| Rabu, 15 Desember 2004 | MURIA |
Tanggul Kali Piji Rawan Longsor
KUDUS - Ruas tanggul Kali Piji di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus sepanjang lebih kurang 1.000 meter rawan longsor. Gerusan air bahkan sudah mendekati rumah warga. Dikhawatirkan jika debit air sungai makin meningkat, sejumlah rumah di bantaran sungai tersebut akan hanyut. Sementara itu, sejak Minggu lalu Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Serang Lusi dan Juana (BPSDA Seluna) meninggikan tanggul kanan Kali Gelis di timur Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kudus yang amblas rata-rata 0,5 meter sepanjang 1.000 meter. Kepala BPSDA Seluna Ir Agus Purwadi CES mengucapkan terima kasih kepada warga Goleng yang mau mengerti tujuan perbaikan tanggul tersebut. Sekitar 30 kandang hewan piaraan warga yang terdapat di atas tanggul dibongkar oleh pemiliknya karena ada perbaikan itu. Fungsi tanggul di situ, lanjutnya, amat vital karena merupakan pertemuan Kali Gelis dan Sungai Wulan. Alur Kali Gelis yang bermata air dari kawasan Gunung Muria memang akhirnya masuk Sungai Wulan di Dukuh Goleng yang kemudian bermuara di kawasan pantai wilayah Kecamatan Kedung, Jepara. ''Meski Kali Gelis tidak pasang, kalau Sungai Wulan sedang pasang, fungsi tanggul di Goleng itu sangat vital. Sebab, arus air Sungai Wulan bisa masuk hingga ratusan meter ke arah hulu (atas) Kali Gelis,'' paparnya. Pihaknya pada Sabtu lalu juga telah menambal tanggul SWD2 di Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara yang berlubang. Ancam Rumah Menurut penuturan Kades Hadipolo, Nur Kholis, DPUK Kudus telah menormalisasi alur Kali Piji. Namun dia menilai, langkah itu belum secara optimal mengurangi ancaman limpasan dan gerusan air sungai yang debit airnya akan semakin bertambah pada musim penghujan ini. ''Kami memang belum mengajukan secara resmi permintaan tersebut. Akan tetapi sebagai langkah antisipasi, perbaikan tanggul secara permanen dianggap sebagai sebuah langkah yang tepat,'' ungkapnya. Kasi Pengairan DPUK Ir Arumdyah Lienawati mengemukakan, pihaknya memang berkeinginan untuk membuat tanggul secara permanen di setiap daerah yang mempunyai kerawanan terkena limpasan air sungai. Hanya, ujar dia, hal itu selalu berhadapan dengan persoalan dana. ''Untuk normalisasi lokasi tersebut paling tidak dibutuhkan dana lebih kurang Rp 1 miliar, apalagi jika harus dibangun tanggul secara permanen,'' ungkap Arumdyah kepada Suara Merdeka, kemarin. Dia menuturkan, kondisi tanggul di dua dukuh, yakni Jembleng dan Argopuro, yang berada di tepi Sungai Piji masih belum terlalu mengkhawatirkan. Hanya, untuk beberapa kawasan permukiman yang gerusan airnya sudah mendekati bangunan rumah, kemungkinan akan dibuatkan parapet (Jawa: awir). Kadus Argopura (Desa Hadipolo) Nur Khasim meminta dinas terkait mengupayakan pembangunan tanggul secara permanen. Harapan senada disampaikan Kuncoro yang bangunan rumahnya bagian belakang hanya berjarak dua meter dari bibir tanggul yang rawan longsor. ''Kalaupun proyek pembangunan tanggul secara permanen tersebut benar-benar dilaksanakan, hendaknya disosialisasikan terlebih dulu kepada masyarakat di tempat itu,'' kata Khasim. Menurut keterangannya, ada dua RT di RW 1 (RT 3 dan RT 4) dan satu RT di RW 2 yang berada persis di bantaran Sungai Piji. Untuk itu, pihaknya mengusulkan adanya pembangunan tanggul kiri dan kanan Sungai Piji sebagai antisipasi ancaman banjir di tempat tersebut. (ton/yit-15j) |