| Jumat, 10 Desember 2004 | SALA |
Beban RSO Surakarta Sangat BeratSUKOHARJO- Menteri Kesehatan Dr dr Siti Fadilah Supari Sp JP(K) mengatakan, Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Surakarta menanggung beban sangat berat. Beban berat itu dirasakan karena RSO Prof DR R Soeharso tersebut adalah satu-satunya rumah sakit milik pemerintah yang harus menangani kasus ortopedi dengan jumlah pasien kian banyak. Beban berat lain, karena rumah sakit bedah tulang itu menjadi rujukan pelayanan, tempat pelatihan, dan teaching hospital dalam mendidik tenaga kesehatan, khususnya di bidang ortopedi dengan kualitas tinggi. Dengan beban tersebut, rumah sakit itu diharapkan dapat mencapai kapasitas yang optimal. Hal itu dikatakan Menkes saat meresmikan gedung rawat jalan RSO di Pabelan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, kemarin. Pada kesempatan sama, Menkes meresmikan dimulainya bakti sosial di rumah sakit tersebut. Bakti sosial itu berupa operasi gratis total knee replacement (penggantian tulang sendi panggul) terhadap 10 pasien. Bakti sosial dilaksanakan bekerja sama dengan RS ''Bernhoven Oss'' Belanda. Dengan adanya perubahan paradigma perumahsakitan, mulai dari desentralisasi, globalisasi, paradigma customer oriented, menurut Menkes, memacu rumah sakit itu harus menjawab tantangan tersebut dengan berbagai langkah-langkah inovatif. Dia mengungkapkan, pembangunan kesehatan di Indonesia telah menghasilkan perubahan tingkat kesehatan masyarakat yang ditandai oleh berbagai kemajuan seperti penurunan angka kematian bayi dan balita, pengurangan berbagai penyakit menular, serta peningkatan umur harapan hidup. Bertambah Namun perubahan tingkat kesehatan itu, katanya, juga memacu kecenderungan transisi epidemiologi panyakit. Yakni bertambahnya penyakit degenerasi termasuk beberapa kasus ortopedi. ''Kecenderungan ini juga dipacu oleh berubahnya gaya hidup akibat urbanisasi dan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia,'' ungkapnya. Menkes juga mengingatkan, kasus ortopedi merupakan permasalahan yang terus meningkat, baik di negara berkembang maupun di negara maju. ''Ortopedi merupakan kasus yang cukup banyak terjadi di masyarakat kita, dan diperkirakan terus meningkat.'' Direktur rumah sakit tersebut, dr KM Akib Rahman MARS mengatakan, 10 pasien TKR yang dioperasi dalam bakti sosial itu tidak ditarik biaya. Biaya operasi jenis penyakit tersebut umumnya sekitar Rp 20 juta. Adapun gedung rawat jalan yang diresmikan untuk memperlancar pelayanan satu atap, agar kepuasan pelanggan tercapai. (bt-85s) |