| Rabu, 15 Desember 2004 | SALA |
Satu Tahun Menjabat BupatiTak Segan Menghukum Pejabat yang Kedapatan MangkirPUKUL 15.00, Rabu 15 Desember 2003, di pendapa rumah dinas, Hj Rina Iriani Sriratnaningsih dan KRMTH H Sri Sadoyo Harjomiguno dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Karanganyar periode 2003-2008 oleh Wakil Gubernur Jateng, H Achmad, mewakili Gubernur H Mardiyanto. Dia menggantikan bupati sebelumnya, Soedharmadji yang sudah dua periode menjabat. Bagi Rina, pelantikan itu bukanlah akhir dari perjalanannya menapaki proses pilkada yang penuh intrik, karena penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Dia harus menunggu lebih dari satu tahun, karena kemenangannya dalam pemilihan dibatalkan secara sepihak oleh DPRD. Bahkan, pelantikan yang cukup sederhana dan singkat dengan mengundang pejabat terbatas itu pun harus dijaga ketat oleh aparat Polres dan Kodim Karanganyar, karena ancaman demo dari sebagian masyarakat yang sejak awal menolak. Dengan rendah hati, dia yang masih tercatat sebagai guru SDN Gaum 2 Tasikmadu itu mengaku belum memberikan apa-apa kepada masyarakat selama satu tahun memimpin Karanganyar. Darma baktinya belum seberapa, jika dibandingkan dengan cita-citanya untuk mewujudkan Karanganyar tenteram dan makmur. ''Saya malu dan sungkan, jika ditanya apa yang telah saya perbuat,'' katanya pendek. Pada awal masa kepemimpinan, memang cukup berat bagi istri pengusaha Tony Iwan Haryono itu. Dia harus merangkul seluruh lapisan masyarakat yang sebelumnya sempat menolak. Demikian juga, dia juga harus mempersatukan para pejabat yang sebelumnya terbelah karena ada klik. Pekerjaan itulah, yang menyita banyak waktu pada masa-masa awal. Apalagi tidak ada parameter yang jelas. Inspeksi Mendadak Meski demikian, ibu dari Hendra Prakosa, Wijaya Kusuma Ari Asmara, dan mendiang Maming Ferlanda itu tanpa prestasi. Dia berhasil mendatangkan berbagai menteri dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk memajukan Karanganyar. Karena prestasi pula, dia mendapatkan berbagai penghargaan. ''Kemampuannya menjadi pembicara dalam berbagai seminar nasional di beberapa kota di Indonesia, membuktikan beliau mampu berpikir. Kemampuan itu bisa dijadikan modal untuk merumuskan berbagai kebijakan,'' kata Kepala Kantor Kesbanglinmas, Drs Samsi MSi memberi komentar. ''Di Unair Surabaya, Bu Rina berbicara di hadapan profesor dan guru besar otonomi daerah. Di Padang, Sumatera, beliau berbicara tentang pendidikan di hadapan pakar pendidikan.'' Bagaimana dengan kedisiplinan? Jangan ditanya. Setelah berhasil menjadikan kondusif hubungan para pejabat, setiap pekan Rina selalu mengadakan inspeksi mendadak di instansi-instansi, termasuk di desa-desa yang ada di pelosok. Dia juga tak segan-segan menghukum pejabat yang kedapatan mangkir. Tengok saja, Kepala Dinas P dan K, Kusriyanto pernah diwajibkan apel selama seminggu di Setda karena dinilai melanggar disiplin. ''Sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pemberantasan korupsi, saya terlebih dahulu sudah mencanangkannya,'' kata dia seraya menyatakan tindakannya itu tumbu oleh tutup, klop. Perhatiannya kepada para siswa yang tidak mampu, juga tidak pernah kendor. Sudah ribuan siswa yang disantuni setiap tahun, dan digratiskan biaya sekolahnya tanpa memandang siswa itu berprestasi atau tidak Bahkan, santunan itu diberikan jauh sebelum dia menjadi bupati. Para pengusaha kecil, terutama pedagang kaki lima juga tidak luput dari perhatiannya. Paling tidak, Rp 3,5 miliar pinjaman diberikannya secara bergulir. ''Bupati Rina ingin menjadikan Karanganyar maju dan mandiri,'' kata Kepala Bappeda, Drs Sukismiyadi MM. (Langgeng Widodo-20a) |