logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 SALA
Line

"Bukan Manuver Jual Beli Suara Pilkada"

KOTA - Kalangan buruh di Solo menepis anggapan miring adanya "udang di balik batu" seputar upaya mereka memunculkan dua nama kandidat wali kota Surakarta dari golongannya sendiri, yakni Zainal Arifin (Ketua Gabungan Serikat Buruh Industri Indonesia) dan Sukamto (Sekretaris Konfederasi SPSI Surakarta).

Manuver itu ditengarai sebagai upaya jual beli suara. "Tidak benar jika upaya kami memunculkan dua calon wali kota karena bertujuan menjual suara pada calon yang muncul. Kedua wakil kami tetap akan muncul ke bursa pemilihan," ujar Koordinator KBS Suharno ketika dihubungi wartawan, kemarin.

Banyak pihak menilai, munculnya dua kandidat wali kota dari kalangan buruh dipandang sebagai upaya untuk jual beli suara dari massa bawah yang relatif besar. Diramalkan, kedua calon tersebut tidak akan benar-benar maju ke bursa pilkada. Namun, suara dari golongan yang jumlahnya signifikan itu akan ditawarkan pada calon wali kota yang mau membelinya.

Menurut keterangan Suharno, pandangan tersebut tidak benar. Yang akan dilakukan kalangan buruh bukan jual beli suara melainkan kontrak politik pada kandidatnya. Hal itu dilakukan jika mereka tidak muncul sebagai calon wali kota, tetapi hanya calon wakil wali kota.

Calon itu harus membuat kesepakatan politik dengan calon wali kota tentang visi dan misi dari kalangan buruh.

"Bukan jual beli suara melainkan kontrak politik jika mereka duduk hanya sebagai AD-2. Hal itu dimaksudkan agar visi dan misi kaum buruh bisa diakomodasikan oleh calon wali kota," tuturnya.

Belum Dipinang

Selain itu, dia juga menegaskan, kedua calon tetap akan diupayakan untuk benar-benar maju ke bursa pilkada meski belum menerima pinangan dari salah satu partai.

Pada bagian lain Suharno mengemukakan, dua kandidat wali kota dari kalangan buruh sampai kemarin belum memperoleh kepastian tentang partai apa yang akan mereka ajukan. Dia mengatakan, hal itu masih sangat dini mengingat konstelasi politik di Solo sangat tinggi. Koalisi partai yang akan muncul sejauh ini ada belum bisa diprediksi sehingga mereka belum melangkah lebih lanjut.

"Belum pasti mereka akan menaiki 'perahu' (partai-Red) apa nanti. Manuvernya terserah calon bersangkutan. Namun, membicarakan itu rasanya teralu dini mengingat konstelasi politik di Solo belum begitu pasti. Partai-partai apa yang berkoalisi juga sulit diraba," ungkapnya.

Akan tetapi kaum buruh sangat senang, mengingat salah satu calon yang mereka ajukan telah dilirik PKS. Suharno menyebutkan, pihaknya berharap agar calon bersangkutan segera proaktif menindaklanjuti hal itu.

Salah satu kandidat wali kota dari buruh, Zainal Abidin, menyambut baik pengumuman dari PKS yang menyatakan dirinya sebagai salah seorang calon dari hasil penjaringan partai itu. Sebagai calon yang diberi amanah dari buruh, Zainal merasa dirinya harus berjuang untuk memperoleh "perahu" (partai) untuk maju ke pilkada karena kepercayaan itu amanah dari rekan-rekannya. (G18-17j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA