| Rabu, 15 Desember 2004 | MURIA |
Jelang Pilbup Blora (Habis)Nama-nama Lain Bisa Ubah Peta PolitikSAMPAI saat ini yang diperkirakan banyak pihak punya cukup berpeluang dalam Pilbub Blora periode 2005-2009 nanti memang Basuki widodo dan Tomo. Hanya saja belakangan muncul rasanan kuat bahwa sejumlah tokoh muda bakal ikut tampil dalam bursa pencalonan. Jika saja rasanan itu benar menjadi kenyataan, artinya beberapa tokoh muda itu muncul dan diakomodasi oleh partai politik yang disyaratkan UU bisa mengusulkan pasangan calon, besar kemungkinan akan mengubah peta politik. Setidaknya kompetisi yang ada dan terjadi bukan hanya antara Basuki Widodo dan Moch Hartomi Wibowo, melainkan tingkat kompetisi akan membias ke beberapa pasangan lainnya. Meski juga tidak menutup kemungkinan dengan munculnya beberapa nama terakhir tersebut, nantinya akan menguntungkan salah satu pasangan yang disebut-sebut cukup berpeluang memimpin Blora lima tahun mendatang. Bisa saja menguntungkan kubu Basuki Widodo, namun sebaliknya bisa juga menguntungkan kubu Tomo. Beberapa tokoh muda Blora yang belakangan disebut-sebut bakal ikut meramaikan bursa pencalonan bupati tersebut, diantaranya Drs Didik Lukardono SH (Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Blora), Gatot Pranoto BE (Ketua KPUD Blora), Ir Bambang yang salah seorang kades di wilayah Kecamatan Kunduran. Termasuk Nama Dasum SE, seorang mantan Kades di wilayah Kecamatan Kedungtuban yang saat ini menjadi anggota DPRD Blora. Bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya bakal muncul sejumlah nama putra daerah yang saat ini sukses di luar kota. Didik saat dikonfirmasi Suara Merdeka, beberapa kali menyatakan tidak etis jika saat ini membuat statemen bahwa dirinya akan ikut nyalon. Pasalnya, dengan berpedoman falsafah Jawa - ratu yang ada saja masih ngadeg kok sudah diothak athik. Nama Didik, boleh jadi tidak setenar beberapa calon yang disebut paling berpeluang, hanya saja posisinya yang saat ini menjabat sebagai kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan, pernah menjabat sebagai ketua KNPI Blora dan beberapa predikat lainnya, berapapun besarnya tentu mempunyai massa. Dia selama ini cukup dekat dengan kalangan seniman di Blora, di beberapa kalangan juga demikain halnya. Jika saja nanti muncul dan berpasangan dengan sebuah figur yang mempunyai basis massa yang memadai - kans untuk mengubah kekuatan politik tetap saja ada. Ketua KPUD Blora, Gatot Pranoto BE yang juga Ketua Yayasan Mahameru, sebuah yayasan yang bergerak di bidang seni budaya dan kepurbakalaan - tampaknya juga merupakan kekuatan tersendiri. Tersamar Ir Bambang, seorang kades di wilayah Kecamatan Kunduran, belakangan ini disebut-sebut akan muncul sebagai kandidat. Dihubungi Suara Merdeka, dia mengisyaratkan akan mencalonkan diri. ''Memang sesuai aspirasi dari rekan-rekan paguyuban Kades Blora, menargetkan supaya ada perwakilan kades yang bisa duduk di jajaran birokrasi,'' ungkapnya. Ditanya target apakah akan muncul sebagai Blora I atau Blora 2, Bambang tampaknya cukup tahu diri, sehingga targetnya akan ikut nyalon sebagai Blora dua. ''Kami juga cukup tahu diri. Hanya saja kalau ditanya akan berpasangan dengan siapa, kami juga belum bisa jawab,'' tambahnya. Kalau memang benar kemunculan Bambang atas desakan dari rekan-rekan anggota paguyuban kades yang ada di Blora, tampaknya potensi dia juga tidak bisa dianggap enteng. Minimal, jelas akan memecah konsentrasi massa. Logikanya, kades pendukungnya, entah sedikit atau banyak, jelas mempunyai masa pendukung di masing-masing desa. Posisi Bambang bisa jadi menjadi daya pikat calon yang menargetkan akan tampil sebagai calon Blora satu, sehingga posisi tawarnya bisa cukup tinggi. Satu hal yang mungkin cukup menganggetkan, H Kusnanto yang saat ini diperbincangkan banyak pihak akan berpasangan dengan Basuki Widodo, kepada Suara Merdeka, baru-baru ini mengaku, seusai Musda Golkar Tingkat I, di mana memunculkan Bambang Sadono sebagai Ketua DPD Golkar Tingkat I Jawa Tengah, pihaknya tidak lagi akan muncul sebagai calon wakil bupati, melainkan justru menargetkan akan nyalon sebagai Blora 1. ''Saya kira wajar, kondisi politik yang ada di Jawa Tengah akan mengubah target Fraksi Golkar di daerah dalam konteks pelaksanaan Pilkada. Termasuk di Blora, sehingga kami akan muncul sebagai Blora 1.'' Bagaimana jika kelak Ketua NU Blora, Abunafi SH muncul sebagai calon bupati? Kembali peta politik di Blora akan pecah-belah. Sebagai Ketua NU sudah tentu laki-laki yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengawas Daerah itu mempunyai basis massa sampai di tingkat pedesaan. Potensi ini jika saja dipadukan dengan pasangan yang juga mempunyai basis massa besar, peluang Abu juga cukup besar. Semua fraksi tersebut saat ini belum mempunyai gambaran tentang calon yang akan dimunculkan. Hal ini dikarenakan intern partai sudah tentu mempunyai mekanisme tersendiri. Kita tunggu saja bulan Juni mendatang, siapa yang akan maju dan siapa yang akan keluar sebagai pemenang dan berhak memimpin Blora 2005 - 2009. (Urip Daryanto-15) |