| Senin, 13 Desember 2004 | RAGAM |
Tebal dan Tipisnya Iman (1)SESEORANG dengan tebal imannya adalah yang mempunyai pendirian teguh, istiqomah, tidak terperdaya bujukan setan, tidak terpengaruh harta dan pangkat dan tidak hanyut kemewahan dunia. Sedangkan yang tipis iman ialah seseorang yang mempunyai pendirian lemah, rapuh, tidak istiqomah, mudah terperdaya bujukan setan, mudah terpengaruh harta dan pangkat serta hanyut kemewahan dunia. Firman Allah Surat Al-Ahqaf ayat 13 menyebutkan ''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal saleh), maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita''. Contoh orang yang memiliki ketebalan Iman : - Nabi Muhammad saw. Sebagai contoh, pernah orang-orang kafir Quraisy menawarkan tiga ta kepada Nabi kita Muhammad saw., yakni harta, wanita dan tahta, asal saja beliau mau berhenti dari dakwah dan mengajarkan agama Islam yang dibawanya. Beliau menjawab dengan tegas, meskipun matahari kamu letakkan di tangan kanan dan bulan kamu letakkan di tangan kiriku, namun aku tidak akan berhenti dari berdakwah menyampaikan ajaran yang benar ini. - Masyitah, tukang sisir anak Fir'aun, rela dibakar hidup-hidup daripada imannya tergadai kepada Fir'aun yang zalim. - Ammar bin Yasir, seorang tokoh sahabat Rasulullah saw. yang pemah disiksa, diseret di padang pasir dalam keadaan tidak berpakaian, dicambuk dan didera. Ibunya dibunuh di depan matanya pada waktu ia dalam keadaan terikat, dia dipaksa supaya meninggalkan agama Islam yang dianutnya, namun dia tetap pada pendiriannya, sampai akhir hayatnya tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ciri-ciri tanda tebal iman, antara lain ada dalam firman Allah Surat Al-Anfal ayat 2-4: ''Sesungguhnya orang-orang yang beriman (yang sempurna), itu hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka, karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka''. Menurut ayat-ayat tersebut, tanda orang yang mempunyai iman sempurna atau tebal adalah : 1. Apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, bertambah takutnya kepada Allah. 2. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambah-tambah imannya. 3. Tawakkal atau berserah diri selalu kepada Allah, lahir dan batin. 4. Menegakkan shalat dengan sempurna, sesuai dengan syarat dan rukun, menjaga kualitas dan kuantitas serta waktu dari shalat itu. 5. Membelanjakan limpahan karunia Allah pada jalan-Nya. Pada ayat 4 Surat Al-Anfal, Allah menyatakan : ''Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya (tebal). Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia''. Menurut penelitian para ahli, tingkatan iman yang beriman itu adalah: a. Iman bittaqlid. Yakni orang yang belum mempergunakan ilmu dan akalnya untuk mengenal dalil atau argumentasi, terutama mengenai tauhid. Semuanya didasarkannya kepada pendapat orang lain. Misalnya, kita bertanya kepada seorang bapak. ''Percayakah Bapak bahwa Allah itu ada? Bapak tersebut menjawab, ''Percaya''. Lantas kita ajukan pertanyaan kedua: ''Apa dalilnya?'' Bapak tersebut menjawab: ''Dalilnya begitulah menurut keterangan Pak ustadz''. Dia belum mempergunakan ilmu dan akalnya untuk mengenal dalil atau bukti-bukti tentang adanya Allah. Dia bersandar kepada pendapat orang lain, dalam contoh tersebut, dia bersandar kepada pendapat ustadznya. Iman seperti itu, dinamakan iman bittaqlid, kelas satu paling rendah. Dia tergolong mubtadi, newcomer atau muallaf yang baru memeluk agama Islam. b. Iman bil 'Ilmil yaqin. Yakni seseorang yang sudah mempergunakan ilmu dan akalnya untuk mengenal dalil, tidak lagi didasarkan kepada pendapat orang lain. Misalnya kita bertanya kepada seseorang, ''Yakinkah lbu hari kiamat akan terjadi?'' Ibu itu menjawab dengan pasti, ''Yakin''. Lantas kita ajukan pertanyaan berikut, ''Apakah dalilnya?'' lbu menjawab dengan singkat, ''Ya .. dengan adanya alam ini''. Tidak perlu komentar panjang lebar tentang bagaimana caranya alam ini dapat menjadi dalil bagi kepastian terjadinya hari kiamat. Dengan sudah mempergunakan ilmu dan akal itu, maka iman ibu bersangkutan telah naik ke kelas dua, iman bil `Ilmil yaqin. Ibadahnya telah mulai sempurna dan tertib. Shalat, puasa, zakat dan hajinya serta ibadah-ibadah yang tain sudah baik. Cuma kalau iman orang yang baru kelas dua, yang haram-haram sedikit, masih mau dikerjakannya. (Tim Kajian Qolbun Salim-35) |