logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 PANTURA
Line

Guru pun Tertarik Ikut Ujian Komputer

UJIAN komputer yang diadakan Dinas P dan K Kota Tegal, Senin dan Selasa (13/12-14/12) kemarin tampak bernuansa lain. Sebanyak 263 peserta harus digilir mengikuti ujian pergelombang hingga malam sampai sekitar pukul 21.00.

Tak pelak, SMA Ihsaniyah yang dijadikan tempat ujian menjadi ramai. Namun, suasana itu sontak berbalik ketika Senin malam turun hujan.

Sebab, suara katak yang bersahutan di tengah hujan kadang mengganggu konsentrasi peserta.

Nuansa berbeda juga sempat tertangkap oleh Ketua Tim Penguji Nasional Komputer Drs Yusqon MPD. Ini karena dari 263 peserta, hampir 20 di antaranya adalah guru SMA.

''Bahkan, peserta tertua adalah guru SMPN 5, yakni Pak Edy Riyadi (51),'' ujar Kepala SMA Ihsaniyah itu.

Sedangkan yang termuda adalah Siti Munawaroh (15), warga Desa Pasar Batang Brebes, yang berasal dari lembaga kursus Fiskima.

Tertarik banyak guru yang ikut, ujar Yusqon, Kepala Dinas P dan K Drs Machful ketika menengok peserta ujian kemarin siang, tiba-tiba mengeluarkan keinginannya untuk menjenguk para guru peserta ujian yang digilir pada malam hari.

''Saya akan datang biar mereka bersemangat,'' ujar Machful.

Melatih Sendiri

Mengenai para guru yang belakangan ini banyak ikut ujian komputer, Yusqon tak mengetahui secara pasti.

Namun, kemungkinan besar hal itu dilakukan karena naluri seorang guru. Artinya, kalau murid sekarang pandai mengoperasikan komputer dan internet, jika guru tidak menguasai, jadinya jomplang.

''Kalau itu terjadi, pepatah guru kencing berdiri murid kencing berlari malah maknanya bisa kebalik,'' kelakar kandidat S3 Unnes itu.

Menurut Yusqon, saat ini sekolah seperti SMP dan SMA memang melatih sendiri siswanya untuk belajar komputer. Bahkan, murid sekolah dasar pun kini mempunyai muatan lokal (Mulok) komputer di sekolah, sehingga wajar saja para guru harus menyiapkan diri agar menguasai komputer.

Selain para guru, siswa SMP, SMA, SMK, dan lainnya, ujian juga diikuti pula beberapa lembaga kursus.

''Saya ikut ujian ini agar cepat mendapat pekerjaan,'' ujar Sulasmi, lulusan SMAN 1 Tegal ini.

Namun, staf di Subdin Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Drs Rokhim, yang mengurusi lembaga kursus kemarin menyatakan, ada kerancuan bila sekolah melatih sendiri siswanya belajar komputer di sekolah.

Alasannya, kebijakan itu bisa memengaruhi kelestarian lembaga kursus.

Hal ini karena otomatis jumlah peserta lembaga kursus bisa menjadi terus berkurang dari waktu ke waktu. (Nuryanto Aji-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA