logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 BUDAYA
Line

Biarlah Mereka Berimajinasi

TAFSIR tentang pakeliran bagi anak-anak tentu saja akan berbeda dengan mereka yang telah mengerti tentang kaidah-kaidah wayang. Maka ketika yang membeber kelir itu masih dalam tataran bocah, tentunya akan berbeda dengan penyajian pakeliran dalang yang telah dewasa.

Pada sebuah kelir, sesekali kelebatan wayang itu tampak terhuyung, ketika tangan mungil Rafif Pujasmara seperti tak kuasa menahan beban dua boneka wayang (tokoh Rekso Muko dan Guwarso) yang memang berukuran agak lumayan besar untuk ukuran tubuh dalang itu.

Namun, meski terkadang harus mengulang gerak atau sabetan wayangnya, toh itu tak mengurangi semangat dalang tersebut. Di atas panggung, dia masih saja terlihat serius dan seperti tak merasakan gangguan apapun ketika wayang yang digerakkannya sempat beberapa kali terhuyung.

Dalam ajang Festival Dalang Cilik Se-Eks Karesidenan Surakarta di Pendapa Kantor Bupati Wonogiri kemarin, kejadian seperti itu bukan hanya dialami Rafif seorang. Namun juga oleh dua dalang cilik lain, Yudistira Nurdian Qurota dan Wahyu Thoyib Pambayun.

Ya, selain Rafif yang mewakili Kabupaten Karanganyar, festival juga diikuti Yudistira dari Kota Surakarta dan Wahyu wakil dari Kabupaten Wonogiri. Masing-masing membeber lakon yang berbeda. Rafif dengan lakon "Cupu Manik Astagina" (Guwarso Guwarsi), Yudistira dengan "Seno Bumbu", sementara Wahyu membeber lakon "Wahyu Cakraningrat".

Melihat penampilan ketiga dalang bocah tersebut, banyak hal yang memang masih terasa begitu membatasi. Dan itu tidak hanya terlihat pada cak-cakan sabetan saja, namun juga unsur pakeliran yang lain. Entah itu ontowecono yang masih belum selaras dengan tokoh yang ditampilkan, hingga sulukan yang terkadang mentok karena tak kuat menyisir nada tinggi.

Namun tentu saja akan menjadi naif, jika menilai kemampuan bocah-bocah tersebut dengan ukuran dalang yang sudah dewasa. Betapapun, usia belia akan memunculkan batasan-batasan yang kemudian membuat tafsir mereka menjadi berbeda tentang sebuah pakeliran.

Maka janganlah buru-buru menganggap bahwa terhuyungnya sebuah boneka wayang yang tengah bergerak itu sebagai sebuah kelemahan sabet, atau jangan pula terus menganggap nada suara yang belum pas itu sebagai ontowecono yang blero.

Ada pernyataan menarik dari seorang budayawan asal Yogyakarta, Bakdi Sumanto, yang sering diungkapkan di berbagai forum pewayangan. Dalam sebuah sajian pakeliran (wayang kulit) dengan dalang bocah, sebaiknya memang bukan dengan cara mendalangkan anak namun sebaliknya justru dengan menganakkan dalang.

Luas

Berkaitan dengan pendapat tersebut, maka tafsir tentang wayang bagi seorang dalang cilik tentu saja akan semakin luas. Seperti yang dikatakan Sutrisno "Pelok" Santosa, dosen Jurusan Pedalangan STSI Surakarta yang kemarin juga menyaksikan jalannya festival. Bahkan pengertiannya bukan hanya sekadar pada teknik atau cara penyajiannya. Namun juga sampai menyentuh kandungan filsafat dari lakon yang digelar.

''Ada batasan-batasan yang berbeda tentang nilai filosofi sebuah lakon yang digelar dalang cilik dengan dalang dewasa. Misalnya saja, tentang percintaan ataupun sebab akibat dari suatu peperangan,'' tambahnya.

Menurut dia, tak mungkin seorang dalang cilik bisa ngecake dengan baik tentang nilai-nilai tersebut. Selain belum saatnya, dari segi pendidikan hal itu justru akan memunculkan sesuatu yang kurang baik terhadap perkembangan mereka.

''Karena itu, biarlah sebuah lakon itu mengalir menurut imajinasi mereka. Tanpa dipaksakan untuk mencapai seperti yang sudah dilakukan para dalang-dalang sesungguhnya.''

Lantas bagaimana dengan penampilan ketiga dalang cilik dalam ajang festival, kemarin? Barangkali saja memang benar apa yang diungkapkan oleh dosen yang juga sering melatih dalang-dalang cilik tersebut. Setidaknya, penampilan mereka memang cukup menjadi sebuah jawaban.

Lihat saja ketika Rafif yang menjadi juara I menafsirkan lakon "Cupu Manik Astagina" itu sebagai sebuah pitutur tentang bagaimana pentingnya seorang anak itu harus patuh pada orang tua. Atau ketika Yudistira yang juara III bercerita tentang arti sebuah kegigihan dalam lakon "Seno Bumbu.

Sementara Wahyu yang juara II, meski terkadang ada beberapa kandungan cerita yang agak membebani usianya, namun toh masih tetap ada nilai-nilai yang selaras dengan dunia anak-anak yang dia sampaikan.

Jadi, mungkin memang benar kita perlu membiarkan mereka dengan imajinasinya sesuai dengan batasan usianya. (Wisnu Kisawa, Bambang Purnomo-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA