logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 PANTURA
Line

"Sebelum Turun, Diberi Uang"

DERITA yang dialami Partini (57), nenek dari Nurul Hidayah, korban penculikan di Jalan Truntum, tak kunjung reda. Setelah mengadakan acara 40 hari meninggalnya suami tercinta, selang lima hari kemudian dia kehilangan cucu kesayangannya. Ya, sejak peristiwa Nurul Hidayah diculik orang tak dikenal, Partini lebih banyak berada di rumah sendirian dan masih trauma.

Ketika Suara Merdeka datang ke rumahnya ibu kandung Suti Fatmawati ini masih kelihatan berduka. Apalagi ketika diminta menceritakan kronologi peristiwa penculikan, tidak jarang wanita tua ini mengeluarkan air mata. Namun demikian, dia tetap tegar menceritakan semua yang terjadi saat cucunya diculik.

Menurut Partini, Selasa (7/12) pukul 06.00, dia mengajak Nurul Hidayah jalan-jalan di sekitar kampung. Ketika bermaksud membeli roti di salah satu warung di Jalan Truntum, tiba-tiba sebuah mobil Kijang dengan nomor kendaraan B-9742-JL berhenti di sampingnya. Selanjutnya, turun satu orang bertubuh kekar memanggilnya.

"Kamu Partini ya. Ayo ikut ke mobil," ujar Partini menirukan suara salah satu kawanan penculik.

Karena merasa tidak mengenal laki-laki tersebut, Partini menolak. Namun, laki-laki tersebut terus memaksa, hingga akhirnya dia dan Nurul Hidayah yang masih digendongnya, ditarik masuk mobil.

Di dalam mobil, salah seorang kawanan penculik mengatakan kalau dirinya mau dipertemukan dengan saudaranya. Ketika ditanyakan siapa nama saudaranya, mereka tidak mau menjawab. "Saya tidak tahu persis siapa yang membawanya pergi, karena saya tidak berani melihat muka mereka," ujar dia dengan suara terbata-bata.

Selanjutnya, ketika laju mobil terus berjalan ke arah timur, salah seorang kawanan penculik sempat berbicara dengan seseorang melalui hand phone. Partini mengaku sempat mendengarkan pembicaraan itu, tapi dia tidak paham dengan logat bahasa yang digunakan. Menurut dia, mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa yang dipahaminya.

Dilempar Uang

Ketika sampai di daerah Weleri, tepatnya di parkiran truk, mobil kawanan penculik itu berhenti. Selanjutnya mereka mengusir dirinya agar turun dari mobil. Karena dia tidak mau turun, akhirnya dengan setengah memaksa mereka menurunkan Partini, sedangkan cucunya masih di dalam mobil.

"Sebelum turun, saya diberi uang Rp 100.000," kata dia sambil mengatakan uang tersebut diberikan para pelaku dengan cara dilempar.

Karena merasa bingung, akhirnya Partini meminta bantuan kepada orang yang berada di tempat itu agar diantar ke kantor polisi. Sampai di Polsek Weleri, dia menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Selanjutnya, mereka memberitahukan kejadian ini ke Polsekta Pekalongan Timur.

Tidak lama kemudian, rombongan dari Pekalongan yang terdiri atas anggota Polsekta Pekalongan Timur, Supardi, dan Suti Fatmawati datang menjemputnya. Tanpa dapat membendung tangis, ibu dan anak itu pun berpelukan. Mereka sama-sama kehilangan balita yang sangat dikasihi.

Sementara itu, sebelum menceritakan pengalamannya, Partini mengatakan, meski sudah lama menikah, anaknya belum dikaruniai anak. Ketika sedang mendambakan mendapat seorang anak, tiba-tiba datang ibu kandung Supardi (mertuanya-Red) memberitahukan kalau dia akan diberi seorang anak hasil adopsi. Suti tidak percaya dengan perkataan tersebut, sehingga dia terus mendesak mertuanya bagaimana bisa mendapatkan anak tersebut.

Ibu mertuanya lalu meminta dia datang di RS Kraton Pekalongan untuk melihat anak tersebut. Di tempat itu, sudah menunggu JT dan Mn yang disebut-sebut sebagai orang tua bayi tersebut. Selanjutnya, mereka menandatangani surat perjanjian adopsi di atas kertas bermaterai Rp 6.000 tertanggal 13 September 2003 tanpa ada persyaratan lain. (Moch Achid Nugroho-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA