni ''Satu Nusa Satu Bangsa'' (L Manik), ''Bangun Pemudi Pemuda'' (A Simanjuntak), dan ''Tanah Airku'' (Ibu Sud) mengalun. Dua lagu yang disebut terakhir diiringi permainan piano Ny Achmad Koersani. Sementara ''Tanah Airku'' diisi dengan vokal penyanyi cilik Intan. Selain intan, konser malam itu menghadirkan penyanyi senior Toony Moeloek. Finalis empat kali ajang pemilihan Bintang Radio dan Televisi (BRTV) itu menunjukkan kemampuannya dalam tiga lagu, yakni ''Can't Help Falling in Love'', ''Indonesia Pusaka'' (Ismail Marzuki) dan ''Yesterday'' (Paul McCartney). Meski berusia lanjut, timbre vokal bariton-nya masih terjaga. Dia mampu meniupkan ruh ke dalam lagu-lagu yang dinyanyikan. Stagnan Kemenarikan lainnya, beberapa repertoir dibawakan dengan sedikit di luar kelaziman. Dalam nomor-nomor: ''May Song", ''Romance'' dan ''Naik-naik ke Puncak Gunung", biola atau cello tak hanya dimainkan dengan cara digesek, tapi juga dipetik atau pizzicato. Hasilnya, denting suara yang keluar dari petikan dawai-dawai tersebut memunculkan efek bunyi yang indah. Meski demikian, dibanding konser perdana AMGI April lalu, penampilan mereka malam itu tak menampakkan progresivitas. Permainan anak-anak asuh Achmad Koersani tersebut bahkan cenderung stagnan. Repertoir dan aransemen yang mereka mainkan hampir-hampir tak berubah. Dari 22 repertoir, 14 di antaranya persis sama, yakni ''Twinkle-twinkle Litle Star'', ''Song of the Wind'', ''Satu Nusa Satu Bangsa'', ''Tanah Airku'', ''Can't Help Falling in Love'', ''Santa Lucia'', ''Naik-naik ke Puncak Gunung'', ''Ode To Joy'', ''O Come Little Children'', ''May Song'', ''Allegro'', ''Indonesia Pusaka'', ''Pelangi Pagi'', ''Romance'', ''Hari Merdeka'', ''Berkibarlah Benderaku'', dan ''Yesterday''. Achmad Koersani dalam perbincangan seusai konser berdalih karena karena waktu persiapan yang terlampau singkat, yakni hanya sekitar satu setengah bulan. Dalam tenggat waktu sesingkat itu, tidak mungkin memainkan repertoir-repertoir baru. Terlebih, para personel AMGI bukan musikus profesional. Beberapa di antaranya bahkan para pemula. ''Mereka benar-benar baru bermain musik dan belum mahir membaca notasi balok ataupun angka'' tuturnya. Ya, Konser Akhir Tahun AMGI seolah-olah dipaksakan sekadar ada sebagai peneguh eksistensi semata-mata. Secara kualitas apa yang mereka tampilkan belum beranjak banyak. (Rukardi-81) |