| Jumat, 10 Desember 2004 | SALA |
Hujan Deras, Merapi Muntahkan Batu dan PasirCURAH hujan yang cukup tinggi selama beberapa pekan ini, ternyata tidak menimbulkan perubahan status Gunung Merapi. Kondisinya masih aman atau aktif normal. Dengan demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Warga masyarakat di berbagai desa Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali pun tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Mereka masih berkebun, mencari rumput bahkan bercanda ria dengan keluarga di rumah. Namun kondisi yang aktif normal tidak selamanya menjanjikan. Gunung Merapi yang berketinggian sekitar 2.900 meter itu suatu waktu bisa memuntahkan batu dan pasir. Banjir lahar dingin tersebut pernah dibuktikan 25 Januari 2003 dan 26 Februari 2004. Waktu itu curah hujan memang cukup tinggi, dan tidak lama berselang terdengar suara gemuruh dari puncak Gunung Merapi yang disusul longsoran batu dan pasir. ''Karena itu, selama musim penghujan warga di kaki Gunung Merapi harus selalu waspada dan hati-hati. Yang harus diperhatikan setiap turun hujan, jangan sekali-kali berada di ladang atau pinggiran sungai,'' kata pengamat Urusan Gunung Api (UGA), Singat. Tumpukan Material Gunung Merapi yang memuntahkan batu dan pasir, menurut dia, biasanya ditandai curah hujan yang cukup tinggi. Dengan demikian, kondisi gunung yang semula aktif normal tiba-tiba bisa berubah menjadi awas merapi atau tingkat yang paling membahayakan. Bila sudah sampai pada kondisi awas merapi, harus diikuti dengan evakuasi. Dengan kata lain, warga masyarakat yang berada di kaki gunung harus menyingkir dan menjauh dari kawasan Gunung Merapi. Berdasarkan catatan Suara Merdeka, bencana banjir bandang berupa batu dan pasir sejak awal Januari 2003 belum menimbulkan korban jiwa. Sebab batu dan pasir tidak menyentuh permukiman penduduk. Selain itu saat terjadi bencana tak ada warga yang berada di ladang dan pinggiran kali. Banjir batu dan pasir dua kali tersebut menghancurkan ratusan hektare lahan pertanian, mematahkan tiang jembatan Kali Apu, dan menimbulkan kemacetan arus lalu lintas Boyolali-Magelang. Jembatan Kali Apu yang juga berfungsi sebagai dam atau kantong lahar dingin itu sangat membantu sekali menekan dan menghalangi meluasnya batu dan pasir. ''Kalau tidak didam kemungkinan lahar dingin menyentuh permukiman penduduk,'' kata Suhartono, Kepala Desa Klakah, Kecamatan Selo. Menurut Camat Selo Drs Luwarno MM, tumpukan meterial di puncak Gunung Merapi berjumlah sangat banyak. Bahkan mencapai jutaan meter kubik. Bila curah hujan sangat tinggi dan berlangsung terus-menerus, tumpukan material bisa longsor. Kejadian seperti itu yang tidak diinginkan. Maka, setiap memasuki musim penghujan pihaknya terus memantau situasi di kawasan Gunung Merapi. Selain itu, aparat desa diminta memperingatkan warga melalui pengeras suara agar tidak berada di ladang pertanian atau pinggiran kali. Itu semua untuk menghindari muntahan batu dan pasir dari gunung. ''Kalau menyentuh permukiman penduduk, kemungkinannya kecil karena terletak sangat jauh. Tetapi bila longsor batu dan pasir menyentuh Kali Apu dan lahan pertanian di sekitarnya, bisa saja terjadi. Karena itu selama musim penghujan jangan selali-kali berada di tempat yang membahayakan,'' kata Luwarno. (Suti Harjoyo-85s) |