logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Boas Salossa dkk dalam Paradoks Sepak Bola

-- Apa yang diperlihatkan tim nasional Indonesia di pentas Piala Tiger 2004 di Vietnam saat ini, mengetengahkan sebuah paradoks besar. Justru ketika masyarakat sepak bola sedang menggunjingkan ketidakberesan organisasi PSSI, timnas tampil bagus dan memberi harapan. Seolah-olah terdapat keterpisahan antara satu dan lain hal. Ketika ketua umumnya, Nurdin Halid terlilit permasalahan hukum, dan para anggota PSSI sedang mempersiapkan kemungkinan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB), timnas seperti berada "di luar persoalan". Ponaryo Astaman dkk melaju ke semifinal setelah mengalahkan Laos 6-0, seri 0-0 dengan Singapura, menang 3-0 atas Vietnam, dan 8-0 atas Kamboja. Prestasi seperti ini jarang terjadi: mengemas 17 gol dan belum pernah kebobolan!

-- Benar, kita memang tidak boleh terlalu bangga dan yakin, karena perjalanan untuk memenangi turnamen terbesar Asia Tenggara ini masih panjang. Partai semifinal akan digelar secara home and away. Tetapi bagaimanapun, timnas telah menyajikan penampilan yang berbeda. Dibandingkan dengan umumnya performa timnas selama ini, kita menyaksikan peragaan kepercayaan diri yang demikian tinggi, karakter yang kuat, dan jauh dari perasaan kalah sebelum bertanding. Sekali lagi, ini baru awal, tetapi kita melihat munculnya sesuatu yang baru di bawah polesan pelatih asal Inggris Peter Withe. Pada awal kedatangannya ke Indonesia, Withe yang sangat mengenal persepakbolaan Asia Tenggara ini membenahi pemain dari sisi mentalitas, langkah yang juga pernah dilakukannya di Thailand.

-- Mengapa memprioritaskan mentalitas, karena Withe berkesimpulan, rendahnya konfidensi pemain menyebabkan proses lambat kemajuan sepak bola di kawasan ini. Mereka memiliki potensi teknis yang sebenarnya tidak tertinggal dari rata-rata pemain Eropa, tetapi tidak pernah meyakini kemampuan tersebut. Inferioritas yang juga menghinggapi pemain Indonesia inilah yang dicoba untuk dikikis. Mantan pemain Aston Villa era 1980-an ini mampu membawa Thailand sebagai raksasa Asia Tenggara. Withe datang dengan prioritas pendekatan mentalitas. Apakah penampilan awal Ponaryo cs di Piala Tiger ini merupakan buah dari konsepsi dekonstruksi mentalitas, kita bisa memberi penilaian sendiri, walaupun secara menyeluruh hasilnya masih harus kita lihat di babak-babak selanjutnya.

-- Tanda-tanda kebangkitan konfidensi dalam permainan timnas, sebenarnya dapat kita lacak di ajang Pra-Piala Dunia, ketika menjamu Arab Saudi (kalah 1-3) dan Turkmenistan (menang 3-1). Penampilan menghadapi Arab Saudi, kendati akhirnya kalah, tidaklah memalukan. Timnas, yang secara fisik maupun teknis di bawah kualifikasi lawan, berani melakukan tekanan dengan percaya diri. Kemampuan maksimal pemain bisa dikeluarkan secara tuntas. Hal ini juga terlihat dari performa ketika mengalahkan Turkmenistan. The rising star, Boas Salossa yang mempesona ketika menghadapi Arab Saudi, kembali tampil cemerlang bersama seniornya Ilham Jayakesuma. Boas juga memperlihatkan kontribusi luar biasa di arena Piala Tiger, sebagai bagian warna-warni pasukan Peter Withe.

-- Munculnya pemain-pemain berkarakter di timnas sekarang ini mengingatkan kita pada tim era 1970-an yang dihuni para pemain seperti Iswadi Idris, Ronny Pattinasarani, Junaidi Abdillah, Suaeb Rizal, Oyong Liza, Ronny Paslah, Johannes Auri, Simson Rumahpassal, Sofyan Hadi, Anjas Asmara, Andi Lala, Risdianto, atau Hadi Ismanto. Ketika itu, timnas menciptakan hero-hero nasional. Namun perkembangan informasi global memang memberi pengaruh terhadap apresiasi publik, khususnya generasi muda kepada bintang-bintang timnas. Sekarang boleh dikata kita lebih akrab dengan para pahlawan di kompetisi liga negara-negara Eropa ketimbang bintang-bintang domestik dari Liga Indonesia. Jadi apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk kembali membangun kebanggaan?

-- Kita salut kepada media elektronik yang memberi perhatian khusus kepada kiprah timnas di tengah arus kapitalisme informasi yang lebih berorientasi pada sepak bola dunia. Jika pilihan sikap itu mampu menciptakan sinergi dengan prestasi timnas, kita yakin bakal muncul lagi kebanggaan kepada para pahlawan sepak bola. Setidak-tidaknya nama Boas Salossa, Ilham Jayakesuma, Ponaryo Astaman, atau Elie Aiboy kini mulai banyak diperbincangkan. Jadi, penampilan yang berkualitas, itulah yang menjadi syarat menentukan. Sedangkan raihan prestasi, bagaimanapun tidak akan terlepas dari bagaimana kinerja organisasi mampu melahirkan pemain-pemain hebat melalui kompetisi yang andal. Sementara kompetisi bermutu hanya mungkin lahir dari pengelolaan yang benar.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA