logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 PANTURA
Line

"Pintar Menawar, Ya Dapat Murah"

"MANGGA Mas iwake murah-murah, nembe dijukut seka Purwokerto," kata Maemunah (40) bersemangat. Wanita asal Desa Karanglewas, Purwokerto itu lalu membuka jerigen yang sudah terbuka bagian tengahnya.

Tanpa diperintah, wanita setengah baya itu menunjuk ikan-ikan gurami sebesar tiga jari orang dewasa. Untuk setiap ekor ikan, dia memberi harga pas, Rp 1500.

Pagi masih buta. Di ufuk timur matahari pun masih bersandar di punggung bumi. Namun, kesibukan di Jalan Pasar Hewan Bumiayu pada hari itu sudah mulai terasa.

Beberapa pedagang sibuk membuka barang-barang dagangannya. Ada sandal, kacamata, sepatu, pakaian, dan berbagai macam alat dapur. Sementara itu di tempat berbeda, pedagang lain sudah ada yang melayani para pembeli. Mereka menjual alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit, serta kunci inggris dari berbagai ukuran.

Tak ketinggalan beberapa penjual burung tampak sudah bersiap di depan dagangannya. Sambil melayani pertanyaan pembeli, tangan mereka tidak berhenti memberi pakan hewan-hewan dalam sangkar.

Bagi Anda warga Brebes selatan, pemandangan kesibukan pasar tiban di Jalan Pasar Hewan Bumiayu tentu bukan hal asing. Bisa dipastikan setiap pasaran Wage, sepanjang 500 meter dari pertigaan Bumiayu-Bantarkawung hingga depan pasar hewan selalu dipenuhi puluhan pedagang.

Mereka datang dari berbagai penjuru wilayah. Ada yang dari sejumlah kecamatan di sekitar Bumiayu, seperti Bantarkawung, Salem, Sirampog, dan Paguyangan. Namun, ada pula pedagang dari luar kota, seperti Purwokerto, Tegal dan Cilacap.

Mendompleng

Keberadaan puluhan pedagang di Jalan Pasar Hewan Bumiayu itu sebenarnya hanya mendompleng keberadaan pasar hewan di salah satu ruas jalan itu.

Konon menurut sejarah, pasar tiban tersebut belum tampak ketika masih berlokasi di belakang Pasar Induk Bumiayu. Namun, menyusul relokasi pasar hewan ke Jalan Pasar Hewan, keberadaan penjual di sepanjang ruas jalan itu mulai bermunculan.

Kini setiap hari pasaran Wage saat berlangsung aktivitas perdagangan di pasar hewan, para pedagang berbagai jenis barang ikut menggelar dagangan di sepanjang yang diberi nama Jalan Pasar Hewan tersebut.

Karena dianggap mengganggu arus lalu lintas kendaraan, para pedagang pernah direlokasi ke Kecamatan Paguyangan. Namun, kepindahan mereka ternyata hanya sebentar. Mereka menganggap lokasi di Paguyangan kurang strategis. Satu per satu mereka pun kembali ke lokasi semua di Jalan Pasar Hewan.

Berburu berbagai macam barang di Jalan Pasar Hewan ternyata menarik. Selain harga jauh lebih miring dari harga toko, variasi barang di Pasar Wage -demikan julukannya- nyaris tidak ada yang menandingi.

Bayangkan saja dari berbagai jenis burung, ikan, hewan ternak hingga alat pertanian, rumah tangga, kaset bajakan, dan kaus bergambar tokoh beken asal Argentina, Che Guevara, pun ada.

Satu hal yang perlu diperhatikan, berbelanja di Pasar Wage perlu keterampilan menawar harga. Semakin pintar menawar harga yang diperoleh pun makin rendah.

Misalnya gambar pemandangan alam di atas kanvas kain. Awalnya penjual mematok harga Rp 25.000. Ketika diminta harga pas, si penjual lalu menurunkan harga menjadi Rp 15.000.

Namun, bila ditawar Rp 11.000 barang itu pun dilepaskan. Contoh lain, yakni kelinci. Kelinci tipe jumbo dihargai Rp 75.000, namun bisa dilepas pedagang dengan Rp 50.000.

Meski demikian, ada pula barang-barang yang tidak bisa ditawar alias harga pas, contohnya kacamata mejeng. Hanya ada harga untuk berbagai model kacamata, Rp 5.000 dan Rp 10.000. "Itu sudah pas, kalau beli di toko bisa dua kali lipat," ujar si penjual.(Suwandono-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA