| Rabu, 15 Desember 2004 | EKONOMI |
''BI pun Terkecoh .....''JAKARTA-Sudah saatnya Bank Indonesia (BI) menerapkan model pengawasan yang lebih transparan dengan pendekatan total productivity factor masing-masing bank. Demikian diungkapkan oleh Ahmad Deni Daruri, Presiden Direktur Center for Banking Crisis, kemarin. Melalui penggunaan pendekatan output produktivitas tersebut, lanjut dia, masyarakat sudah dapat mendeteksi beberapa bulan sebelumnya jika ada bank yang akan kolaps. Tidak sebagaimana dalam kasus PT Bank Global Internasional Tbk yang berdasarkan data September masih memiliki rasio kecukupan modal atau CAR di atas 40%, tetapi 27 Oktober sudah negatif. Begitu juga indikator-indikator lainnya. "Jadi modus pemaparan laporan keuangannya saja yang perlu diperbaiki agar lebih transparan. Model pengumuman laporan keuangan yang ada sekarang masih terlalu umum dan masyarakat mudah terkecoh. Bahkan BI sendiri pun terkecoh," jelasnya. Menurut Deni, lewat pendekatan total productivity factor sejak tahun 2001 dan 2002 sebenarnya sudah terlihat di Bank Global ada masalah. Pada saat itu bank tersebut memang membukukan laba, mempertahankan CAR, serta meningkatkan rasio pinjaman atas simpanan atau loan to deposit ratio (LDR), tetapi biaya rata-rata marjinalnya melonjak drastis. "Artinya untuk mencapai kinerja yang baik tersebut Bank Global mengeluarkan biaya sangat besar," tuturnya. Masalah itu berlanjut dan beberapa bulan terakhir bank bersangkutan mulai kesulitan likuiditas. Untuk menutup itu semua mencoba menerbitkan reksadana yang kemudian diketahui fiktif karena peraturannya memang bank tidak boleh menerbitkan instrumen investasi tersebut. "Sangat mungkin reksadana atas nama perusahaan yang dibentuk Bank Global, lalu penjualannya melalui bank itu untuk menangkap pasar dari nasabahnya sendiri," ujarnya. (bn-53) |