logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Desember 2004 PANTURA
Line

Konferda PGRI

Semua Calon Ketua Mengaku Didukung Ranting

KONfERDA PGRI Kota Pekalongan yang direncanakan 18 Desember 2004 mulai menghangat. Sedikitnya, tiga kandidat sudah menyatakan diri untuk maju menjadi ketua persatuan guru tersebut. Ketiga orang itu adalah Sumali Sudarja SPd MMPd, (Wakil Ketua PGRI Kota Pekalongan), Drs Setyadi (Ketua PGRI Cabang PekalonganTimur) dan Drs Abu Kholid MPd (Kepala SMA Negeri 1 Pekalongan).

Ketiganya kepada Suara Merdeka menyatakan siap untuk menyalonkan menjadi Ketua PGRI periode 2004-2009 dalam konferda 18 Desember mendatang. Bahkan Setyadi dan Sumali sama-sama menyatakan mendapat dukungan dari ranting-ranting di beberapa kecamatan.

Sumali misalnya, mengaku mendapatkan dukungan dari ranting-ranting Cabang Kecamatan Pekalongan Selatan, Pekalongan Barat dan Pekalongan Utara, sedangkan Pekalongan Timur masih ditunggu. "Yang jelas, sudah beberapa personil menyatakan mendukung saya," tegasnya. Dengan demikian, harapannya dalam konferda nanti dapat terpilih menjadi Ketua PGRI.

Dalam karir organisasinya, Sumali merangkak dari bawah di PGRI. Yakni menjadi Ketua Ranting di SMP Negeri Buaran, Sekretaris Cabang Pekalongan Selatan, Kepala Cabang Pekalongan Selatan dan Wakil Ketua PGRI Kota Pekalongan hingga kini.

Dalam bidang pendidikan, lelaki kelahiran 28 Juli 1961 itu pernah menjadi guru inti Bahasa Indonesia se- Karesidenan Pekalongan dan instruktur Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi. Kemudian pernah mendapatkan penghargaan sebagai pemuda pelopor bidang pembangunan pedesaan tingkat propinsi berupa "Taruna Bakti Upapradana" tahun 1990.

Demikian pula Setyadi. Lelaki guru Bahasa Inggris juga mengaku mendapat dukungan dari cabang Selatan. Bahkan dukungan itu cukup kuat dan tidak diragukan lagi. Demikian pula, cabang Pekalongan Timur yang dipimpin dirinya diharapkan juga akan mendukungnya. Demikian pula secara perorangan, juga sudah beberapa guru yang menyakan mendukung dirinya.

Dalam karir organisasi, lelaki kelahiran 8 Agustus 1958 itu kini menjabat ketua PRGI Cabang Pekalongan Timur. Dalam bidang pembelaan hukum, dia dalam kepengurusan PGRI tahun ini benar-benar menjadi penggerak dalam membela guru, sehingga sudah beberapa kasus berhasil diselesaikan.

Dalam organisasi, dia kini juga menjabat wakil ketua lembaga kajian sinergi Pekalongan, Wakil Ketua Komite Perjuangan Perbaikan Kesejahteraan Guru - PGRI Kota Pekalongan, dan PJ Ketua KNPI.

Dari pengalaman kerja, guru SMA Negeri 1 Pekalongan itu, sebelumnya pernah menjadi guru teladan SD tahun 1987 tingkat Kota sebelum dirinya mutasi ke SMA. Kemudian juara dua mengarang guru se Kota Pekalongan tahun 1987. Ketika masih pelajar, Setyadi juga pernah menjadi pelajar teladan kedua sekolah menengah se Kota Pekalongan.

Potensi

Pandangannya terhadap PGRI, Setyadi mengaku, organisasi guru itu terstruktur, satu jalur komando dari pengurus besar sampai ranting. "Sebenarnya, kekuatan PGRI itu sangat besar, mengingat anggotanya mencapai 2500 orang di Kota Pekalongan. Dengan potensi anggota yang banyak, maka menjadi potensi besar jika PGRI akan mengembangkan bidang ekonomi dan bidang-bidang lainnya untuk kesejahteraan anggota," katanya.

Karena itu, kalau nanti terpilih, dia akan berupaya untuk melindungi anggota dan berjuang agar terealisasinya UU guru berkaitan upaya perlindungan hukum bagi guru.

Agar kegiatan organisasinya bisa berjalan lancar, maka upaya mewujudkan gedung PGRI dan gedung pertemuan harus dilakukan. Bahkan kalau perlu, dengan potensi yang besar, bisa mendirikan SMA PGRI.

Tentang kartu anggota, dia juga akan berjuang agar seluruh anggotanya dapat memiliki KTA. Sedangkan untuk kesejahteraan guru, dia akan memperjuangkan dana pensiun (Daspen).

Kandidat lainnya adalah Drs Abu Kholid MPd. Lelaki kelahiran 15 Agustus 1957 itu mengakui di Kota Batik belum menjabat pengurus di PGRI. Namun ketika dirinya bertugas Kabupaten Pekalongan pernah menjabat selama lima tahun kepengurusan PD II PGRI.

Namun Konferda nanti, dia hanya menyatakan siap jika dicalonkan. Tetapi kalau tidak ada yang mendukung, lebih baik tidak akan menyalonkan.

Tentang pandangannya pada PGRI, menurut lelaki yang dinilai berhasil memimpin SMA Negeri 1 Pekalongan itu mengaku kalau menjadi pengurus PGRI, mestinya yang harus diutamakan adalah manfaatnya bagi anggota. "Kalau terpilih menjadi ketua kemudian tidak ada manfaat bagi anggota, percuma saja," katanya.

Bagaimana jika terpilih menjadi ketua dalam Konferda? Abu akan memperjuangkan para guru. Contoh riil, lanjutnya, harus diupayakan guru yang golongannya mentok di golongan IVA agar dapat meningkat. Sebenarnya ada jalan untuk mewujudkan itu. Contoh adalah Drs Suparto MPd (Kepala SMP 1), Toyo (Kepala SD Sampangan), dan dirinya sendiri (Abu Kholid). Sedangkan sekitar ratusan lainnya sudah mentok tidak naik pangkat," katanya. (Trias Purwadi-34)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA