| Rabu, 15 Desember 2004 | PANTURA |
Petani Jagung Keluhkan Hasil Produksi yang RendahSLAWI - Para petani jagung di Desa Karanganyar, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Tegal mengeluhkan kualitas produksi jagung yang rendah dari hasil panen kali ini, Senin (13/12) kemarin. Sejumlah petani yang ditemui Suara Merdeka mengemukakan, jagung yang dihasilkan dalam panen kali ini relatif kecil-kecil sehingga beratnya rendah. Akibatnya, harga jual produk yang diperoleh petani tidak mampu memberikan keuntungan. Bahkan, hanya cukup menutup biaya produksi. Kapandi (33), salah seorang petani, mengungkapkan, kualitas jagung yang dihasilkan kali ini sangat memprihatinkan. Sebab, tanah untuk menanam dalam kondisi kering. Sebelumnya, penanaman jagung dilakukan empat bulan lalu saat musim kemarau. Karena tidak ada hujan yang turun, saluran irigasi tidak dapat berfungsi optimal. Mereka harus menyewa diesel untuk dapat memompa air untuk pengairan. Meski dalam kondisi demikian, para petani tetap menanam. Mereka menyayangkan jika lahan dibiarkan kosong. "Daripada nganggur dan ditumbuhi rerumputan, ya saya tanami. Hitung-hitung ada usaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.'' Kapandi mengemukakan, dari luas lahan sekitar 1.800 m2 perlu biaya Rp 500.000-an untuk biaya pembelian benih jagung dan biaya tenaga kerja saat penanaman. Setelah itu, harus merawatnya sehingga membutuhkan tambahan biaya. Sementara itu, ketika panen tiba juga harus mengeluarkan biaya lagi. Untuk membayar tenaga kerja yang bertugas melepas biji jagung dan mengangkutnya ke tempat penjualan. Biaya untuk melepas biji jagung, ucap dia, setiap kilogram Rp 70. Selain itu biaya transportasi sekitar Rp 200.000. Pasalnya, jagung-jagung yang dibawa dari sawah ke agen masih berupa jagung basah. Mereka kemudian menjemurnya di sana dan langsung menjual setelah kering. Padahal, dari luas lahan tersebut hanya mampu menghasilkan 50 karung batang jagung. Dari jumlah tersebut akan menghasilkan biji jagung sekitar satu ton. Satu kilogram jagung kering dijual Rp 1.215. Dengan demikian, penghasilan yang diperoleh dari penjualan jagung tidak terlalu besar dan keuntungannya pun kecil. Tidak Sebanding Padahal, keuntungan tersebut baru diperoleh setelah menanam selama empat bulan sesuai dengan masa tanam jagung. Dengan demikian, jika dihitung keuntungan per bulan sangat kecil dan tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Hal itu berbeda jika mereka menanamnya saat musim hujan. Hasil yang diperoleh petani jika tanah yang ditanami teririgasi dengan baik akan mencapai 1,5 kali lipatnya. Kondisi tersebut dibenarkan oleh petani lain, Dakim (43) dan Tarmo (35). Panen jagung yang mereka lakukan saat ini tidak mampu memberikan keuntungan. Menurut penuturan mereka, tenaga mereka sebagai petani tidak pernah dihargai akibat panen yang tidak menguntungkan.(wn-42j) |