| Senin, 13 Desember 2004 | BANYUMAS |
Ebeg Perlu DipertahankanSUARA gamelan terdengar bertalu-talu menggema di seputar kawasan wisata Baturraden. Di depan panggung pertunjukan hiburan lokawisata itu, tak kurang dari lima orang pemain kuda lumping dengan pakaian warna oranye, matanya jelalatan. Dua orang berpakaian hitam-hitam menghampiri salah seorang pemain kuda lumping yang di Banyumas biasa disebut ebeg. Dahinya disebul. Mulutnya diminumi air kembang. Dalam sekejap, pemain kuda lumping yang sudah diberi rapalan dan doa-doa (dijantur), tubuhnya menggelepar di tanah layaknya orang sedang kerasukan makhluk halus. Semakin siang, pemain kuda lumping yang tengah kerasukan semakin bertambah. Bahkan, beberapa penonton pun ada yang ketularan, terkena semacam indang ebeg. Para pemain dan penonton yang tertular itu berjoget seiring dengan bunyi gamelan dari atas panggung. ''Janturan merupakan puncak dari pertunjukan ebeg. Kalau tak ada janturan-nya kurang disukai oleh penonton. Kadang dalam janturan ini ada pemain yang sampai makan pecahan kaca,'' tutur Djatmiko, ketua panitia Festival Baturraden, kemarin. Festival ini melombakan beberapa seni rakyat atau seni tradisional di antaranya kuda lumping. Festival Baturraden kali ini, selain ebeg juga ada lomba hadrah dan kentungan. Kuda lumping difestivalkan karena merupakan kesenian yang tumbuh di masyarakat. Mereka (para pemain maupun sang dukun) adalah rakyat biasa yang umumnya petani. Saat ini, pertunjukan kesenian asli Banyumas itu, sudah jarang dipertontonkan kecuali pada peringatan-peringatan tertentu seperti HUT Kemerdekaan RI. Diakui oleh Djatmiko, untuk menggelar satu babak pertunjukan kuda lumping hingga janturan, satu grup paling tidak dibutuhkan biaya antara Rp 750.000 - Rp 1 juta. ''Biaya sebanyak itu cukup besar. Biaya itu untuk berbagai perlengkapan. Selain gamelan, pemain dan sang dukun juga uba rampe sesajian perlu biaya tak sedikit,'' jelasnya. Kalau dihitung pendapatan pemain atau pemilik grup (yang biasanya bertindak sebagai dukun), barangkali tidak besar. Yang membuat biayanya jadi besar adalah banyaknya perlengkapan yang harus disiapkan. Karena itu, kata dia, tak mengherankan bila akhir-akhir ini jarang ada pertunjukan kuda lumping tradisional yang disewa. Menurut dia yang juga ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB), kalau tidak diuri-uri, ebeg Banyumasan yang merupakan kesenian rakyat, dikhawatirkan semakin hari akan semakin dilupakan. Untuk menjaga agar kesenian rakyat itu agar tak punah, PMPB bekerja sama dengan PT Perhutani Alam Wisata (Palawi) Unit Kerja Baturraden, setiap tahun mengagendakan kegiatan Festival Baturraden yang diisi dengan lomba seni tradisional, grebeg suran, dan berbagai kegiatan budaya tradisional lainnya. ''Selain untuk menarik wisatawan, festival digelar dalam rangka nguri-uri budaya tradisional yang tumbuh dari rakyat,'' jelas Kepala PT Palawi Baturraden Rudianto. Pada tahun 2004 ini, kata dia, jumlah peserta festival kuda lumping mengalami penurunan, yakni hanya empat grup. Padahal tahun 2003, festival kuda lumping diikuti lebih dari lima grup. Untuk festival kentungan diikuti 50 grup, dan hadrah diikuti 19 grup. ''Kami berharap dengan festival ini masyarakat semakin sadar untuk mempertahankan berbagai kesenian tradisional yang ada. Jangan sampai punah oleh munculnya budaya-budaya asing,'' imbuhnya. (Sigit Oediarto-92m) |