logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 NASIONAL
Line

Aktris dan Aktor Terbaik FFI 2004 (3-Habis)

Piala Itu Diraih di Tengah Badai Keluarga

SEBERAPA pentingkah peran pembantu dalam sebuah film? Jawabannya sudah pasti: sepenting peran utama. Bolehlah memang, dalam soal gengsi, Piala Citra untuk kategori pemeran pendukung (wanita dan pria) kalah kelas dari pemeran utama. Itu cuma soal pembagian peran yang dilakukan sutradara atau cast director (kalau ada) pada prapembuatan film. Sebab, yang pasti dalam produksi film, semua pendukung adalah satu kesatuan. Catat saja, bisa apa pemeran utama tanpa dukungan pemeran pendukung?

Nah, selain Dian Sastro dan Tora Sudiro, ketika membicarakan para bintang dalam FFI 2004, Rachel Maryam Sayyidina dan Surya Saputra pantas disebutkan. Dua nama terakhir itu menyabet Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Wanita dan Pria. Catatan menariknya, kedua orang itu memperolehnya dari film yang sama: Arisan! Rachel berperan sebagai Lita, sementara Surya menjadi Nino.

Dan khusus Rachel, sebenarnya berpeluang menjadi yang terbaik andaikan perannya sebagai Eliana dalam film Eliana, Eliana tak kalah bersaing dari Dian Sastro. Soal aktingnya dalam film layar lebar, perempuan kelahiran Bandung, 20 April 1980, itu juga layak jumawa mengingat telah beberapa film dibintanginya. Itu berbeda dari Surya, yang baru main di Arisan!.

Rachel mengawali kariernya dari model video klip Sephia milik Sheila on 7. Dalam seni peran, publik mengenalnya kali pertama dalam sinetron serial dengan judul Strawberry. Di situ dia berperan sebagai Strawberry. Begitu ditarik Riri Reza untuk film Eliana, Eliana, lesatan kebintangannya dalam film layar lebar seolah-olah tak terhentikan. Dia lalu main dalam Andai Ia Tahu dan Arisan!. Tahun depan, dua film yang dibintanginya siap diluncurkan. Yaitu, Anne van Jogja garapan Bobby Sandy dan Janji Joni garapan Nia diNata.

Sebagaimana Dian dan Tora, Rachel pun telah menunjukkan diri sebagai aktris yang bisa memerankan karakter apa saja. Istri Mohammad Akbar Perdana itu bisa menjadi Eliana yang kuat mengatasi tekanan psikologis yang dialaminya, menjadi gadis Batak yang cuek dan ceplas-ceplos seperti yang ditunjukkannya lewat Lita dalam Arisan!. Atau jadi gadis dengan tampilan bersahaja tapi sok filosofis pada Andai Ia Tahu.

Di luar itu, keseriusannya dalam memerani suatu karakter patut diacungi jempol. Lihat misalnya dia sangat serius mempelajari kebudayaan Batak dan sedikit bahasa etnis itu untuk melakoni Lita. Atau, bagaimana seriusnya dia belajar bahasa Belanda dan Jawa untuk film Anne van Jogja. Khusus untuk film tersebut, Rachel berkomentar, ''Saya antusias benar pada film itu. Sebab biasanya saya dapat peran dengan karakter keras. Di film itu, saya harus jadi perempuan yang feminim. Wah, tantangan benar!''

Agak sayang memang, pada penganugerahan Piala Citra di Ancol, Rachel tidak hadir. Piala untuknya sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dalam film Arisan! tak bisa digenggamnya sendiri dan harus diwakili Nia diNata, sang sutradara.

Badai Keluarga

Lalu bagaimana Surya Saputra? Lelaki itu harus menerima Piala Citra untuk Pemeran Pendukung Pria Terbaik di tengah-tengah badai keluarga yang sedang dialaminya. Berita yang berkembang sebelum malam penganugerahan adalah soal gugatan perceraiannya dengan sang istri, Dewi Sandra. Menariknya, ketika menerima piala, dia menyebut nama Dewi Sandra sebagai orang yang diberi ucapan terima kasih.

Setelah turun dari mimbar, ketika hal tersebut ditegaskan, dia bilang, ''Ya, bagaimanapun dia (Dewi Sandra) memberi kontribusi besar pada peran saya dalam Arisan!''

Atau, suatu ketika, Surya pernah bilang saat ditanya mengenai reaksi Dewi Sandra perihal adegan ciuman dengan Tora Sudiro. ''Dewi sangat bersemangat memberi dukungan. Eh, dia malah ikut-ikutan mendorong agar adegan ciumannya bisa lebih mesra, lo.''

Betapa pun film Arisan! adalah debut aktingnya dalam film layar lebar, peran yang dilakoni Surya memang bukan peran biasa. Berperan sebagai lelaki gay yang harus berciuman sesama jenis tentu membutuhkan keteguhan tersendiri pada seorang aktor.

''Wah, kalau cuma adegan cium pipi, mungkin biasalah. Tapi harus cium bibir dengan Tora. Dalam take (pengambilan adegan), kami harus melakukannya belasan kali. Gila. Saya sampai pernah eneg kalau lihat Tora,'' ujar dia, tertawa.

Boleh dikatakan, perannya sebagai Nino yang gay dalam Arisan! adalah ujian sebenarnya bagi personel Cool Colour itu. Bukan semata peran itu yang membawanya menerima Piala Citra, tapi proses yang harus dilaluinya tak mudah. Apalagi, selama ini peran-perannya dalam sinetron selalu menjadi lelaki macho yang digandrungi perempuan.

Ya, demi bisa sempurna dalam memerani Nino, Surya harus sering pergi ke kafe-kafe yang menjadi tempat mangkal kaum gay. ''Awal-awal ke kafe itu saya agak kecut. Tapi demi peran, saya harus membiasakan diri.''

Jadi, melihat cara Rachel dan Surya dalam memerani peranan yang dilakoninya untuk sebuah film, maka status pemeran utama dan pemeran pendukung hanyalah semata pembagian kerja dalam pembuatan film.

Tak ada yang lebih penting antara satu dan lainnya. Sebab, semua peranan itu memang penting. Bagi seorang pemain film, yang terpenting hanyalah bagaimana ia memerankannya.(Saroni Asikin-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA