logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 SEMARANG
Line

''Potret Negeriku,'' Benang Merah yang Dipaksakan

SEORANG bocah laki-laki meringis kesakitan, saat obat merah yang dituang seorang bocah perempuan membasahi luka di lututnya. Ekspresi wajahnya menyiratkan, betapa ia menahan perih yang nyaris tak tertahankan.

Seorang bocah lain yang berada di antara keduanya, memperhatikan proses pengobatan itu secara saksama. Raut mukanya tegang, seolah turut merasakan sakit yang tengah mendera kawan bermainnya itu.

Sebentuk kecil kesetiakawanan itu terpapar dalam sebuah karya Agus Wismanto yang dipajang dalam Pameran Foto Tunggal ''Potret Negeriku'' di areal parkir Gedung IKIP PGRI, Jl Lontar 1, 13-15 Desember. Dalam dunia fotografi, karya foto Agus dikategorikan sebagai foto konsep. Foto yang dibuat dengan rancangan matang sang kreator, baik secara teknis maupun komposisi.

Tapi tunggu dulu, bukankah foto pertama yang diilustrasikan di atas cenderung ekspresif? Itu benar. Agus lantas mengisahkan ikhwal penciptaan foto tersebut.

Suatu hari di tahun 2000, anak lelaki Agus bermain di pekarangan rumahnya, kompleks Perum Plamongan Indah Semarang. Saat berlari, ia jatuh tersungkur. Dua kawan sepermainannya, serta-merta mengulurkan tangan dan mengobati luka di lututnya.

Agus yang melihat kejadian itu, lantas mengambil kamera dan mengabadikannya. Namun dalam pengambilan angle, dia tidak asal begitu saja. Agus mengambil beton penutup sumur yang berlobang di tengahnya. Lobang berbentuk kotak itu dia jadikan sebagai frame foto hasil jepretannya.

''Walaupun itu peristiwa betulan, tapi saya menggunakan konsep saat memotretnya,'' jelas Agus, di sela acara pembukaan pameran, Senin (13/12) malam.

Beragam Objek

Pada karya lain, sesosok wayang Bima terbenam di tengah rawa. Bayangan tubuhnya yang gagah perkasa, dengan bentuk tangan gendewa pinentang terbiaskan pada genangan air di bawahnya.

Dalam foto itu, Agus hendak melakukan visualisasi kisah Bima saat mencari tirta amarta. Air rawa, dia ibaratkan samudra tempat bersemayam naga raksasa. Dalam karya itu, konsep foto Agus benar-benar kentara.

Ya, 57 karya Agus yang dipamerkan itu- 48 di antaranya foto-foto lama- semuanya masuk dalam kategori foto konsep. Berbeda dengan foto jurnalistik yang dibuat tanpa rekayasa, foto konsep menata sedemikian rupa objek-objeknya.

Penataan di sini tak hanya dilakukan terhadap objek yang bergerak, seperti manusia, binatang, dan benda-benda, melainkan lanskape pemandangan alam.

Tak mengherankan, jika hasil karya fotografer yang berproses di Klub Mata Semarang itu terlihat matang, baik dari komposisi bidang, warna maupun gelap-terang.

Objek-objek yang diambil pada beberapa kota di Jawa Tengah, seperti Semarang, Jepara, Brebes, dan Solo dalam rentang tahun 2000 hingga 2004 itu cukup beragam, dari kelucuan anak-anak, model perempuan, lanscape, maupun aktivitas masyarakat pinggiran. Tajuk ''Potret Negeriku'' yang dipasang dalam pameran itu seolah sekadar benang merah yang dipaksakan.

Peraih juara foto ekspresi tingkat nasional (2000) tersebut secara jujur tidak berkehendak menyampaikan sesuatu dalam karya-karyanya. Dia hanya berharap, karya-karya tersebut dapat memberi manfaat bagi orang lain. Dalam penyajian, Agus sengaja tidak menerakan judul maupun kepsen pada setiap foto yang dipajang. Itu dimaksudkan agar para apresian punya ruang yang bebas untuk mengintepretasi karya-karyanya. (Rukardi-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA