logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 BANYUMAS
Line

Sendratari "Bongkrek" Pukau Penonton

PURWOKERTO- Sendratari berbahasa banyumasan Bongkrek yang dibawakan Komunitas Olah Tari Anak Kampus memukau penonton. Randy, Bagus, Lia, Astya, Muji, dan Mita menyuguhkan musibah keracunan tempe bongkrek atau dage melalui gerak tari kontemporer.

Sendratari itu satu dari empat sajian yang ditampilkan dalam gelar seni tradisional akhir tahun Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) di Gedung BPD, Sabtu (18/12) malam. Hadir Ketua DPRD Suherman, anggota DPRD Drs Sadewo dan H Subur Widadi BA, Kepala Dinas Pariwisata Santoso SH, serta Ketua DKKB Bambang Set.

Sajian lain adalah musik guyon oleh Sopsan-Dablongan, cerita rakyat Pak Banjir oleh Teater Banyumasan, dan gubrag lesung oleh anak-anak Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng.

Keracunan

Bongkrek dimulai dengan tarian lima orang berpakaian hitam-hitam. Itulah gambaran warga yang sedang melakukan kegiatan sehari-hari. Lalu, datang wanita berpakaian merah menjual tempe bongkrek. Warga pun membeli dan memakannya.

Mereka keracunan. Para penari menunjukkan gerakan orang keracunan, dari sakit perut sampai muntah dan terkapar. Sang penjual kaget, takut, dan pingsan karena merasa bersalah. Adegan yang mengakhiri pertunjukan itu disambut tepuk tangan penonton.

Kemudian tampillah Sopsan-Dablongan yang membawakan lagu-lagu jenaka berbahasa banyumasan. Terlantunlah Nini Kartisem, My Love Tarwen, Wo Ai Ni, dan Roll'n Banyumas. Penampilan itu sekaligus menjadi promosi album kedua mereka. Album pertama Narkoba sukses di pasaran. Grup itu beranggota Fajar Penuh Ceria, Soto, dan Gope. Fajar dijuluki Doyok Banyumas karena postur dan wajahnya mirip Doyok, pelawak dari Ibu Kota.

Gubrag Lesung

Gubrag lesung, yang disangka sudah punah, malam itu dibawakan anak-anak Desa Karangnangka di bawah bimbingan Kepala Desa Sasmita. Keluguan mereka menjadi daya tarik tersendiri.

Adapun cerita rakyat yang jenaka, Pak Banjir, ditampilkan secara beda. Dalam undangan disebutkan, Pak Banjir adalah personifikasi wong cilik sing bodho, lugu, dan terus-menerus jadi korban kaum elite. Namun malam itu Pak Banjir adalah sosok yang cerdas. Dia mampu mengubah nasib dan menjadi kaya dengan menjadi orang pintar. Dia memberikan pemecahan asal-asalan kepada pasien, tetapi ternyata tepat. Seorang pasien, misalnya, dia suruh minum comberan dan sembuh.

Usai pementasan, Bambang Set menyatakan DKKB ingin mengangkat seni dan cerita rakyat Banyumas yang kurang dikenal.

''Misalnya, siapa pun boleh menulis cerita Pak Banjir. Yang penting karakternya pas.'' (Budi Hartono-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA