| Rabu, 15 Desember 2004 | PANTURA |
Waria Diperlakukan seperti Anak TiriKEBERADAAN waria yang masih dinilai sebagai kaum "minor" oleh sebagian kalangan sering menyebabkan mereka merasa kesulitan hidup secara normal. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Paguyuban Waria Kota Tegal (PWT) Venti Budi Ramona (49), kemarin. Menurut dia, sebenarnya mereka rata-rata hanya ingin diperlakukan secara wajar. Misalnya, mendapatkan kasih sayang dan perhatian seperti orang normal. Perasaan itulah yang kadang-kadang menyebabkan banyak waria turun ke jalan. Memang, lanjut dia, secara umum tidak bisa dipungkiri, kaumnya juga memiliki kebutuhan biologis. Karena itu, agar para waria pantura termasuk di Kota Tegal tidak turun ke jalan menjajakan diri perlu disediakan tempat untuk menampung mereka. Dia yang biasa disapa Mbak Venti menjelaskan, sebenarnya masyarakat banyak yang simpatik dan memberikan respons terhadap kehidupan waria. Sayang, keberadaan kaumnya itu belum sepenuhnya diterima masyarakat. "Kami mohon keberadaan kami jangan seperti dianaktirikan. Sebab, kami juga ingin hidup wajar." Padahal, beban hidup yang harus ditanggung waria sangat berat. Mereka harus bertahan mengarungi kehidupan seorang diri tanpa pasangan yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tak bisa dipungkiri, mereka sering mengalami kesulitan ekonomi terutama bagi yang tidak memiliki penghasilan tetap. Karena itu, dia sangat berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memfasilitasi mereka agar bisa berusaha dan memperoleh penghasilan. "Jika tersedia sebuah tempat bisa dijadikan media berusaha dan bekerja, seperti membuka salon," katanya. Menurut dia, kegiatan positif seperti yang diterapkan Kantor Sosial Pemkot bisa menjaga kerukunan dan saling menghormati antarsesama. "Padahal, kami hanya ingin diperlakukan wajar, mendapatkan kasih sayang seperti perempuan lain," ujar Venti. Namun, dia menyadari hal itu sesuatu yang sulit mereka peroleh. "Cantiknya Venti nggak ada yang ngapelin, tapi jeleknya perempuan lain banyak yang antre ngapelin," selorohnya dalam acara halalbihalal, Senin malam lalu. (Wawan Hudiyanto-42e) |