| Rabu, 15 Desember 2004 | MURIA |
Sukoharjo Rindukan Adanya TPIDESA Sukoharjo, Kecamatan Kota Rembang tergolong kecil, karena cuma memiliki dua padukuhan, yakni Dukuh Kasingan dan Jarakan. Dari data desa, Dukuh Kasingan banyak dihuni oleh kalangan pegawai negeri. Sedangkan Dukuh Jarakan banyak dihuni oleh kaum nelayan. Memang, sebagian orang masih memandang sebelah mata kaum nelayan. Bahkan masih ada anggapan dari sementara orang yang mengatakan bahwa masyarakat nelayan sulit diajak maju. Tetapi hal itu hampir tidak kita jumpai di Dukuh Jarakan. Ketika Suara Merdeka bertandang ke dukuh tersebut, kemarin, melihat kesibukan para nelayan. Mereka memiliki semangat kerja cukup tinggi, pantang menyerah, dan punya keberanian layaknya seorang pelaut handal. Hal yang patut mendapat acungan jempol, para nelayan di Dukuh Jarakan bukan hanya disibukkan oleh pekerjaan mencari ikan, tetapi juga aktif dalam membangun lingkungannya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka turut berperan dalam menunjang program-program pemerintah. Kiprah Kelompok Nelayan Bina Sekar Laut I dan Kelompok Wanita Nelayan (KWN) di desa itu bisa menjadi contoh yang baik. Mereka, kaum lelaki dan wanita dari RT 1, RT 2, dan RT 3, semuanya ikut RW 1 Dukuh Jarakan punya sifat suka menolong dan terbiasa bekerja membangun desa secara gotong royong. Yang menarik dari perkampungan nelayan ini, kata Ketua Kelompok Nelayan Bina Sekar Laut I Muaidi, rakyatnya mudah diarahkan menuju kebaikan. Meskipun statusnya hanya sebagai nelayan, tetapi mereka tak mau ketinggalan dengan masyarakat dari kelompok lain. Dengan didampingi Yamini (Seksi Usaha) dan Suparman (Badan Pengawas), Muaidi mengaku tanpa susah payah mengajak para nelayan untuk membangun desanya, khususnya di Dukuh Jarakan. Mereka tak segan-segan meluangkan waktunya bila diajak bekerja secara gotong royong. Dari hasil kerja gotong royong, kelompok nelayan pimpinan Muaidi itu berhasil menyisihkan dana untuk membuat tempat pelelangan ikan (TPI). Tetapi kegiatan di TPI tersebut masih bersifat musiman, karena menyesuaikan hasil tangkapan ikan dari para nelayan setempat. Memang, hingga kini TPI tersebut belum terdaftar di Dinas Perikanan, mengingat bentuk bangunannya masih sangat sederhana, karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh kelompok nelayan di desa itu. Tetapi, diakui atau tidak, yang jelas kegiatan jual beli ikan di desa itu merupakan embrio sebuah TPI, karena bentuk kegiatannya terpusat di salah satu tempat. Menurut Muaidi, TPI itu sangat bermanfaat bagi nelayan setempat. Karena mereka bisa lebih mudah melakukan transaksi jual beli ikan di tempat itu. Bahkan sudah ada beberapa nelayan dari luar desa yang ikut menjual ikan di tempat tersebut. Pada musim rajungan, nilai jual ikan (raman) bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 10 juta perhari. Pada musim udang ramannya bisa mencapai Rp 6 juta-Rp 15 juta perhari. Bila musim teri ramannya berkisar Rp 3 juta-Rp 8 juta perhari. Kemudian Muaidi menunjuk beberapa hasil pembangunan yang didanai uang hasil jimpitan ikan dari TPI tersebut. Misalnya pembuatan doking perahu, pembuatan jalan baru sepanjang kurang lebih 100 meter untuk menghubungkan ke TPI, pelebaran jalan lama dari arah selatan ke utara (sebagai jalan akses ke TPI), dan pembuatan selokan air. Kalau dihitung biaya keseluruhan mencapai jutaan rupiah. Meski usianya baru empat tahun, karena berdiri 16 Juli 2000, kelompok nelayan ini kemajuannya cukup pesat. Sekarang sudah memiliki beberapa kegiatan usaha, di antaranya adalah jual-beli jaring dan simpan-pinjam. Terlepas dari semua itu, Muaidi berharap kepada pemerintah agar segera membuatkan TPI yang lebih bagus di Desa Sukoharjo. Sebab keberadaan TPI bisa dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kesejah teraan para nelayan.(Djamal A Garhan-15) |