| Jumat, 10 Desember 2004 | NASIONAL |
Kehidupan Para Pemeran "Bajaj Bajuri" (3-Habis)"Aku Juga Playgirl Waktu Kuliah Dulu"MPOK Hindun digambarkan sebagai istri yang mempunyai suami playboy. Makanya dia sendiri pun kemudian ikutan menjadi playgirl alias genit. Dia adalah orang Jawa Tengah yang sudah menjadi Betawi tapi masih keceplosan bilang "yo wis", cerewet, punya suami sopir truk luar kota (makanya agak genit). Dia juga pencemburu, biang gosip, hobi tanaman dan selalu jadi sasaran kemarahan. Kata-katanya yang paling menakutkan adalah "tak bacok" sambil memegang parang di tangannya, berlari mengejar sang sasaran sambil setengah mengangkat kainnya. ''Aku yo sok kemayu sok ora. Tergantung situasinya. Memang ada sebagian karakter Mpok Hindun yang ada di aku, antara lain ya kemayu-nya itu. He he he, aku juga playgirl waktu kuliah dulu. Tapi kalau sifatnya yang jelek-jelek seperti dengki gitu, aku nggak lho,'' tutur Tuti Hestuti, pemeran Mpok Hindun. Tuti sendiri sebelum besar sebagai Mpok Hindun sudah cukup lama malang melintang di dunia akting. ''Aku mulai main sinetron pada 1992. Sebelumnya aku murid Mas WS Rendra, jadi ikutan Bengkel Teater sejak 1980-an. Waktu itu masih kuliah di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Jadi bolak-balik Jakarta-Yogya untuk pentas,'' katanya mengawali cerita. Setelah memutuskan pindah ke Jakarta, jam terbang Tuti pun makin banyak. Ia tidak hanya main bersama Bengkel Teater, tetapi juga bermain film layar lebar dan sinetron. ''Waktu itu aku main film dokumenter kerja sama Belanda dan Belgia. Sinetron antara lain Buku Harian, main bareng Desy Ratnasari dan Meriam Bellina,'' tuturnya. Ngobrol dengan Tuti memang langsung mengingatkan kita pada sosok Mpok Hindun. Tuti orang yang sangat "ramai", kalau ngomong ceplas-ceplos dan tanpa titik-koma. Ia juga sosok yang sangat gampang akrab dengan siapapun. Tak heran kalau dia sempat dijuluki playgirl semasa kuliah. ''Waktu teman-temanku lihat peranku sebagai Mpok Hindun, waduh komentar mereka langsung deh. Wah itu sih memang benar-benar kamu banget. Ada lagi yang bilang, bakat playgirl-nya jadi tersalur. Wis pokoke puersis. Cuma aku bilang sih, ya nggak persis-persis amat. Masa sih aku tuh kayak Mpok Hindun gitu,'' katanya lagi panjang. Tapi yang jelas, sekarang namanya sendiri jadi hilang. ''Semua orang jadi panggil aku Mpok Hindun. Aku sendiri suka lupa sama namaku sendiri. Pernah aku dipanggil Tuti, nggak nyahut. He he he, ternyata akunya sendiri sampai lupa namaku sebenarnya kan Tuti. Para kru dan pemain pun kita saling memanggil dengan nama peran kita masing-masing. Sampai Mas Aris, sutradaranya pun suka menggunakan kata-kata yang keluar dari mulutku,'' kisahnya. Salah satunya adalah kalimat sakti Mpok Hindun, "tak bacok" tadi. ''Aku suka bilang sama Mas Aris. Lho Mas ini kan kalimatku. Aku memang dari dulu suka ngomong gitu. Mungkin karena logatku Jawa Timur, karena aku memang lahir dan besar di sana, jadi kedengarannya kok enak barangkali ya. Jadi terus dipakai di skenario,'' ceritanya. Bengkel Teater Tuti sendiri mulai bergabung dengan Bengkel Teater, ketika ia mengalami sebuah peristiwa yang mengguncang jiwanya. ''Antara lain Eyangku meninggal, juga ditinggal pacar. Untuk melupakan kesedihan, aku kumpul-kumpul di Bengkel Teater. Eh keterusan sampai sekarang. Jadinya kuliahku nggak selesai,'' tutur anak tunggal itu. Karena anak tunggal pula, Tuti terbiasa diujo oleh kedua orangtuanya. ''Aku maunya kalau sekolah di sekolah yang bagus. Waktu itu sekolah ku dari TK sampai perguruan tinggi di sekolah Katolik. SMP Materdei, terus aku pindah ke Solo ikut Eyang sekolah di SMA Ursulin. Eyangku kan dari Solo,'' katanya