| Senin, 20 Desember 2004 | BANYUMAS |
Celeng Menyerang, Petani MenyerahBANYUMAS - Para petani di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, belakangan ini resah. Sebab, celeng atau babi hutan menyerang tanaman mereka. Petani tak bisa menanggulangi karena hewan itu menyerang pada malam hari secara berkelompok. Binatang itu menyerang tanaman petani karena persediaan makanan di hutan habis. ''Pokoknya jika celeng turun berarti makanan di hutan habis. Mereka mencari makan dengan sasaran tanaman penduduk di lereng gunung,'' tutur Budiarjo, Direktur Eksekutif Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Desa Sokawera, kemarin. Celeng-celeng itu menyikat jagung, ketela, dan padi. Tak ayal, petani pun tak bisa lagi memanen tanaman mereka. Tanaman yang diserang, kata dia, terutama milik penduduk Grumbul Kejubug, Baron, Larangan, Semingkir, dan Kubangan. Kawasan itu berbatasan dengan hutan Perhutani di kaki Gunung Slamet. Areal tanaman yang diserang antara 6 ha dan 10 ha. Lahan itu terpencar di berbagai tempat dan hampir semua terserang. Celeng menyerang tanaman di areal pertanian sejak Perhutani menebang habis pohon pinus di hutan sekitar Sokawera mulai tahun 1998. Semula beripa tebang pilih untuk penjarangan. Namun pada tahun 2000 semua pinus ditebang karena akan diganti pohon damar. Sejak saat itulah celeng menyerang tanaman tumpang sari di sela-sela pohon damar. Setelah tanaman tumpang sari habis, celeng menyerang ke lahan penduduk di luar kawasan hutan Perhutani. Apa saja yang mereka makan, termasuk tunas kelapa di halaman rumah. ''Penduduk tak bisa mengatasi. Orang takut mengusir karena bintang itu banyak, besar-besar, dengan taring panjang dan tajam. Penduduk hanya berjaga-jaga, jangan sampai binatang itu menyerang manusia,'' kata Budiarjo. (G23-86) |