| Rabu, 15 Desember 2004 | SALA |
Karawitan SDN 1 Bandungan Jatinom KlatenBisa Juara walau Alatnya Pinjam Sana-siniGEMULAI tiga penari Gambyong Pareanom seakan menyatu dengan alunan gending yang mengiringi saat upacara pengukuhan Dewan Kesenian Klaten, beberapa waktu lalu. Semula saya mengira kalau musik pengiringnya berasal dari tape recorder. Ternyata gending pengiring yang terdengar merdu itu dimainkan oleh 20 anak kelas V SD Negeri 1 Bandungan, Kecamatan Jatinom, Klaten. Mereka yang tergabung dalam Paguyuban Karawitan Siswo Manunggal Laras itu bisa memainkan gamelan yang dinamis dan kompak dengan ditunggu beberapa guru pembimbingnya. Dengan memakai kebaya dan beskap warna merah menyala, mereka terlihat santai saat memainkan tembang demi tembang dengan mulus. Banyaknya tamu undangan yang hadir dan menyaksikan mereka dari dekat tak membuat mereka keder. Mereka bisa tampil maksimal di balik ukuran bajunya yang sebagian masih kebesaran. Penabuh gong juga tak terlihat jelas karena tertutup ukuran gong yang besar. Akan tetapi, permainan mereka membuat Ketua Dewan Kesenian Drs Harsono berdecak kagum. Tak hanya gending pengiring Tari Gambyong Pareanom yang mampu mereka bawakan dengan baik. Sepanjang acara, belasan tembang dolanan seperti "Jaranan", "Praon", dan "Ngundo Layangan" mampu diusung nyaris tanpa cela. Sesekali mereka harus beristirahat untuk menyeka keringat dan menikmati makanan kecil. Menurut penuturan Wuryatmani dan Tulus Samidi Raharjo, guru pembimbing karawitan, para siswa hanya perlu waktu dua hari untuk belajar memainkan gending pengiring Tari Gambyong Pareanom. Mereka hanya diberi not yang ditulis di papan tulis dan di selembar kertas. Ternyata hasilnya tak mengecewakan. ''Kami latihan sore hari seminggu dua kali. Kegiatan karawitan juga merupakan kegiatan ekstrakulikuler untuk kelas lima,'' tutur Wuryantmani yang berlajar karawitan bersama Dharma Wanita Jatinom. Juara Porseni Permainan cantik anak-anak SDN 1 Bandungan telah terbukti sebab mereka berhasil meraih juara I dalam Pekan Olahraga dan Seni pelajar SD se-Kabupaten Klaten 2003/2004. Tahun sebelumnya, mereka meraih juara II dalam kejuaraan yang sama. Anak-anak itu juga pernah ditanggap dalam acara hajatan. Kebetulan yang punya hajatan adalah Kepada SDN 1 Bandungan Jemikun Mardi Siswoyo. Selama ini, Jemikun dikenal sangat mendukung kegiatan tersebut. ''Grup karawitan SD Negeri 1 Bandungan sudah pernah pentas di RRI Surakarta dan saat ini telah terdaftar sebagai anggota pendukung Siaran Nomor 57,'' ungkap Darsono, guru agama yang sering mengantar anak-anak mengikuti lomba. Sayang, grup yang sudah berprestasi itu ternyata belum mempunyai alat sendiri untuk berlatih. Jadi, bila akan berlatih mereka terpaksa mencari pinjaman alatnya. Kadang mereka meminjam alat milik Kantor Cabang Dinas Pendidikan Jatinom. Pernah pula mereka mengalami kesulitan untuk meminjam alat hingga para guru terpaksa mencari pinjaman sampai ke Boyolali. Karena tak punya alat sendiri, setiap latihan mereka harus mengisi kas. ''Alat untuk latihan masih pinjam sana-sini, kadang alat yang akan kami pinjam untuk latihan ternyata sedang dipinjam orang lain, sehingga kami harus mencari mana yang tidak dipinjam. Pernah kami latihan sampai Boyolali untuk mencari alat yang tidak sedang dipinjam,'' imbuh Wuryatmani. (Merawati Sunantri-20j) |