| Jumat, 10 Desember 2004 | PANTURA |
Setelah SDN 02 Sukoharjo AmbrukGuru Mengajar Dua Kelas Berbeda pada Jam yang SamaKAJEN- Setelah sekolah ambruk dan rata dengan tanah, kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN 02 Sukoharjo, Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, tak bisa berjalan efektif seperti biasanya. Sebab, selain harus belajar di rumah warga, seorang guru harus mengajar dua kelas berbeda pada jam yang sama. Kepala Desa SDN 02 Sukoharjo Takam mengatakan, saat ini ada lima guru yang bertugas mengajar di sana, belum termasuk dirinya. Seorang guru tengah tugas belajar di salah satu perguruan tinggi, seorang lainnya tengah prajabatan di Pemkab, sehingga dari tiga guru yang tersisa, masing-masing terpaksa harus mengajar di dua kelas berbeda pada jam pelajaran yang sama. Takam akhirnya harus ikut mengajar untuk membantu mereka. "Satu guru di sini harus bolak-balik mengajar dua kelas pada jam pelajaran yang sama," ujarnya. Meski jumlah gurunya terbatas dan kondisi ruangan yang tidak memadai, KBM tetap berlangsung seperti semula, yaitu dari pukul 07.30 - 12.45. Sejak ambruk, sekolah diliburkan tiga hari untuk menyiapkan tempat pengungsian di tiga rumah warga dan satu madrasah. Setelah itu, KBM kembali dilanjutkan sampai libur memeringati Hari Raya Idul Fitri. Sekolah kembali masuk seperti yang lain, yaitu pada pertengahan November lalu. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan Drs Chumaedi membantah jika Cabang Dinas Pendidikan kecamatan setempat terlambat melaporkan musibah angin ribut yang menyebabkan ambruknya SDN 02 Sukoharjo. "Saya lupa tepatnya tanggal berapa, namun masih dalam bulan puasa saya sudah melaporkan," tegasnya. Namun prinsipnya, kata dia, Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono sudah menyetujui penganggaran untuk memperbaiki gedung sekolah yang ambruk tersebut. "Kami akan berusaha agar secepatnya perbaikan sekolah itu bisa direalisasikan," katanya. Kekurangan Guru Sementara soal guru yang mengajar rangkap pada jam yang sama, Chumaedi yang juga Ketua PGRI Kabupaten Pekalongan itu, mengaku akan secepatnya menyikapi dengan mengumpulkan Kepala Cabang Dinas Kecamatan. "Kami akan minta data sekolah mana saja yang kekurangan guru," ujarnya. Sebenarnya kekurangan guru itu bisa ditambal sulam dengan meroling sekolah di daerah bawah yang kelebihan guru. Namun, secara geografis maupun psikologis, guru yang bersangkutan bisa memunculkan masalah. Untuk itu, kata dia, Diknas akan memakai jalan lain yaitu dengan memprioritaskan penempataan CPNS yang akan datang pada sekolah yang memang kekurangan guru. "Sekolah yang kekurangan guru seperti SDN 02 Sukoharjo akan mendapat pertimbangan," katanya. Seperti diberitakan kemarin (Suara Merdeka, 9/12), sebanyak 220 siswa SDN 02 Sukoharjo, Kandangserang, terpaksa belajar di rumah penduduk karena sekolahnya ambruk akibat serbuan angin ribut. (G16-74) |