| Jumat, 10 Desember 2004 | PANTURA |
Duduk Berdesak-desakanINGSUTAN seorang siswa SDN 02 Sukoharjo Kandangserang, Kabupaten Pekalongan berhenti setelah berada di bibir bangku yang dia duduki bersama tiga siswa lain. Tangannya yang memegang buku pelajaran diarahkan ke kiri dan kanan mencari cahaya. Pemandangan itu terlihat di ruang tamu berukuran 5 x 6 milik Sumardi (41), satu dari tiga rumah warga yang digunakan untuk belajar siswa SDN 02 Sukoharjo. Ya, sekolah dasar itu ambruk beberapa waktu lalu. Semua ruang sekolah rata dengan tanah setelah diserang angin ribut (SM, 9/12). Karena itu, 62 siswa dari dua kelas hampir sebulan harus belajar di rumah penduduk. Mereka harus duduk berdesakan karena keterbatasan bangku dan sempitnya ruang. Mereka juga mesti membagi konsentrasi belajar karena berada satu ruang dengan kelas berbeda, tanpa dibatasi sekat apa pun. Kepala Desa Sukoharjo Kumpul mengatakan, tidak banyak rumah warga yang mempunyai ruang tamu besar. Karena itu satu ruangan terpaksa dijadikan dua kelas tanpa sekat apa pun. ''Jadi siswa di suatu kelas tidak bisa tidak akan mendengar pelajaran di kelas lain, karena berada dalam satu ruangan,'' ujarnya. Awalnya, Kumpul mengaku khawatir dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) para siswa di desanya. Sebab sebagian besar bangunan sekolah hancur. Namun warga secara gotong royong berinisiatif membuat bangku sekolah dan memperbaiki beberapa yang tidak rusak parah.'' Allhamdulillah KBM tetap berjalan meski siswa duduk mpet-mpetan (berdesakan-red) karena ruangannya sempit,'' tuturnya. Afib (8), siswa kelas I SD 02 Sukoharjo adalah satu dari 220 siswa yang terpaksa mengungsi belajar. Dia hanya mengangguk saat ditanya apakah senang sekolah di rumah penduduk. ''Seneng iso dolanan(senang bisa bermain-red),'' ucapnya. Meski demikian dia mengaku lebih senang belajar di sekolah karena cahayanya lebih terang. '' Neng kene peteng, mpet-mpetan (di sini gelap, berdesakan),'' jawab polos sambil mengusap hidung lalu berlari keluar ruangan. Sementara itu, Anik (11), siswi kelas V mengatakan, dirinya tetap bersemangat sekolah karena ingin pintar. '' Sekolahe kan ambruk, mpet-mpetan ora po-po, sing penting sekolah (sekolahnya kan ambruk, jadi berdesakan tidak apa-apa, yang penting sekolah),'' tuturnya. Dia pun mengaku selalu berdoa agar sekolahnya cepat dibangun. Dia berharap saat naik kelas VI, bangunan sekolah sudah jadi. Alasannya, agar bisa mengikuti tambahan jam pelajaran.''Nek kelas nem ono ujian, nek sekolah durung dadi kan ora iso melu les (kalau kelas enam ada ujian, kalau sekolah belum jadi kan tidak bisa ikut les -red)," celotehnya. Prihatin Para siswa memang tampak tetap gembira dengan kondisi itu. Namun tidak demikian dengan para orang tua. Mereka mengaku prihatin terhadap nasib pendidikan anaknya. Apalagi bisa menyekolahkan anak bagi mereka sudah beruntung. Sekarang sekolah ambruk dan anak-anak harus belajar di rumah warga.'' Menawi sekolahe mboten dibangun-bangun mesakke bocah-bocah sinaune terganggu (jika sekolah tidak cepat dibangun kasihan anak-anak, belajarnya bisa terganggu-red),'' ujar Tinah (39),warga daerah itu. Kepala Sekolah SDN 02 Sukoharjo Takam mengaku, meski jam pelajaran tetap berjalan biasa yaitu pukul 07.30-12.00, kegiatan belajar mengajar tetap tak efektif. Sebab selain kondisi ruang yang tidak memadai, aktivitas penduduk juga menyebabkan para siswa sulit berkonsentrasi. Karena itu, Takam berharap bangunan sekolah tersebut segera diperbaiki. Sebab kini nasib pendidikan 220 siswa SDN 02 Sukoharjo dipertaruhkan. Apalagi sebentar lagi siswa kelas VI akan ujian kenaikan kelas. Namun Takam mengaku hanya mampu berdoa agar para siswanya segera dapat bersekolah seperti sedia kala. Kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui kendaraan membuat masyarakat di desa itu sulit berkomunikasi dengan pihak luar. Karena itu, meski telah dilaporkan ke kecamatan sehari setelah kejadian, baru sebulan kemudian kabar tersebut tiba di instansi terkait di Pemkab Pekalongan di Kajen yang berjarak sekitar 26 km dari kota Kecamatan Kandangserang. (Muhammad Burhan-34i) |