logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 SEMARANG
Line

Doktor IAIN Walisongo

DISERTASI Pondok Pesantren Tradisional di Era Globalisasi "Kasus Reproduksi Ulama di Kabupaten Pati, Jateng" mengantarkan Muhtarom HM sebagai doktor baru IAIN Walisongo. Bahkan oleh para pengujinya, disertasi itu pun dianjurkan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

"Menurut penguji, disertasi saya memuat substansi yang dapat digunakan untuk memperbaiki dunia pendidikan Islam," kata dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

Gelar itu diraihnya setelah menimba ilmu 3,5 tahun di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan predikat sangat memuaskan.

Dia menuturkan, pesantren tradisional yang berada di perkampungan, di satu sisi dihadapkan pada konsep hanya sebagian kecil penghuni yang mampu memelihara nilai, tradisi, kebudayaan, kelembagaan, ritual, dan simbol-simbol. Adapun yang lain terhanyut oleh arus global.

Sementara pada sisi lain, globalisasi menyebabkan penyusutan pranata sosial dan budaya lokal. "Saya tertarik untuk mengeksplorasi sejauh mana globalisasi memengaruhi sistem reproduksi ulama pesantren tradisional dan bagaimana caranya merespons serta mengantisipasi arus globalisasi," katanya.

Penelitian dilakukan di Pesantren Raudlatul Ulum dan Bustanuth Tholibin di Kabupaten Pati. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam analisa data digunakan teknik analisa deskriptif sosiologis-antropologis dalam membuat kesimpulan. Penelitian dilakukan dua tahun.

"Hasil penelitian menunjukkan globalisasi tidak berpengaruh pada wilayah akidah komunitas pesantren tradisional. Globalisasi berpengaruh pada kehidupan santri, ustad, kiai, dan media pendidikan."

Pengaruh globalisasi itu antara lain pada santri terlihat lebih kritis namun kedisiplinan beragama relatif menurun. Pada ustad, cakrawala berpikir mereka meningkat dan ada keinginan mengonsumsi produk global. Kiai pengasuh pesantren juga terpengaruh mengonsumsi produk global.

Media pendidikan yang digunakan kedua pesantren itu pun berbeda, Bustanuth Tholibin masih menggunakan media pendidikan tradisional.

"Pesantren harus bertindak antisipatif agar nilai-nilai tradisional tetap terpelihara, yaitu dengan meneguhkan tradisi Islam, pembelajaran kutub al salaf, mengintensifkan budaya teknokratik, dan demokratis," tuturnya.

Artinya, pesantren harus mengembangkan paradigma tidak mendikotomikan ilmu dan mengondisikan santri selalu membaca media massa. (Hernandhono-84s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA