| Rabu, 15 Desember 2004 | PANTURA |
Terminal Pemalang, Status Naik tapi Minim FasilitasKETIKA delapan tahun lalu terminal bus Pemalang dipindahkan dari Sirandu ke jalur lingkar utara Kelurahan Pelutan, banyak pihak berharap akan berkembang dan semakin maju. Namun pada kenyataannya, hingga kini kondisinya tak ada kemajuan. Fasilitasnya pun tidak berkembang. Kendati tipenya ditingkatkan menjadi tipe A pada empat tahun lalu, kondisinya tak banyak beranjak lebih baik. Sebagai terminal tipe A, semestinya semua bus baik antarkota antarprovinsi (AKAP) maupun antarkota dalam provinsi (AKDP) masuk ke dalam terminal tersebut. Demikian pula bus lainnya sehingga terminal ramai. Akan tetapi, hanya bus AKDP saja yang masuk. Bahkan, bus-bus kecil jurusan selatan banyak yang memilih berhenti di Sirandu daripada memutar jauh ke utara masuk ke terminal induk. Kondisi seperti itu tentunya tidak mendukung terminal berkembang dan pada gilirannya berdampak terhadap pendapatan daerah. Kepala Terminal Pemalang Bambang Susanto mengungkapkan, secara fisik memang tidak ada perkembangan di terminal. Keadaannya masih tetap seperti delapan tahun lalu dan ada kesan sangat sederhana, minim dari fasilitas yang seharusnya dimiliki terminal tipe A. Untuk menjadi tipe A, terminal Pemalang memang memiliki beberapa persyaratan. Misalnya luas lahan tujuh hektare yang berarti lebih besar dari yang ditentukan, yaitu minimal empat hektare. Kapasitas parkir memadai dilengkapi menara pemantau dan toilet. Atas dasar persyaratan itu, melalui Keputusan Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Nomor SK.1247/AJ. 106/DRJO/2000 diputuskan sebagai terminal tipe A. Hanya jika dilihat secara jeli, kapasitas lahan parkir memang memadai tetapi kondisinya seperti lapangan atau mirip gudang bus. Sebab, tidak ada bangunan lajur tempat parkir sehingga penumpang tidak bisa mencari sendiri bus mana yang akan dituju. Kurang Nyaman Kondisi seperti itu kurang memberikan kenyamanan bagi penumpang karena bus bisa berhenti semaunya karena tidak ada lajur. Jika cuaca hujan, otomatis penumpang yang turun dari bus juga akan kehujanan karena tidak ada atap peneduh. Atap yang ada hanya di emperan petak toko yang sudah dipenuhi pedagang kaki lima. Bangunan terminal Pemalang berbentuk huruf U. Pada bagian kanan kirinya terdapat bangunan petak toko. Sebagian besar sudah terisi pedagang terutama di barat dan selatan. Sementara itu di timur, bangunannya telantar karena hingga kini tidak ada pedagang yang membuka kegiatan usaha di situ. Menurut Bambang, dengan kondisi yang sederhana itu pendapatan terminal tetap ada. Meski belum memenuhi target Rp 118 juta/tahun, setidaknya sudah mendekati. Pemasukan itu antara lain diperoleh dari sektor retribusi, sewa petak toko, kebersihan, dan peron. Dia yakin, jika fasilitas serta sarana dan prasarana terminal ditambah akan memberikan dampak positif bagi perkembangan terminal. Dengan kondisi sekarang, dia sangat sulit mengefektifkan sektor-sektor pendapatan. Misalnya peron, karena lokasi terminal dari segala penjuru bisa dimasuki orang, pendapatan sektor itu tak bisa ditingkatkan. Animo pengusaha bus sebenarnya cukup bagus. Hal itu terbukti dengan banyaknya pengurus bus yang membuka cabang di sana. (Saiful Bachri-74j) |