| Rabu, 15 Desember 2004 | MURIA |
Pengisian Waduk Gunungrowo Belum 10 %PATI - Sampai pertengahan bulan ini (Desember) pengisian air Waduk Gunungrowo, di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Pati, ternyata belum ada sepuluh persen dari kapasitas daya tampung. Waduk yang dibangun pada tahun 1918-1921 itu mempunyai daya tampung air sebanyak 5.150.000 meter kubik. Dibandingkan dengan Waduk Seloromo, di Desa/Kecamatan Gembong yang mempunyai daya tampung 9,5 juta meter kubik, kata Kepala Subdin Pengairan Dinas Permukiman dan Prasarana (Diskimpras) Kabupaten Pati, Soetarno ST, kemampuan pengisian airnya tertinggal jauh. Padahal, katanya lebih lanjut, biasanya pada bulan yang sama kemampuan itu selalu sama. Maksudnya, jika pengisian air Waduk Seloromo mencapai sepuluh persen dari kapasitas daya tampungnya, untuk Gunungrowo pun tak jauh berbeda. Akan tetapi hingga sekarang, meskipun Seloromo sudah terisi air dari saluran pengisi sebanyak 1.189.000 meter kubik (20 persen), Gunungrowo baru terisi 135.600 meter kubik, atau kurang dari sepuluh persen. Faktor utama penyebabnya tak lain, karena saluran pengisi di Bendoroto saat ini ambrol. Akibatnya, air dari semua tampungan di kawasan Lereng Muria timur yang seharusnya mengalir ke waduk tersebut, hilang percuma sebelum masuk ke saluran pengisi Kedawung, baru masuk ke Waduk Gunungrowo. Dengan demikian, waduk tersebut kini hanya tinggal mengandalkan saluran pengisi dari Brambang. ''Karena itu, kerusakan bangunan saluran Bendoroto sangat mendesak untuk diperbaiki, agar pengisian waduk bisa normal kembali seperti waktu sebelumnya,'' ujarnya. Dilaporkan Menyangkut kerusakan saluran pengisi, katanya lagi, pihaknya sudah melaporkan ke Balai Pemberdayaan Sumber Daya Air (BPSDA) Serang, Lusi, Juwana (Seluna). Balai itulah yang sebenarnya mempunyai kewenangan terhadap pengelolaan air waduk di wilayah kerjanya. Namun, ketika menyangkut pembiayaan untuk keperluan perbaikan saluran pengisi yang rusak, balai yang bersangkutan menyatakan tidak mempunyai dana. Sebagaimana pesan pendek (sms) yang dikirim Kepala BPSDA Seluna, Ir Agus Purwadi CES ke pihaknya, bahwa alokasi dana untuk BPSDA Seluna banyak yang dikepras. Hanya, kepala BPSDA Seluna itu menjanjikan, akan mengupayakan bantuan dana ke Pemprov Jateng. Terlepas dari masalah tersebut, pihaknya kini telah berupaya untuk melakukan perbaikan saluran pengisi yang rusak secara darurat dengan biaya dari perubahan APBD Kabupaten Pati Tahun 2004. Upaya itu harus dilakukan, karena semata-mata mengingat kepentingan petani pemakai air di wilayahnya. Sehingga yang penting, perbaikan saluran pengisi secara darurat bisa dilaksanakan dengan memasang karung berisi tanah, agar air dari daerah tangkapan yang masuk ke saluran tersebut tidak terbuang sia-sia. Sedangkan upaya untuk memperbaiki secara permanen, tentu masih harus menunggu setelah penetapan APBD Kabupaten Pati Tahun 2005. ''Permohonan alokasi dana APBD untuk keperluan itu, seluruhnya mencapai Rp 200 juta.''(ad-15) |