| Senin, 13 Desember 2004 | SALA |
Dipertan Jamin Pasokan PupukDATANGNYA musim hujan disambut gembira para petani. Mereka dengan antusias mulai mengolah lahannya untuk ditanami padi. Namun di tengah kegembiraan tersebut, terbersit perasaan cemas tentang kelangkaan pupuk seperti yang dialami musim lalu. Bagaimana persiapan menghadapi musim tanam (MT), berikut wawancara dengan Kepala Dipertan, Ir Sri Sutarni. Musim tanam sudah datang, bagaimana persiapan Dipertan? Yang jelas, kami sudah melakukan berbagai persiapan. Yang paling penting, pasokan pupuk jangan sampai terlambat, seperti yang terjadi pada MT lalu. Kami sudah mengadakan koordinasi dengan gudang pupuk Pusri di Nguter, yang memberi jaminan ketersediaan pupuk untuk petani. Sudah ada jaminan, harga pupuk di tingkat petani Rp 1.050/kg. Berapa jatah pupuk yang disediakan untuk menyongsong MT sekarang ini? Kami sudah menyiapkan sebanyak 4.500 ton untuk mencukupi areal tanam seluas 15.000 ha. Memang MT kali ini mundur, karena hujan baru datang pada Desember. Bukankah saat itu Bendung Colo sudah selesai diperbaiki? Benar. Namun saat bendung dibuka, baru sempat mengairi sekitar 3.000 ha. Nah, sisanya yang 12.000 ha baru bisa diolah setelah hujan turun. Otomatis, MT rendeng atau musim hujan pun mengalami kemunduran. Saat ini sejumlah petani sudah mengeluhkan kelangkaan pupuk di sejumlah tempat. Apa penyebabnya? Kami sudah mengecek ke lapangan, ternyata belum ada kelangkaan. Memang pasokan agak tersendat, karena terjadi antrean panjang di gudang. Pasalnya, saat ini terjadi antrean truk yang bermaksud mengangkut pupuk dari gudang ke distributor. Bila biasanya para pekerja hanya melayani 10 truk, kini melonjak hingga 20 truk/hari. Sebagian petani mulai melirik varietas Rojolele sebagai pengganti varietas IR 64, karena nilai jualnya lebih tinggi. Apakah penanaman varietas lokal tersebut diperbolehkan? Pada dasarnya kami tidak mempersoalkan. Mangga saja, kalau mau menanam Rojolele. Namun untuk memudahkan pemantauan, minimal luas areal harus mencapai 2,5 ha. Jangan hanya satu atau dua petani, nanti malah merepotkan karena rentan serangan hama.(Joko Murdowo-80a) |