logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Desember 2004 INTERNASIONAL
Line

Kalah, Chen Mundur dari Ketua DPP

TAIPEI - Presiden Taiwan Chen Shui-bian, Selasa kemarin, mundur dari jabatan ketua Partai Progresif Demokratis (DPP) yang pro-kemerdekaan. Dia mengakui bahwa kekalahan DPP dalam pemilu legislatif Sabtu lalu adalah akibat kesalahannya.

Dia diperkirakan juga akan menunjuk kabinet baru setelah partai-partai oposisi menguasai mayoritas tipis kursi di parlemen, Sabtu lalu. Media Pemerintah China menafsirkan hasil itu sebagai kemunduran kekuatan separatis di pulau yang diklaim Beijing sebagai provinsinya tersebut.

"Merasakan kalah itu tidak menyenangkan. Tak seorang pun suka kalah," kata sang presiden serius dalam suatu pernyataan di markas DPP di Taipei.

"A-Bian sekali lagi tertunduk di depan seluruh pendukung, anggota partai, dan kandidat yang kalah, untuk menyampaikan penyesalan saya yang terdalam," katanya, sambil menunduk dalam-dalam. A-Bian adalah sapaan akrab Presiden Taiwan itu.

Dia mengatakan dia mundur sebagai ketua partai. Tokoh DPP Ker Chien-ming disebut-sebut akan mengambil alih untuk sementara waktu sampai partai itu memilih ketua baru.

Tingkatkan Citra

Para pengamat mengatakan, pengunduran diri itu akan memberikan Chen peluang untuk meningkatkan citra politik partai tersebut, dan memperkuat mandatnya, dengan mengatakan dia mewakili ke-23 juta rakyat Taiwan, bukan hanya kubu pro-kemerdekaan.

Hanya itulah yang disampaikan Chen dalam pidatonya. Dia menyerukan persatuan dan rekonsiliasi di antara partai-partai dan mengatakan dia akan menjadi presiden tanpa warna politik apa pun.

Meski politik luar negeri Taiwan dan kebijakan tentang China selalu didikte oleh sang presiden, Chen juga berisiko mendapat tentangan dari partainya jika seorang politikus kuat muncul menjadi ketua DPP.

"DPP biasanya bergantung hanya pada satu orang, yakni Chen, yang memutuskan segalanya," kata Liu Bih-rong, ilmuwan politik pada Universitas Soochow, Taiwan.

"Setelah kekalahan ini, pertanyaannya adalah apakah dia akan menjadi lebih rendah hati dan mau mendengarkan suara-suara yang berseberangan?"

Chen telah mengubah kampanye pemilu legislatif menjadi perdebatan isu jati diri Taiwan melawan China.

Dia mengusulkan untuk menegaskan kedaulatan pulau tersebut dengan menghilangkan nama China dari BUMN-BUMN dan kantor-kantor perwakilan Taiwan di luar negeri.

"Hasil pemilu itu menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Taiwan ingin mempertahankan status quo dalam hubungan dengan China daratan, dengan memperkecil koalisi pro-kemerdekaan pimpinan Chen," bunyi tajuk koran Pemerintah China, China Daily.

China mengklaim kedaulatan atas Taiwan dan mengancam akan menginvasi jika pulau berpenduduk 23 juta jiwa tersebut menyatakan kemerdekaan. Chen mengatakan, Beijing punya lebih dari 600 rudal yang diarahkan ke Taiwan. (rtr-ben-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA