logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Desember 2004 SALA
Line

Guru Wiyata Bakti Geruduk Dinas Pendidikan

WONOGIRI- Aksi demo damai, Kamis (9/12), berlangsung di dua tempat di Kabupaten Wonogiri. Pertama, masyarakat peduli pemberdayaan (Malida) menggeruduk Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Kedua, komunitas generasi bangsa (Gerbang) mendatangi Kantor Dinas Pendidikan.

Aksi demo pertama dipimpin koordinator Malida, Anggoro Joko Sulistyo SE yang mendesak agar dilakukan proses ulang perekrutan tenaga fasilitator kelurahan (faskel) Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Sebab, perekrutan dinilai selinthutan. Bahkan meninggalkan asas transparansi, mengabaikan keiikutsertaan relawan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tokoh institusi lokal, serta diwarnai dugaan praktik kolusi dan nepotisme.

Berdasar prinsip dasar program pemberdayaan masyarakat, tegas Anggoro bersama 14 tokoh Malida, suatu program harus berdasarkan pada asas keterbukaan, transparansi, dan setiap tahapan harus diinformasikan pada publik serta pantang ditutup-tutupi. Tetapi realita yang ada sekarang, proses perekrutan fasilitator mengabaikan hal-hal esensial yang disyaratkan di atas. ''Dipasang iklan tapi dalam waktu terbatas, sehingga hanya diakses orang tertentu,'' tandasnya.

Dari 25 fakel yang direkrut, ungkap pendemo, ada lima senior dan 13 faskel eks PKP 2003 yang diduga tanpa melalui proses pendaftaran atau perpanjangan kontrak. Pada tujuh faskel baru, ada titipan anak pejabat dan menantu oknum anggota Dewan.

Kepala Bappeda yang diwakili Drs Haryono menuturkan, instansinya tidak pernah diajak berembuk dalam perekrutan. ''Kami baru diberi tahu setelah ada pengerucutan seleksi pelamar dari 700 menjadi tinggal 28, dan akhirnya yang diterima hanya 21 orang,'' tegas Haryono.

Aksi demo kedua dilakukan para guru wiyata bakti (WB) yang tergabung dalam Forum Gerbang, dipimpin oleh Nur Hendratmo, Warsito, dan Sunanto. Mereka menuntut klarifikasi adanya penundaan pengumuman seleksi guru bantu, juga mempermasalahkan yang lolos seleksi tidak tersebar secara proporsional.

''Banyak yang sudah wiyata bakti lebih 12 tahun tak diterima, tapi kalah dengan yang baru wiyata bakti satu tahun. Bahkan ada satu sekolah lolos lima, tapi di banyak sekolah satu pun tidak diterima,'' ungkap Warsito.

Mereka menuntut disertakan hasil tes secara transparan lengkap dengan proporsi pengolahan nilai terhadap aspek wiyata bakti, usia pelamar, nilai, dan lain-lain. ''Jika terbukti penyaringan dilakukan dengan cara-cara tak wajar, harus dibatalkan. Hasil ujian tak pernah diberitahukan pada kami, tapi tahu-tahu sudah ada pengumuman,'' papar Warsito dan Hendratmo.

Namun aksi demo damai Forum Gerbang dari Kecamatan Baturetno itu, Kamis (9/12), gagal bertemu Kepala Dinas Pendidikan Drs Bambang Eko Sarwono MM, karena yang bersangkutan masih mengikuti kunjungan kerja DPRD ke Bali. ''Tapi lain waktu kami akan datang lagi ke sini,'' ujar Hendratmo sambil menyebutkan bahwa sebelum ke Kantor Dinas Pendidikan Wonogiri, komunitas Forum Gerbang telah lebih dulu menyampaikan tuntutan sama ke Kepala Kantor Dinas Pendidikan Cabang Kecamatan Baturetno, Drs Suratno.(P27-85s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA