| Jumat, 10 Desember 2004 | SALA |
OP Segera Digelar
BOYOLALI- Pemkab Boyolali segera melakukan operasi pasar, menyusul kelangkaan pupuk dan melonjaknya harga eceran pupuk di pasaran. Operasi pasar (OP) akan dilakukan serentak dan berlangsung di berbagai kecamatan. ''Kami sudah memutuskan secepatnya bulan ini diadakan OP,'' kata Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Boyolali, Ir Mulyatno, kemarin. Sebagai catatan, petani di berbagai desa di Boyolali mengeluhkan kelangkaan pupuk dan kenaikan harganya yang jauh dari pasaran yang ditetapkan PT Pusri. Hal itu diperkuat oleh pengakuan beberapa distributor yang menyatakan tidak memiliki stok pupuk. Dugaan sementara, kelangkaan pupuk berkaitan dengan masa tanam yang berbarengan di berbagai kabupaten. Harga pupuk yang ditetapkan PT Pusri Rp 1.050/kg. Namun di pasaran harga minimal yang ditetapkan penjual Rp 1.100/kg, bahkan ada yang sampai Rp 1.250/kg. Mulyatno mengatakan, kelangkaan pupuk dan melonjaknya harga disebabkan hujan terus-menerus selama beberapa pekan. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, petani beramai-ramai menanam padi. Dampaknya, pupuk yang beredar di pasaran berkurang sehingga harga menjadi naik. Pengecer Berdasarkan rapat antara komisi penyediaan pupuk dan dinas terkait, setiap pengecer diminta hanya melayani satu penyalur. Selama ini penjualan pupuk melalui pasar bebas, sehingga kurang terkontrol. Dengan menggunakan metode satu pengecer satu penyalur maka kelangkaan bisa ditekan. Bila kelangkaan pupuk bisa diatasi, tidak akan terjadi kenaikan harga. Dia mengatakan, penyalur pupuk yang berdomisi di Boyolali selama ini ada satu. Karena itu penyaluran hanya ditangani oleh Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD). Bila banyak penyalur yang berdomisili di Boyolali, kelangkaan pupuk akan bisa diantisipasi. Diperoleh keterangan, jatah pupuk Urea Pril dan SP-36 dari Boyolali diduga dilarikan ke Grobogan. Sebab ketika daerah itu kekurangan barang, terutama SP-36 langsung diambilkan dari persediaan di Boyolali. Bahkan sebagian juga diambilkan dari Kendal. Bila cara seperti itu masih berlangsung, dikhawatirkan kelangkaan pupuk di lereng Merapi tersebut akan terus terjadi. (shj-85s) |