kemayu. Peran Mpok Hindun didapat Tuti ketika kru Bajaj Bajuri datang ke markas Bengkel Teater untuk meminta Tuti memerankan karakter Hindun. Ternyata peran itu sangat pas buat dia. Hingga semua orang kini memanggilnya Hindun. ''Iya nih aku kok jadi kehindun-hindunan,'' katanya centil. Tuti mengakui ia memang dikenal teman-temannya sebagai gadis yang menthel. Tetapi karakter itu ternyata melekat kuat di benak Aris Nugraha, sang sutradara, sampai kemudian menginspirasinya membuat sinetron Tante Tuti. ''Awalnya kan keponakanku datang, manggil aku Tante Tuti, terus Mas Aris kepikiran bikin sinetron Tante Tuti itu,'' ungkapnya. Bosan nggak sih tiga tahun memerankan sosok yang sama. ''Memang kadang ingin mendapat peran yang lain, dulu aku memang masih sempat mencari peran lain. Tapi semua peran yang kudapat pasti yang karakternya edan gitu, yang jadi pecandu narkoba, germo. Tapi sekarang ini kalau nggak ketemu sama kru malah aku jadi kangen,'' paparnya. Bertolak Belakang Kalau karakter Mpok Hindun genit, biang gosip, berbeda dengan karakter Mpok Minah yang pendiam. Janda beranak satu ini punya usaha terima jahitan, tertekan dengan adanya Emak tapi kerap main ke rumahnya, terutama untuk meminjam peralatan dapur. Dia selalu memulai ucapan dengan kata "maaf" karena takut menyakiti hati orang lain. Mpok Minak orang yang sangat penakut, takut salah, takut membuat perasaan orang lain terluka. ''Kalau dibandingkan, kayaknya justru karakter saya bertolak belakang dengan karakter Mpok Minah,'' buka Lesly Setyowati, pemeran Mpok Minah. ''Saya orang yang pemberani, sangat pemberani malah dan cenderung nekat,'' tutur Lesly yang tutur katanya cukup halus. Tak jauh dari tutur kata Mpok Minah yang selalu berhati-hati memilih kata-kata. Berbeda dengan Tuti yang sejak remaja sudah bergelut di dunia teater dan menimba ilmu dari Rendra, Lesly mengaku apa yang dimilikinya adalah semata-mata bakat alam. ''Kebetulan tersalur di Bajaj Bajuri ini. Saya mendapat karakter yang cocok untuk saya. Saya tidak pernah belajar atau kursus atau ikut pendidikan akting. Semua otodidak, mengalir begitu saja. Alhamdulillah karunia dari Allah,'' katanya . Kalau masalah pemberani, Lesly memang tidak pernah punya perasaan takut. ''Terus terang saya tidak punya rasa takut seperti yang dimiliki Mpok Minah itu. Baik dalam hal menghadapi orang, pergi sendiri sampai tengah malam, sampai pada yang namanya setan. Saya kok nggak ada takut-takutnya,'' urainya kemudian. Peran Mpok Minah memang yang terbesar yang pernah didapatnya selama ini. ''Sebelumnya saya pernah berperan sebagai bidan, jadi ibu kos yang galak, terus sekarang Mpok Minah. Selain itu sekarang juga sudah tayang sinetron saya yang baru di TV-7, judulnya Rani dan Teman Ajaib. Di situ saya berperan sebagai Simbok yang mengasuh Rani yang hanya tinggal dengan bapaknya,'' ceritanya. Diakuinya sejak berperan sebagai Mpok Minah, banyak tawaran datang padanya. ''Memang sejak main di Bajaj Bajuri, saya mendapat banyak tawaran ada sinetron, film layar lebar. Tapi ya maaf saja, semua saya tolak. Saya sudah tua, sudah nggak kuat lagi harus main di dua atau tiga produksi. Harus lari-lari kesana kemari. Sudah nggak kuat lagi begitu. Jadi ya sudah saya cukup di Bajaj Bajuri saja. Ini juga kan setiap hari syuting dari pagi sampai malam, pulang-pulang sudah capek,'' tutur Lesly yang sejak kecil memang sudah banyak bergelut dengan dunia kesenian. ''Sejak masih sekolah saya memang banyak ikut aktivitas kesenian, sudah sering manggung gitu. Tapi ya terus terang bakat berkesenian ini memang kurang tersalur waktu masih muda dulu. Baru sekarang mendapat jalan menyalurkan bakat ini, setelah sudah tua,'' paparnya. (tn-81) |